Konsekwensi doa 1

Setiap do’a atau permintaan mempunyai konsekwensi berupa ikhtiyar dan upaya yang sungguh-sungguh untuk mewujudkannya menjadi kenyataan. Ada 4 (empat) hal yang harus diperhatikan dan diimplementasikan untuk mewujudkan do’a ini menjadi kenyataan :

Pertama : Ilmu

Masalah ini telah dibahas dalam judul : ‘Ilmun Nâfi’, namun di sini akan di bahas dalam konteks yang lebih khusus sebagai syarat utama mencapai “Hasanah Fîd Dun-yâ” atau “Kebahagiaan di Dunia”.
Adapun yang dimaksud ilmu di sini ialah keahlian atau ketrampilan yang cukup memadai yang membuat seseorang menjadi profesional dalam istilah sekarang.

Para ‘Ulama Salaf telah sepakat bahwa ilmu atau keahlian — di dalam segala masalah — harus didahulukan dan diutamakan sebelum mengeluarkan ucapan atau melakukan tindakan. Al-Imâm Al-Bukhrî (rahimahullâh) telah menyebutkan hal ini dalam Kitab Shahîhnya yang terkenal, beliau berkata :

“Ilmu itu — harus didahulukan — sebelum ucapan dan perbuatan……”.

Jadi, tidak dibenarkan bagi kaum Muslimîn untuk mengucapkan atau melakukan sesuatu tanpa landasan ilmu atau keahlian, karena hal semacam itu tidak dibenarkan, bahkan dilarang Allâh SWT., sebagaimana firman-Nya :

“Dan janganlah engkau mengikuti apa saja yang engkau tidak mempunyai ilmu (pengetahuan) tentangnya”.
(Surah Al-Isrâ’ (17) : 36)

Oleh karena itu, setiap muslim wajib berusaha sekuatnya untuk memiliki dan menguasai ilmu pengetahuan yang bermanfa’at — terutama yang sesuai dengan bakatnya — untuk menunjang kehidupannya di dunia dan selanjutnya untuk mewujudkan “Hasanah Fîd-Dun-yâ”, sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat :

“Siapa yang ingin –kebahagiaan — di dunia, maka ia wajib menguasai ilmunya”.

Dan masih banyak lagi dalil-dalil yang menegaskan pentingnya ilmu pengetahuan atau keahlian sebagai syarat utama meraih kesuksesan serta mencapai “Hasanah Fîd- Dun-yâ” atau Kebahagiaan di Dunia, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
Dan juga telah dijelaskan sebelumnya bahwa ilmu pengetahuan hanya bisa diperoleh dengan belajar, sebagaiman sabda Rasûlullâh saw. :

“Wahai manusia, sesungguhnya ilmu itu hanya diperoleh dengan belajar……….”.
(H.R. Ath-Thabrânî. Lihat Al-Ahâdîtsush-Shahîhah oleh Asy-Syaikh Al-Albânî juz III no. 342 pada hal. 61 sebagai syâhid)

Kedua : Berusaha Atau Bekerja Dengan Tekun Dan Baik

Masalah ini pun telah di bahas dalam judul ‘Amalun Shâlih. Namun, konteks pembahasannya di sini ialah sebagai syarat berikutnya untuk meraih “Hasanah Fîd-Dun-yâ”. Rasûlullâh saw. telah bersabda mengenai hal ini :

“Bersungguh-sungguhlah kalian dalam mencari dunia, karena masing-masing akan dimudahkan untuk mendapatkan apa yang telah ditulis untuknya daripadanya (dunia)”.
(H.R. Ibnu Mâjah, Al-Hâkim, Ath-Thabrânî dan Al-Baihqî. Lihat Fathul-Kabîr juz I hal. 106 no. 155)

Hadits ini dimulai dengan kata kerja perintah (fi’il amr), yaitu : “Ajmilû” yang berasal dari kata Ajmala. Kemudian diteruskan dengan kata “Fî Thalab”. Menurut para ahli lughah (bahasa), susunan seperti ini mempunyai arti :

“Istiqamah (tekun) dan tidak melalaikan”.

Jadi, hadits ini memerintahkan setiap kaum Muslimîn untuk senantiasa bersikap istiqamah atau tekun serta tidak melalaikan syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam mencari keberhasilan dan kesenangan di dunia. Kemudian Rasûlullâh saw. menerangkan — dalam hadits itu –, bahwa masing-masing orang akan diberi kemudahan untuk mendapatkan bagian rezeki di dunia sesuai dengan apa yang telah ditulis atau ditetapkan Allâh baginya, yaitu dengan sikap tekun dalam berusaha dan tidak melalaikan syarat-syarat yang harus dipenuhi, di antaranya ialah bekerja dengan sebaik-baiknya, tidak asal-asalan, sembarangan dan semberono, sebagaimana sabda Rasûlullâh saw. :

“Allâh menyukai seorang pekerja yang apabila bekerja, ia selalu — bekerja — dengan sebaik-baiknya”.
(H.R. Ath-Thabrânî. Lihat Fathul-Kabîr juz VI hal. 326 no. 7893)

Dan Islâm memandang “bekerja” atau “berusaha” untuk memenuhi kebutuhan keluarga atau kebutuhan pribadi sebagai sebuah jihad “Fî Sabîlillâh” dalam bentuk yang lain, sebagaimana sabda Rasûlullâh saw. :

“Barang-siapa yang bekerja untuk kedua orang-tuanya, maka ia berada di jalan Allâh, barang-siapa bekerja untuk keluarganya, maka ia berada di jalan Allâh, dan barang-siapa yang bekerja untuk dirinya, yaitu agar ia terjaga (terhormat), maka ia berada di jalan Allâh, Dan barang-siapa yang bekerja untuk menumpuk harta, maka ia berada di jalan thâghût atau di jalan syaithân”.
(Dikeluarkan oleh Al-Bazzâr, Abû Nu’aim dan Ash-Bahânî.Lihat Al-Ahâdîtsush-Shahîhah oleh Asy-Syaikh Al-Albânî juz V hal. 272 no. 2232)

Hadits secara jelas menyebutkan 3 (tiga) motivasi yang membuat sebuah usaha atau pekerjaan mempunyai nilai “Sabîlillâh”, yaitu : Bekerja atau berusaha untuk menghidupi kedua orang-tua, menghidupi keluarga dan memelihara kehormatan atau harga diri, yaitu agar tidak menjadi beban bagi orang lain. Dan pada pembahasan sebelumnya telah dijelaskan, bahwa Islâm memandang bekerja atau berusaha sebagai konsekwensi dari penciptaan langit dan bumi serta kehidupan dan kematian.

Ketiga : Berdo’a Atau Minta Pertolongan Kepada Allâh

Di samping melakukan usaha dengan tekun, Islâm juga mewajibkan setiap muslim untuk berdo’a kepada Allâh untuk mendapatkan keberhasilan dalam usahanya, sebagaimana sabda Rasûlullâh saw. :

“Seorang mu’min yang kuat, lebih baik dan lebih disukai Allâh daripada seorang mu’min yang lemah. Namun, masing-masing memiliki kebaikan. Curahkanlah seluruh tenaga dan kekuatan-mu untuk mendapatkan apa saja yang bermanfa’at bagi-mu, serta mintalah pertolongan kepada Allâh — untuk memperolehnya — dan jangan sekali-kali engkau bersikap lemah (putus-asa)…………..”.
(H.R. Muslim. Lihat Ushûlul-Imân hal. 20-21)

Hadits ini dimulai dengan pemberitaan bahwa seorang mu’min yang kuat dalam berikhtiyar dan berusaha, lebih disukai Allâh daripada seorang mu’min yang lemah, namun, kedua-duanya tetap memiliki kebaikan. Kemudian dilanjutkan dengan perintah “curahkanlah seluruh tenaga dan kekuatan-mu untuk meraih apa saja yang bermanfa’at”.

As-Asy-Syaikh ‘Abdur-Rahmân bin Hasan mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “apa saja yang bermanfa’at” ialah “yang bermanfa’at bagi kehidupan di dunia dan di akhirat”. Jadi, maksud hadits ini menurut beliau ialah : “kerahkankan seluruh kemampuan untuk melakukan berbagai upaya yang mendatangkan manfa’at di dunia dan di akhirat”, sebagaimana telah disyari’atkan Allâh SWT. terhadap hamba-hamba-Nya. Baik dengan menjalankan hal yang wajib, mustahab maupun yang mubah. Dan dalam melakukan berbagai usaha itu, hendaklah ia berdo’a minta bantuan kepada Allâh semata, agar Allâh menyempurnakan usahanya dan memberikan manfa’at kepadanya. Dan hendaklah ia senantiasa bersandar kepada Allâh SWT., karena sesungguhnya Dia-lah yang menciptakan sebab dan musabab dan segala usaha tidak akan mendatangkan manfa’at kecuali dengan kehendak Allâh. Dengan begitu, ia telah menyandarkan segala usahanya kepada Allâh SWT. Menjalankan usaha adalah suatu keharusan, dan bertawakal kepada Allâh adalah sikap bertauhîd. Maka, jika ia telah berhasil menggabungkan kedua hal tersebut — yaitu: berusaha dan bertawakal –, akan tercapailah segala tujuannya dengan izin Allâh”.

Kemudian dilanjutkan (hadits) dengan larangan : “jangan engkau bersikap lemah”. Rasûlullâh saw. melarang dan mencela sikap lemah, karena sikap lemah memang tercela menurut ‘aqal dan syara’.
(Lihat Fathul-Majîd Syarhu Kitâbut-Tauhîd oleh As-Asy-Syaikh ‘Abdur-Rahmân bin Hasan hal. 474).

Yang dimaksud dengan sikap lemah di sini ialah lemahnya kemauan atau putus-asa dalam melakukan usaha-usaha yang dapat menghasilkan manfa’at tersebut.

Keempat : Sabar Menerima Taqdir

Taqdir atau Qadar — yang baik dan buruk — merupakan ketetapan Allâh yang tertulis yang wajib dipercaya atau berimân kepadanya, karena ia termasuk salah satu dari rukun imân. Jadi, dalam melakukan usaha, seorang mu’min harus siap menerima taqdir atau ketetapan Allâh, yaitu : “kegagalan”.

Rasûlullâh saw. telah mengajarkan sikap yang benar dalam menerima taqdir semacam itu, Beliau bersabda (dalam kelanjutan hadits) :

“Maka jika sesuatu — yang tidak engkau sukai — menimpa pada-mu, janganlah engkau berkata : “Seandainya aku berbuat begini niscaya jadi begini”. Akan tetapi katakanlah: “Qadar Allâh, dan Dia melakukan apa yang dikehendaki-Nya”. Karena, dengan berandai-andai engkau membuka — peluang — bagi syaithân.”
(H.R. Muslim. Lihat Ushûlul-Imân hal. 20-21)

Hadits ini mengajarkan sikap teguh, tawakal dan bersabar bila mengalami mushibah atau kegagalan dalam usaha. Dan jangan mengeluarkan ucapan yang mengandung penyesalan, karena sikap yang seperti itu memberi peluang bagi syaithân untuk masuk.
As-Asy-Syaikh ‘Abdur-Rahmân bin Hasan mengatakan bahwa dilarangnya ” berandai-andai”, karena di dalamnya terkandung rasa sesal terhadap kegagalan, dan juga keluh-kesah serta celaan terhadap taqdir. Dan itu — merupakan pengaruh syaithân — yang menyebabkan hilangnya kesabaran dan kerelaan, padahal bersabar itu wajib hukumnya, sedangkan percaya dengan qadar (taqdir) adalah suatu keharusan. Allâh SWT. berfirman — mengenai qadar — :

“Tidak terjadi suatu mushibah di bumi atau pada diri kalian melainkan tercatat dalam kitab sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya demikian itu adalah mudah bagi Allâh”.
(Surah Al-Hadîd (57) : 22)
(Lihat Fathul-Majîd Syarhu Kitâbut-Tauhîd oleh As-Asy-Syaikh ‘Abdur-Rahmân bin Hasan hal. 475)

Ayat ini menegaskan bahwa mushibah yang terjadi di bumi atau yang menimpa diri seseorang merupakan qadar atau taqdir yang telah ditulis Allâh jauh dari sebelum terjadinya. Ditegaskan juga diakhir ayat bahwa menetapkan atau mengatur hal yang seperti demikian itu sama-sekali tidak sulit bagi Allâh.

Kemudian di ayat berikutnya dijelaskan hikmah atau tujuan diciptakannya taqdir yang baik maupun yang buruk oleh Allâh SWT. :

“Supaya kalian tidak berputus-asa (berduka) terhadap apa yang luput dari kalian, dan supaya kalian tidak terlalu bergembira terhadap apa yang Dia berikan kepada kalian. Dan Allâh tidak menyukai orang yang sombong lagi membanggakan diri”.
(Surah Al-Hadîd (57) : 23)

Jadi, hikmah atau faedah taqdir menurut ayat ini ialah agar manusia tidak berputus-asa terhadap kegagalan dalam berusaha, karena — dengan meng-imâni taqdir — ia menyadari sepenuhnya bahwa kegagalan itu merupakan ketentuan Allâh SWT. Begitu-pula bila ia mendapatkan keberhasilan atau kesuksesan dalam usahanya, ia tidak akan lupa diri, karena ia pun menyadari bahwa itu pun merupakan ketentuan Allâh juga.

Kesadaran ini akan menumbuhkan kesabaran dalam hati, dan sikap sabar inilah yang akan menempa keimânan menjadi semakin kuat dan mantap. Amîrul-Mu’minîn ‘Alî bin Abî Thâlib berkata :

“(Kedudukkan) sabar bagi keimânan seperti kedudukan kepala bagi tubuh”.
(Lihat Fathul-Majîd Syarhu Kitâbut-Tauhîd oleh As-Asy-Syaikh ‘Abdur-Rahmân bin Hasan hal. 475)

Jadi, sabar adalah puncak tertinggi dari keimânan, tidak sempurna imân tanpa sabar, sebagaimana tidak sempurna tubuh (manusia) tanpa kepala. Al-Imâm Ahmad bin Hanbal pernah berkata :

“Allâh telah menyebutkan masalah sabar di 90 tempat dalam Al-Qur-ân”.
(Lihat Fathul-Majîd Syarhu Kitâbut-Tauhîd oleh As-Asy-Syaikh ‘Abdur-Rahmân bin Hasan hal. 475)

Inilah yang harus dijalankan oleh setiap mu’min untuk mewujudkan “Hasanah Fîd-Dun-yâ” atau “Kebahagiaan di Dunia”, sebagai konsekwensi do’anya kepada Allâh.
(Wallâhu A’lam)

Ditulis pada 09 April 2009

Tinggalkan Pesan

DVD TUTORIAL

VIDEO KEGIATAN ASIISC

Waktu Sholat

    Waktu Sholat hari ini di
    ....

Galery Kegiatan

Jadwal dan Kegiatan

UPDATE :
Pengajian Mingguan:
- Sabtu, Jam 10.00 - selesai (Lokasi: Sekolah Al-Ikhlash, Jl. Raya Cipete III No. 12-13 Jakarta Selatan, DKI Jakarta)

- Minggu, Jam 08.00 - selesai (Sawangan Permai Blok D14 No. 10, Rt.05 Rw.09, Kel. Pasirputih, Kec. Sawangan, Depok.)