Assalaamu’alaykum Bang Debby, Saya baru saja dapat email yang isinya tentang cerita berikut: Rasulullah SAW, dengan sahabatnya Abu bakar ra, Umar ra, Utsman ra dan Ali ra, bertamu ke rumah Ali ra. Di rumah Ali ra, istrinya Fatimah r.a. dan putri Rasulullah SAW menghidangkan mereka madu yang diletakkan didalam sebuah mangkuk yang cantik, dan ketika semangkuk madu itu dihidangkan, sehelai rambut terikut didalamnya. Rasulullah SAW kemudian meminta semua sahabatnya untuk membuat perbandingan terhadap ketiga benda tersebut (mangkuk yang cantik, madu dan sehelai rambut). Abu bakar r.a. berkata,Iman itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini; Orang yang beriman itu lebih manis dari madu; dan; Mempertahankan iman itu lebih sulit dari menjaga / meniti sehelai rambut ini. Umar r.a. berkata, Kerajaan itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, seorang raja itu lebih manis dari madu, dan memerintah dengan adil itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut ini. Utsman r.a. berkata, ilmu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, menuntut ilmu lebih manis dari madu, dan beramal dengan ilmu yang dimiliki lebih sulit dari meniti sehelai rambut ini … dst. Apakah ini bener hadits, Bang? Jazakallah khayr. Fifi
Fifi Arif<fifi@asean.org>
Jawab:
Wa’alaikum salam W.Wr. Saya tidak tahu dan baru membaca hadits ini, dan sayangnya tidak disebut siapa yang meriwayatkannya, jadi setiap hadits yang tidak disebut siapa yang meriwayatkan,maka harus ditolak tidak usah diperdullikan.
Khususnya hadits yang Anda tanyakan ini, kalau saya perhatikan redaksinya sungguh aneh, dan saya tidak pernah menjumpainya di Kutubus-Sittah (Kitab Yang Enam, yaitu Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa-i dan Ibnu Majah); dan juga di beberapa kitab himpunan hadits lain seperti “Fathul-Kabir” susunan Syaikh Al-Albani yang memuat hadits2 shahih dari kitab “Jami’ush-Shaghir” berjumlah 3 jilid, dan juga “Silsilatul-Ahaditsush-Shahihah” (Silsilah Hadist2 Shahih) juga susunan beliau, berjumlah 5 jilid.
Nah, sikap kita sebagai muslim adalah menolak setiap hadits yang tidak jelas asal-usulnya, seperti hadits yang Anda tanyakan ini, supaya kita tidak terjerumus ke dalam perbuatan dusta atas nama Rasulullah saw. karena perbuatan itu sangat besar dosanya, sebagaimana sabda Rasulullah saw.: (Man Kadzdzaba ‘Alayya Muta’ammidan Fal-Yatabawwa’ Maq’adahu Minan-Nar) Artinya: “Siapa-saja yang berbuat dusta atas — nama — aku dengan sengaja (maksudnya: mengatakan sesuatu yang tidak diucapkan Rasulullah saw. lalu ia katakan bahwa itu ucapan Beliau), maka silahkan ia mengambil tempatnya di Neraka” (H.R. Muslim).
Inilah ancaman bagi siapa-saja yang suka menyampaikan hadits2 yang tidak jelas asal-usulnya, seperti sering dilakukan oleh sebagian orang akhir2 ini. Mudah2an mereka segera sadar dan meninggalkan perbuatan dosa besar tersebut.

August 27th, 2009 at 7:05 pm
Jazakumullah khayran Bang atas jawaban untuk pertanyaan saya. Saya juga merasa aneh waktu baca cerita tersebut terutama pada bagian Umar. Saya juga sudah mengingatkan teman saya untuk tidak menyebarkan so-called hadits kalau gak ada perawinya/ gak jelas asal-usulnya. Hanya saja, saya merasa harus menanyakan ke Bang Debby yang punya referensi yang banyak, supaya saya bisa menyampaikan ke teman saya jawaban yang lebih tuntas dan bertanggung jawab seperti jawaban Bang Debby. Bang Debby benar sekali kalau sekarang ini banyak yang menyebarkan sesuatu yang dianggap hadits padahal perawi pun gak disebut. Misalnya pada bulan Rajab tahun ini, ada teman kantor saya yang nyebarin ‘hadits’ puasa-puasa sunnah di bulang Rajab dan keutamaannya (yang sepertinya lebih daripada bulan Ramadhan). Akibatnya banyak temen saya yang puasa, beberapa bahkan sampai delapan hari! Wassalam, Fifi