Hasanah fÎl-Âkhirat

Akhirat adalah tahap akhir dari seluruh perjalanan hidup manusia yang semuanya berlangsung dalam 4 (empat) tahap, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Ustadz Ahmmad ‘Izzud-Dîn Al-Bayânunî, beliau berkata :

يَمُرُّ اْلإِ نْسَانُ فِي أَرْبَعَةِ أَطْوَارٍ مِنَ اْلحَيَاةِ


“Manusia akan melalui 4 (empat) tahap dalam kehidupannya”.

Tahap Awal : Hidup Sebagai Janin

Janin atau jabang bayi itu hidup di dalam perut ibunya, ia bergerak dan memilliki rasa. Ia pun tumbuh berkembang dalam keadaan sehat atau sakit. Inilah sebagian dari tanda-tanda kehidupannya. Proses ini terus berlangsung sampai batas yang ditetapkan Allâh baginya.

Kemudian ia pindah — dari perut ibunya — ke alam dunia sebagai bayi yang lemah, sebagaimana firman Allâh :

وَنُقِرُّ فِي اْلأَرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلاً

“Dan Kami tetapkan dalam kandungan, apa-apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang ditentukan. Lalu Kami keluarkan kalian sebagai bayi………”.
(Surah Al-Hajj (22) : 5)

Tahap Kedua : Kehidupan Di Dunia

Kemudian setelah ia pindah dari rahim yang sempit ke alam kehidupan yang lebih luas, maka ia pun hidup dengan pola yang jauh berbeda dari pola hidupnya pada tahap awal. Ia mulai menggunakan mulutnya untuk makan, matanya untuk melihat, telinganya untuk mendengar, tangannya untuk memegang dan kakinya untuk melangkah.

Dan ketika ia mencapai usia dewasa, Allâh pun menganugerahkan ‘aqal dan pengetahuan kepadanya. Maka ia pun menetap di dunia sampai batas waktu yang ditentukan Allâh baginya, lalu ia pun mati.

Inilah dua tahap kehidupan manusia yang dapat kita saksikan dengan kedua mata kita, dan kita pun menyaksikan perbedaan yang amat jauh di antara keduanya.

Tahap Ketiga : Kehidupan Di Barzakh (Alam Kubur)

Setelah mati, ia pun pindah dari kehidupan dunia kepada kehidupan di alam barzakh (kubur), di mana ruh telah berpisah dari tubuh.
Di alam barzakh ia akan mendapatkan kenikmatan atau ‘adzab (siksaan) yang sesuai dengan ‘amal-perbuatannya di dunia.
Para ‘Ulama mengatakan bahwa alam barzakh adalah tahap awal dari kehidupan akhirat. Jadi, apabila manusia mendapatkan kenikmatan di barzakh, bisa dipastikan kelak di akhirat ia pun akan mendapatkan kenikmatan yang lebih besar. Begitu-pula sebaliknya

Tahap Ke-empat : Kehidupan Di Akhirat

Setelah terjadi qiyamat, manusia seluruhnya dibangkitkan dari barzakh atau alam kubur, lalu mereka semuanya dikumpulkan di padang mahsyar untuk dihisab dan dibalas sesuai dengan ‘amal perbuatan mereka masing-masing. Maka, sebagian dari mereka ada yang mendapatkan kebahagiaan, yaitu mereka yang berimân kepada Allâh, sebagaimana firman Allâh:

وَعَدَ اللهُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللهِ أَكْبَرُ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Allâh telah menjanjikan pada orang-orang mu’min laki-laki dan perempuan (akan mendapatkan) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan juga tempat-tempat yang indah di surga ‘Aden. Dan keridhaan Allâh lebih besar. Yang demikian itulah keuntungan yang besar”.
(Surah At-Taubah (9) : 72)

Inilah “Hasanah Fîl-Âkhirat” atau “Kebahagiaan di Akhirat” yang disebut dalam do’a (Surah Al-Baqarah (2) : 201).

(وَ فِي اْلآ خِرَةِ حَسَنَةً)

Dan masih banyak lagi ayat-ayat Al-Qur-ân yang menginformasikan dan menjelaskan tentang kebahagiaan akhirat.

Adapun yang sebagian lagi, mendapatkan ‘adzab dan kesengsaraan, mereka itu ialah golongan orang-orang munafiq dan orang-orang kafir, sebagaimana firman Allâh :

وَعَدَ اللهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا هِيَ حَسْبُهُمْ وَلَعَنَهُمُ اللهُ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُقِيمٌ

“Allâh menjanjikan bagi orang-orang munafiq laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allâh melaknati mereka. Dan bagi mereka ‘adzab yang kekal”.
(Surah At-Taubah (9) : 68)

Inilah yang terkandung dalam do’a (Surah Al-Baqarah (2) : 201) :

(وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ).”

“dan jagalah kami dari siksa neraka”.

Al-Imâm Ibnu Katsîr (rahimahullâh) berkata :

وَ أَمَّا اْلحَسَنَةُ فِي اْلآ خِرَةِ فَأَعْلَى ذَلِكَ دُخُوْلُ اْلجَنَّةِ وَ تَوَابِعُهُ مِنَ اْلأَمْنِ مِنَ اْلفَزَعِ اْلأَكْبَرِ فِي اْلعَرَصَاتِ وَ تَيْسِيْرِ اْلحِسَابِ وَ غَيْرِ ذَلِكَ مِنْ أُمُوْرِ اْلآ خِرَةِ الصَّالِحَةِ

“Adapun Hasanah Fîl-Âkhirat, yang paling utama ialah masuk surga, setelah sebelumnya selamat dari kejutan (gempa) yang besar di semua halaman rumah (tempat) — di dunia –, dan ringannya hisaban serta semua perkara yang baik di akhirat”.
(Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr juz I hal. 244)

Jadi, secara garis besar, “Hasanah Fîl-Âkhirat” mencakup 3 (tiga) aspek, yaitu: Selamat dari gempa qiyamat, hisaban yang mudah dan masuk surga.

Gempa (Goncangan) Qiyamat

Qiyamat atau As-Sâ’ah ialah hari kehancuran seluruh alam semesta. Peristiwa ini diawali dengan goncangan atau gempa yang luar-biasa, sebagaiman firman Allâh :

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ , يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى وَمَا هُمْ بِسُكَارَى وَلَكِنَّ عَذَابَ اللهِ شَدِيدٌ

“Wahai manusia, baertaqwalah kepada Rabb kalian, sesungguhnya goncangan hari qiyamat itu adalah suatu kejadian yang amat besar (dahsyat). (Ingatlah) pada hari (ketika) kalian melihat goncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya, dan gugurlah semua kandungan wanita hamil, dan engkau melihat semua manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi siksa Allâh itu sangat keras”.
(Surah Al-Hajj (22) : 1 & 2)

Al-Imâm Ibnu Katsîr menukilkan pendapat sebagian orang yang berkata (mengenai goncangan ini) :

هَذِهِ الزَّ لْزَ لَةُ كَائِنَةٌ فِي آخِرِ عُمُرِ الدُّنْيَا وَ أَوَّلِ أَحْوَالِ السَّاعَةِ

“Ini goncangan yang terjadi di akhir umur dunia dan merupakan awal dari seluruh peristiwa qiyamat”.

‘Alqamah berkata :

قَبْلَ السَّاعَةِ

“(Goncangan ini) sebelum terjadinya qiyamat”.

Asy-Sya’bî berkata :

هَذاَ فِي الدُّنْيَا قَبْلَ يَوْمِ اْلقِيَامَةِ

“Ini terjadi di dunia sebelum hari qiyamat”.
(Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr juz III hal 293)

Ayat ini menceritakan betapa hebatnya goncangan atau gempa yang terjadi pada hari qiyamat serta pengaruhnya pada ‘aqal dan jiwa manusia, sehingga wanita-wanita yang sedang menyusui anaknya lupa kepada anak yang sedang disusuinnya, para wanita hamil mengalami keguguran karena hebatnya gempa tersebut. Dan manusia pun terlihat mabuk seperti kehilangan ‘aqal.

Di akhir ayat ditegaskan bahwa sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi siksa Allâh yang berupa gempa itulah yang membuat mereka merasa ketakutan dan panik sehingga mereka kehilangan ‘aqal. Dan mereka inilah seburuk-buruknya manusia, sebagaimana sabda Rasûlullâh saw. :

مِنْ شِرَارِ النَّاسِ مَنْ تُدْرِكُهُمُ السَّاعَةُ وَ هُمْ أَحْيَاءٌ

“Seburuk-buruk manusia ialah orang yang mengalami qiyamat dalam keadaan hidup”.
(H.R. Al-Bukhârî. Lihat Fathul-Kabîr juz V hal. 218 no.: 5792)

Hisaban Yang Mudah

Setelah kehancuran total alam semesta, seluruh manusia dibangkitkan kembali untuk dihisab atau diperiksa semua ‘amal perbuatannya di dunia, untuk menerima balasan yang setimpal. Maka siapa-saja yang menjalani hisaban atau pemeriksaan dengan ketat, ia pasti disiksa, sebagaimana sabda Rasûlullâh saw. :

مَنْ نُوْقِشَ اْلحِسَابُ عُذِّبَ

“Siapa-saja yang diinterogasi pada saat dihisab, pastilah ia disiksa”.
(H.R. Al-Baihaqî. Lihat Fathul-Kabîr juz V hal. 364 no.: 6454)

Menurut Al-Imâm Ibnul-Atsîr yang dimaksud orang yang diinterogasi dalam hadits ini ialah :

مَنِ اسْتُقْصِيَ فِي مُحَاسَبَتِهِ وَ حُقِّقَ

“Orang yang diselidiki dengan mendalam dan diteliti (semua perbuatannya)”.
(An-Nihâyah juz V hal. 106)

Sedangkan mereka yang beruntung ialah yang menjalani hisaban dengan ringan atau mudah, sebagaimana firman Allâh :

فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ , فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا

“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka ia akan dihisab dengan hisaban yang mudah”.
(Surah Al-Insyiqâq (84) : 7 & 8 )

Rasûlullâh saw. memerintahkan umatnya supaya selalu mohon kepada Allâh agar diberi kemudahan hisaban, sebagaimana do’a Beliau saw. :

الَّلهُمَّ حَاسِبْنِي حِسَابًا يَسِيْرًا

“Ya Allâh, hisablah aku dengan hisaban yang mudah”.

Ketika itu ‘Â-isyah –Ummul-Mu’minîn — bertanya kepada Beliau : “Wahai Rasûlullâh, apakah hisaban yang mudah itu ? Beliau pun menjawab :

أَنْ يَنْظُرَ فِي كِتَابِهِ فَتَجَاوَزُ عَنْهُ مَنْ نُوْقِشَ اْلحِسَابَ يَا عَائِشَةَ هَلَكَ

“Yaitu apabila yang bersangkutan melihat isi kitabnya, lalu diliwatkan (dima’afkan) baginya. (Tetapi), siapa-saja yang diinterogasi — pada saat dihisab — ya ‘Â-isyah, pastilah ia binasa (disiksa)”.
(H.R. Ahmad. Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr juz IV hal. 488 & 489 dan Al-Fathur-Rabbânî juz XXIV hal. 147)

Dalam hadits yang lain, Beliau sebutkan bahwa yang dimaksud “hisaban yang mudah” ialah “Al-’Aradh, yang artinya “sebentar”, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Ustadz Ahmad ‘Abdur-Rahmân Al-Banâ (rahimahullâh) :

وَ هُوَ إِبْرَازُ اْلأَ عْمَالِ وَ إِظْهَارُهَا فَيَعْرِفُ صَاحِبُهَا ذُنُوْبَهُ ثُمَّ يُتَجَاوَزُ عَنْهُ

“(Al-’Aradh) itu ialah ditampakkan dan diperlihatkannya semua ‘amal perbuatan, sehingga pelakunya dapat melihat seluruh dosa-dosanya, kemudian dima’afkan baginya”.
(Lihat Al-Fathur-Rabbânî juz XVIII hal. 324)

Masuk Surga Selamat Dari Neraka

Inilah puncak tertinggi dari “Hasanah Fil-Âkhirat” atau “Kebahagiaan di Akhirat”. Allâh SWT. telah berfirman mengenai hal ini :

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.Dan sesungguhnya pada hari qiyamat sajalah disempurnakan pahala kalian. Maka siapa-saja yang dijauhkan dari neraka, dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”.
(Surah Ali ‘Imrân (3) : 185)

Al-Qur-ân banyak sekali membicarakan tentang surga sebagai puncak kenikmatan dan kebahagiaan di akhirat, sedangkan kenikmatan hidup di dunia amatlah sedikit jika dibandingkan dengan kenikmatan hidup di akhirat yang serba sempurna dan kekal, sebagimana firman Allâh SWT. :

فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي اْلآخِرَةِ إِلاَّ قَلِيلٌ

“Tidak ada kesenangan hidup di dunia bila dibanding denga kehidupan akhirat melainkan sedikit”.
(Surah At-Taubah (9) : 38)

Dalam ayat yang lain Allâh SWT. berfirman :

قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَ اْلآخِرَةُ خَيْرٌ لِمَنِ اتَّقَى

Katakanlah (Muhammad): “Kesenangan di dunia itu sedikit, sedangkan akhirat itu lebih baik bagi orang yang bertaqwa”.
(Surah An-Nisâ’ (4) : 77)

Rasûlullâh saw. telah bersabda mengenai hal ini :

مَا مَثَلُ الدُّنْيَا فِي اْلآ خِرَةِ إِلاَّ مَثَلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُ كُمْ أُصْبُعَهُ فِي اْليَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَا يَرْجِعُ

“Tidak ada perumpamaan dunia bila dibanding dengan akhirat kecuali seperti salah seorang kalian yang mencelupkan telunjuknya ke dalam laut, maka hendaklah ia melihat dengan apa yang kembali”
(H.R. Ibnu Mâjah juz II hal. 1376)

Maksud hadits ini ialah : Apabila seseorang mencelupkan telunjuknya ke dalam laut kemudian mengangkatnya, maka telunjuk itu akan meneteskan setetes air. Nah, setetes air itulah perumpamaan dunia dengan segala kenikmatannya. Sedangkan lautan itu, merupakan perumpamaan kenikmatan akhirat. Sebuah perbedaan yang amat jauh.

Kenikmatan Surga

Al-Qur-ânul-Karîm telah menginformasikan dan menceritakan dengan panjang lebar berbagai macam kenikmatan yang terdapat dalam surga dengan ungkapan bahasa yang indah dan meyakinkan, seperti : Bidadari, sungai-sungai, mahligai, mata air, gelas-gelas, sutera tebal dan sutera halus, permadani, gelang emas, buah-buahan yang beraneka ragam, pelayan-pelayan yang terdiri dari anak-anak kecil yang dikekalkan dan masih banyak lagi kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga dan belum pernah terfikir oleh otak manusia. Adapun puncak dari semua kenikmatan itu ialah perjumpaan dengan Allâh Yang Maha Mulia, serta memandang wajah-Nya Yang Agung.

 Bidadari

Di dalam Al-Qur-ân, bidadari disebut “Hûr”.

(حُوْرٌ)

Lafazh (kata) ini disebut sebanyak 4 (empat) kali : 1.- Dalam surah Ad-Dukhân (44) : 54 :

كَذَلِكَ وَزَوَّجْنَاهُمْ بِحُورٍ عِينٍ

“Demikianlah, dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari yang bermata jeli”.

2.- Dalam surah Ath-Thûr (52) : 20 :

مُتَّكِئِينَ عَلَى سُرُرٍ مَصْفُوفَةٍ وَزَوَّجْنَاهُمْ بِحُورٍ عِينٍ

“Mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan, dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari yang bermata jeli”.

3.- Dalam surah Ar-Rahmân (55) : 72 :

حُورٌ مَقْصُورَاتٌ فِي الْخِيَامِ

“Bidadari yang bermata jeli, yang dipingit di dalam rumah”.

4.- Dalam surah Al-Wâqi’ah (56) : 22 & 23 :

وَحُورٌ عِينٌ , كَأَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُونِ

“Dan (di dalam surga itu) ada bidadari yang bermata jeli. Laksana mutiara yang disimpan baik”.

 Sungai-Sungai

Al-Qur-ân menyebutkan bahwa di dalam surga itu ada 4 (empat) macam sungai, sebagaimana disebutkan dalam surah Muhammad (47) : 15 :

مَثَلُ اْلجَنَّةِ اَّلتِيْ وُعِدَ اْلمُتَّقُوْنَ فِيْهَا أَنْهَارٌ مِنْ مَاءٍ غَيْرِ آ سِنٍ وَ أَنْهَارُ مِنْ لَبَنٍ لَمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَ أَنْهَارٌ مِنْ خَمْرٍ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِيْنَ وَ أَنْهَارٌ مِنْ عَسَلٍ مُصَفَّى

“Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertaqwa, di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tiada berubah rasanya, sungai-sungai dari khamer yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring….”.

 Mahligai (Tempat Yang Tinggi)

Mahligai atau Tempat Yang Tinggi dalam Al-Qur-ân disebut “Ghuraf”. Lafazh (kata) ini disebut sebanyak 3 (tiga) kali, yaitu 2 (dua) kali dalam surah Az-Zumar (39) : 20 :

لَكِنِ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ لَهُمْ غُرَفٌ مِنْ فَوْقِهَا غُرَفٌ مَبْنِيَّةٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ وَعْدَ اللهِ لاَ يُخْلِفُ اللهُ الْمِيعَادَ

“Tetapi orang-orang yang bertaqwa kepada Rabb mereka, mereka mendapatkan tempat-tempat yang tinggi, di atasnya dibangun pula tempat-tempat yang tinggi, di bawahnya mengalir sungai-sungai. Allâh telah berjanji. (Dan) Allâh tidak akan mengingkari janji-Nya”.

Dan 1 (satu) kali dalam surah Al-Ankabût (29) : 58 :

وَالَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَنُبَوِّئَنَّهُمْ مِنَ الْجَنَّةِ غُرَفًا تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا نِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ

“Dan orang-orang yang berimân dan mengerjakan ‘amal-’amal yang shalih, sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi di dalam surga, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang ber’amal”.

Al-Imâm Ibnu Katsîr menjelaskan dalam Tafsîrnya bahwa yang dimaksud “Ghuraf” itu ialah “Qushûr” yang artinya “Istana-Istana Yang Tinggi” dan megah.
(Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr juz IV hal. 49)

Di dalam ayat yang lain disebut dengan lafazh yang sedikit berbeda, yaitu “Ghurufât”, disebut 1 (satu) kali, dalam surah As-Sabâ’ (34) : 37 :

وَمَا أَمْوَالُكُمْ وَ لاَ أَوْلاَدُكُمْ بِالَّتِي تُقَرِّبُكُمْ عِنْدَنَا زُلْفَى إِلاَّ مَنْ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَئِكَ لَهُمْ جَزَاءُ الضِّعْفِ بِمَا عَمِلُوا وَهُمْ فِي الْغُرُفَاتِ ءَامِنُونَ

“Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kalian yang mendekatkan kalian kepada Kami, tetapi siapa-saja yang mengerjakan ‘amal shalih, mereka itulah yang mendapat balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang mereka kerjakan dan mereka aman sentausa di tempat-tempat yang tinggi (Ghurufât)”.

 Mata Air

Al-Qur-ân banyak sekali menyebutkan mata air yang terdapat di surga, di antaranya dalam surah Al-Ghâsyiyah (88) : 12 :

فِيْهَا عَيْنٌ جَارِيَةٌ

“Di dalamnya (surga) ada mata air yang mengalir”.

Di dalam ayat yang disebutkan satu jenis minuman di surga yang diambil atau bersumber dari mata air yang istimewa, yaitu dalam surah Al-Insân (76) : 17 & 18 :

وَيُسْقَوْنَ فِيهَا كَأْسًا كَانَ مِزَاجُهَا زَنْجَبِيْلاً , عَيْنًا فِيهَا تُسَمَّى سَلْسَبِيْلاً

“Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe. (Yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan Salsabil”.

 Sutera Halus Dan Sutera Tebal

Al-Qur-ân menyebutkan bahwa pakaian yang dkenakan oleh penghuni surga terbuat dari sutera yang halus dan sutera yang tebal, sebagaimana disebutkan dalam surah Ad-Dukhân (44) : 53 :

يَلْبَسُونَ مِنْ سُنْدُسٍ وَإِسْتَبْرَقٍ مُتَقَابِلِينَ

“Mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal, mereka (duduk) berhadap-hadapan”.

 Permadani

Al-Qur-ân menyebutkan bahwa di dalam surga terdapat permadani-permadani yang dihamparkan, sebagaimana dinyatakan dalam surah Al-Ghâsyiyah (88) : 16 :

وَ زَرَابِيُّ مَبْثُوْثَةٌ

“Dan permadani-permadani yang terhampar”.

 Buah-Buahan Yang Beraneka Ragam

Masalah ini banyak disebutkan oleh Al-Qur-ân, di antaranya dalam surah Shâd (38) ayat 51 :

مُتَّكِئِينَ فِيهَا يَدْعُونَ فِيهَا بِفَاكِهَةٍ كَثِيرَةٍ وَشَرَابٍ

“Di dalam (surga) mereka bertelekan (di atas dipan-dipan) sambil meminta buah-buahan yang banyak dan minuman”.

 Pelayan-Pelayan

Al-Qur-ân menyebutkan bahwa pelayan-pelayan di surga terdiri dari anak-anak kecil yang dikekalkan, yang selamanya mereka dalam keadaan seperti itu, sebagaimana disebutkan dalam surah Al-Insân (76) : 19 :

وَيَطُوفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُخَلَّدُونَ إِذَا رَأَيْتَهُمْ حَسِبْتَهُمْ لُؤْلُؤًا مَنْثُورًا

“Dan mereka ( penghuni surga) dikelilingi oleh pelayan-pelayan anak-anak kecil yang tetap kecil. Apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengira mereka mutiara yang bertaburan”.

 Melihat Allâh

Al-Qur-ân telah menyebutkan hal ini dalam surah Al-Qiyamah (75) : 22 & 23 :

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ , إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

“Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri. Mereka melihat Rabb mereka”.

Rasûlullâh saw. telah menjelaskan hal ini, Beliau bersabda :

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ عَيَانًا

“Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian dengan mata telanjang”.
(H.R. Al-Bukhârî dalam shahihnya)

Juga dalam Ash-Shahîhain (Al-Bukhârî dan Muslim) disebutkan bahwa beberapa orang sahabat Rasûlullâh saw. pernah bertanya kepada Beliau :

َا رَسُوْلَ اللهِ هَلْ نَرَى رَبَّنَا يَوْمَ اْلقِيَامَةِ ؟

“Ya Rasûlullâh, apakah kami dapat melihat Rabb kami pada hari qiyamat ?”.

Rasûlullâh saw. Bersabda :

هَلْ تُضَارُوْنَ فِي رُأْيَةِ الشَّمْسِ وَ اْلقَمَرِ لَيْسَ دُوْنَهُمَا سَحَابٌ ؟ قَاُلْوا: لاَ قَالَ فَإِنَّكُمْ تَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَذَ لِكَ

Apakah kalian merasa terhalang untuk melihat Matahari dan Bulan pada saat tidak ada awan yang menutupinya ? Mereka berkata : “Tidak”. Beliau pun bersabda : “Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian seperti itu”.

Al-Imâm Ibnu Katsîr menegaskan masalah ini dalam Tafsîrnya, beliau berkata :

لَقَدْ تَثَبَّتَتْ رُأْيَةُ اْلمُؤْمِنِيْنَ لِلَّهِ عَزَّ وَ جَلَّ فِي اْلآ خِرَةِ فِي اْلأَ حَادِيْثِ الصَّحَاحِ مِنْ طُرُقٍ مُتَوَاتِرَةٍ عِنْدَ أَئِمَّةِ اْلحَدِيْثِ لاَ يُمْكِنْ دَفْعِهَا وَ لاَ مَنْعِهَا

“Sesungguhnya telah pasti bahwa orang-orang mu’min akan melihat Allâh Yang Maha Mulia dan Maha Agung kelak di kampung akhirat, berdasarkan hadits-hadits yang shahih dengan jalur yang mutawatir, yang tidak mungkin untuk ditolak dan dibantah”. (Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr)

Melihat Allâh merupakan kenikmatan yang paling besar di surga, sebagaimana pernyataan Rasûlullâh saw. :

فَمَا أُعْطُوْا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ

“Tidak ada suatu pemberian yang lebih mereka senangi daripada memandang kepada Rabb mereka”.
(H.R. Muslim)

Bukankah perjumpaan dengan kekasih merupakan peristiwa yang paling menyenangkan ? Dan Allâh adalah kekasih sejati orang-orang berimân. Jadi, sudah sewajarnya melihat dan berjumpa dengan Allâh merupakan kenikmatan yang paling besar. Dan masih banyak lagi ayat-ayat Al-Qur-ân yang menyebutkan berbagai macam kenikmatan yang terdapat di dalam surga, yang dengan memahaminya setiap mu’min dapat meyakini bahwa kenikmatan dunia itu hanya sedikit, sebagaimmana telah dijelaskan sebelumnya.

Ditulis pada 10 May 2009

3 Comments For This Post

  1. hera says:

    bang tolong jelaskan ttg laki laki mukmin mendapatkan bidadari..jd kalo perempuan dapat bidadara???maaf kalo salah……

  2. admin says:

    Jawab:
    Tidak ada dalil baik dalam Al-Quran maupun As-Sunnah (Hadits) yang menyatakan perempuan di Surga akan mendapat bidadara. Jadi, tidak ada poliandri di Surga. Dalam sebuah hadits disebutkan, bahwa Ummu Salamah, isteri Nabi saw. pernah bertanya kepada Nabi saw. tentang seorang perempuan yang menikah dengan seorang suami, kemudian suaminya wafat, lalu ia menikah lagi dengan suami yang kedua, dan suami yang kedua pun wafat. Lalu ia menikah lagi dengan suami yang ketiga, dan suami yang ketiga juga wafat. Dan di akhirat perempuan dan ketiga suaminya yang wafat lebih dulu itu masuk ke dalam Surga. Pertanyaannya: “Apakah ketiga suaminya itu akan menjadi miliknya?”. Secara tegas Nabi saw. menjawab: “Tidak ya Ummu Salamah, akan tetapi perempuan itu disuruh memilih salah satu dari tiga suaminya itu, dan ia pun akan memilih yang paling baik akhlaqnya…..”.

  3. hera says:

    ass.wr.wb..
    jazklh kh…tuk jwbn nya…tp msh ada yg blm jels…

    kalo wanita yg tdk menikah di dunia gimana bang..atw wanita yg tlah bercerai…krn sy pernah dengar..bhw di syurga smua mendapat pasangannya..

    jazklh kh…maaf tanya nya bnyk bang…skrg lbh mudah taklimnya…

    kok lagu nasheed abang disini gk ada ..kan bs didownload bang..yg bkn nasheed jg boleh tuh…

Tinggalkan Pesan

DVD TUTORIAL

VIDEO KEGIATAN ASIISC

Waktu Sholat

    Waktu Sholat hari ini di
    ....

Galery Kegiatan

Jadwal dan Kegiatan

UPDATE :
Pengajian Mingguan:
- Sabtu, Jam 10.00 - selesai (Lokasi: Sekolah Al-Ikhlash, Jl. Raya Cipete III No. 12-13 Jakarta Selatan, DKI Jakarta)

- Minggu, Jam 08.00 - selesai (Sawangan Permai Blok D14 No. 10, Rt.05 Rw.09, Kel. Pasirputih, Kec. Sawangan, Depok.)