Bang, sewaktu di kantor teman saya bercerita kalo ia mengikuti pengajian yg. bisa menyembuhkan atau membuat seseorang lebih tenang dgn. cara membuka karakter orang tsb. menggunakan al-Quran dan Juz dari sifat atau karakter orang tsb. dan tidak boleh berhenti untuk sesuatu hal, bila itu terjadi maka kita harus mengulanginya lagi , saya memang blm. pernah mengikutinya walaupun sempat diajak berulang kali. Pertanyaan saya apakah Nabi saw. pernah mengerjakan hal ini dan pengertiannya.jazakallah khairan katsira. wasslamu’alaikum Faiz <faizqu@gmail.com>
Jawab:
Wa’alaikum salam Wr.Wb. Akhir2 ini memang banyak cara2 atau metode yang dibuat-buat untuk memahami Al-Quran atau juga untuk memahami Islam, sesuai dengan niat atau tujuan dari orang yang membuat cara2 tersebut.
Pertamakali yang perlu Anda ketahui, bahwa di dunia Islam ini ada 4 (empat) tujuan atau motivasi atau aliran dalam beragama. Pertama, mencari ketenangan. Dan biasanya orang2 yang mencari ketenangan dalam beragama akan mencari figur2 atau tokoh yang dianggapnya bisa membuat dirinya tenteram, tenang dan nyaman.
Namun, bila ternyata tokoh idolanya melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan kemauannya, ia pun segera mencela, menghujat, memaki-maki sang tokoh idola. Ini yang terjadi pada Aa Gym, ketika dia kawin lagi (poligami). Kedua, orang yang cari uang. Artinya agama buat dia adalah alat untuk mencari uang.
Dan biasanya orang2 yang mencari uang dengan agama, berusaha menonjol-nonjolkan dirinya sebagi ustadz, kiyai, ahli pengobatan, ahli ruqyah atau apa saja yang bisa menarik orang lain menjadipengikut. Nah, biasanya antara golongan pertama yaitu para pencari ketenangan dan golongan kedua yaitu para pencari uang terjadi titik temu dan saling memanfaatkan (simbiosis mutualis), yang satu mencari figur agar bisa mendapat ketenangan; dan yang lain menjadikan dirinya figur supaya dapat pengikut dan uang. Ketiga, mencari pembenaran.
Artinya agama dijadikan alat untuk membenarkan segala tindakannya. Contohnya para pelaku teror bom yang beralasan dengan ayat2 jihad, memerangi Amerika-lah, orang2 kafir-lah. Ketika dikatakan kepadanya bahwa akibat teror bom itu banyak orang2 Islam yang jadi korban, maka dengan enteng dia menjawab: “Siapa suruh mereka (orang2 Islam itu) ada disitu?”. Atau mereka dengan tenang berkata: “Kami tidak berniat membunuh orang2 Islam yang ada di situ, niat kami memerangi Amerika”. Mereka lupa bahwa di dalam ajaran Islam antara niat dan tindakan harus sejalan. Orang yang korupsi dengan niat shadaqah tidak diterima sebagaimana sabda Nabi saw. “La Yaqbalullahu Shadaqatan Min Ghulul” .Artinya: “Allah tidak akan menerima shadaqah dari — harta — korupsi”.
Syaikh ‘Utsaimin (rahimahullah) telah memberi peringatan cara beragama seperti ini, yaitu “mencari pembenaran”, beliau berkata: “Laa Ta’taqid Tsumma Tastadil, Fa Tadhill..” Artinya: “Janganlah engkau meyakini sesuatu lalu mencari-cari dalil — untuk membenarkannya –; karena cara2 semacam itu akan membuat-mu tersesat”. Ke-empat, mencari kebenaran. Yaitu orang2 yang selalu mencari kebenaran dengan cara selalu mengkaji ilmu agama. Dalam hal ini para ‘ulama telah menetapkan sebuah prinsip: “Fa ‘Alaika An Ta’rifal-Haqqa Bi Dalilih, La Bi Qa-ilih”. Artinya: “Wajib bagi-mu untuk mengetahui kebenaran berdasarkan dalilnya, bukan berdasarkan orang yang mengatakannya”.
Atau sebagaimana dikatakan oleh Syaikh ‘Utsaimin: ” Istadil Tsumma’Taqid”. Artinya: “Kaji dalilnya lalu yakini”. Dan dengan 4 (empat) patokan ini, rasanya tidak terlalu sulit bagi Anda untuk menetapkan setiap aliran berada di jalur yang mana: Cari tenang, cari uang, cari pembenaran atau cari kebenaran? Dan secara tegas pertanyaan Anda di atas saya jawab: Nabi saw. tidak pernah melakukan atau mengajarkan metode seperti itu.
