Bang, bagaimana pandangan Islam tentang hidup berumah tangga satu atap dengan mertua? Karena disitu masih ada campur tangan orang lain(mertua) dalam pendidikan tumbuh kembang anak. Karena bukankah sebuah kewajiban harusnya bapak si anak yang mesti memberi karakter dan pilihan pendidikan buat anaknya. Terima kasih.
Jawab:
Sebetulnya dalam Islam tidak ada aturan yang melarang atau menganjurkan hidup berumah tangga satu atap dengan mertua. Yang jadi pertimbangan adalah bisa atau tidaknya saling menghargai antara mantu dengan mertua sesuai dengan hak dan kewajiban masing2, dan kuncinya adalah komunikasi. Rasulullah saw. bersabda (yang artinya): ”Siapa-saja yang mengaku beriman kepada Allah dan Hari Akhirat hendaklah ia berbicara dengan baik atau lebih baik diam” (H.R. Al-Bukhari)
Hadits ini merupakan perintah bagi setiap muslim untuk membangun komunikasi yang sehat dengan siapa-saja, yaitu dengan berbicara yang baik atau diam. Demikian juga halnya antara mantu dengan mertua. Kemudian dilanjutkan dengan membangun sikap saling menghormat dan menyayangi, sebagaimana sabda Rasulullah saw. (yang artinya): ”Bukan golongan kami, orang yang tidak bisa menghormat lebih yang tua dan menyayangi yang lebih muda” .
Namun, bagi sebagian orang soal ini sulit dilakukan jika tinggal satu atap dengan mertua, karena sering terjadi kesalah pahaman yang acap kali memicu konflik. Jadi, jika diprediksi potensi konflik antara dua belah pihak lebih besar daripada sinergy, maka sebaiknya jangan tinggal satu atap dengan mertua. Dan Anda benar, bahwa kewajiban bapak terhadap anaknya adalah membangun karakter yang Islami tentunya dengan memilih pendidikan atau sekolah yang tepat. Dan mertua dalam hal ini tidak dibenarkan melakukan campur tangan apalagi sampai mengintervensi. Namun, sebatas memberi masukan atau saran tentu saja boleh, dan mantu seharusnya memperhatikan dan menghargai masukan yang diberikan mertua.
