Topik| Tafsir

Tags :

Tafsir Ayat Shirâtal-ladzîna an’amta ‘alaihim, ghairil-maghdhûbi ‘alaihim wa ladh-dhâlîn

Penjelasan

Apakah yang dimaksud dengan nikmat dalam ayat ini ? Dan siapakah yang dimaksud dengan orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allâh ?
Nikmat atau An-Ni’mah dari segi bahasa artinya :

“Keadaan (Kondisi) yang baik”.

Sedangkan menurut Al-Imâm Ibnul-Qayyim, arti An-Ni’mah ialah :

“Kebaikan (harta) dan keistimewaan”.
(Lihat Madârijus-Sâlikîn juz I hal. 25)

Sebagaimana telah dijelaskan dalam sebuah hadits sebelumnya (yaitu pada ayat yang ke 3); bahwa secara garis besar nikmat itu ada dua macam :

Pertama : Nikmat yang bershifat umum, yaitu nikmat dunia atau materi termasuk juga nikmat jasmani. Dan nikmat ini diberikan Allâh kepada semua hamba-Nya; yang Dia cintai (mu’min) dan yang tidak Dia cintai (kâfir), sabda Nabi saw. :

“Dan sesungguhnya Allâh memberi keduniaan (materi) kepada orang yang Dia cintai dan kepada orang yang tidak Dia cintai”.

Jadi, nikmat dalam ayat ini bukan nikmat yang bershifat umum (materi), dengan kata lain, yang dimaksud “Orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka”, bukanlah orang-orang yang semata-mata diberi kekayaan materi dsb. termasuk juga kenikmatan jasmani.

Kedua : Nikmat yang bershifat khusus, yaitu nikmat agama (Dîn) atau ketaatan; yaitu kesadaran untuk melaksanakan ketaatan (‘ibadah) kepada Allâh. Ini merupakan nikmat ruhani, dan nikmat ini hanya Dia diberikan kepada orang yang Dia cintai, sebagaimana sabda Nabi saw. Selanjutnya :

Tetapi Dia tidak memberikan ad-dîn (agama) kecuali kepada orang yang Dia cintai. Maka barang-siapa yang diberikan ad-dîn oleh Allâh, maka sungguh Dia (Allâh) telah mencintainya”.
(H.R. Ahmad. Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr juz II hal. 463)

Tidak dipungkiri, bahwa nikmat ruhani, yaitu kesadaran untuk melaksanakan ketaatan atau ber’ibadah kepada Allâh merupakan nikmat yang terbesar. Oleh karena itu, para mufassir menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “Orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka”, ialah mereka yang Allâh sebutkan dalam surah An-Nisâ’ (4) ayat 69 :

“Barang-siapa yang taat kepada Allâh dan kepada Rasul, maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang telah Allâh beri nikmat atas mereka; yaitu para nabi, shiddiqîn, syuhadâ’ (orang-orang yang mati syahid) dan’ rang-orang yang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”.

Berdasarkan ayat ini, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud “Orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka”, terdiri dari 4 (empat) golongan :

1.

Para nabi.

2.

Shiddiqîn, yaitu orang-orang yang amat teguh kepercayaannya kepada kebenaran Rasul.

3.

Syuhadâ’, yaitu orang-orang yang mengorbankan jiwanya untuk membela Islâm.

4. Orang-orang shaleh.


Bukan (orang-orang) yang dimurkai atas mereka dan bukan (pula) orang orang yang sesat.

Siapakah yang dimaksud dengan orang-orang yang dimurkai dalam ayat ini ? Dan siapa pula yang dimaksud dengan orang-orang yang sesat ? Al-Imâm Ibnu Katsîr telah menjelaskan ayat ini dengan pengertian yang umum, bahwa yang dimaksud dengan orang yang dimurkai “Al-Maghdhub” ialah :

“Mereka adalah orang-orang yang telah rusak kehendak (iradah)nya; mereka mengetahui kebenaran (Al-Haq), namun mereka menyimpang darinya”.
,br> Sedangkan yang dimaksud dengan orang yang sesat “Adh-Dhââlîn” menurut beliau ialah :

“Mereka adalah orang-orang yang kehilangan ilmu, maka mereka menjadi orang-orang yang bingung dalam kesesatan, dan tidak mendapat petunjuk kepada kebenaran (Al-Haq)”. (Lihat Tafsîr Ibnu Katsîrjuz I hal. 31 – 32)

Al-Imâm Ibnul-Qayyim mempertegas penjelasan ini, beliau berkata :

“Seseorang yang mengetahui kebenaran (Al-Haq), akan tetapi ia mengikuti hawa-nafsunya, maka ia adalah orang yang dimurkai (Al-Maghdhûb ‘alaih). Dan seseorang yang tidak mengetahui (bodoh) terhadap kebenaran (Al-Haq), maka ia adalah orang yang sesat”.

Lalu Al-Imâm Ibnul-Qayyim menambahkan :

“Sedangkan — yang dimaksud dengan — mereka yang mendapat nikmat, ialah seseorang yang mengetahui kebenaran (Al-Haq) dan mengikutinya”. (Lihat Madârijus-Sâlikîn juz I hal. 24-25)

Selanjutnya Al-Imâm Ibnul-Qayyim dan juga Al-Imâm Ibnu Katsîr menuqilkan tafsîran dari ayat ini yang bershifat khusus, berdasarkan sebuah hadits dari ‘Adî bin Hâtim; ia berkata: Rasûlullâh saw. Bersabda :

“Yahûdi adalah orang-orang yang dimurkai (Al-Maghdhûb ‘alaihim) dan Nasarani adalah orang-orang yang sesat”.
(H.R. At-Tirmidzî dan Ibnu Hibbân dalam shahîhnya. Lihat Madârijus-Sâlikîn juz I hal. 24 dan Tafsîr Ibnu Katsîr juz I hal. 31)

Al-Imâm Ibnu Katsîr juga menyatakan bahwa Ibnu ‘Abbâs, Ibnu Mas’ûd dan sejumlah shahabat Rasûlullâh saw. lainnya pun berpendapat seperti itu, yaitu bahwa yang dimaksud dengan orang yang dimurkai “Al-Maghdhûb” adalah “orang-orang Yahûdi”, sedangkan orang yang sesat “Adh-Dhââlîn” adalah “orang-orang Nasrani”.
(Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr juz I hal. 31-32)

Demikian pula Al-Imâm Al-Qurthubî dalam Tafsîrnya, beliau berkata :

“Pendapat Jumhûr pun — menyatakan — bahwa yang dimaksud orang-orang yang dimurkai (Al-Maghdhûb ‘alaihim) adalah Yahûdi, dan yang dimaksud orang-orang yang sesat, adalah Nasrani”.
(Lihat Tafsîr Al-Qurthubî juz I hal. 151)

Ditulis pada 03 March 2009

Tinggalkan Pesan

DVD TUTORIAL

VIDEO KEGIATAN ASIISC

Waktu Sholat

    Waktu Sholat hari ini di
    ....

Galery Kegiatan

Jadwal dan Kegiatan

UPDATE :
Pengajian Mingguan:
- Sabtu, Jam 10.00 - selesai (Lokasi: Sekolah Al-Ikhlash, Jl. Raya Cipete III No. 12-13 Jakarta Selatan, DKI Jakarta)

- Minggu, Jam 08.00 - selesai (Sawangan Permai Blok D14 No. 10, Rt.05 Rw.09, Kel. Pasirputih, Kec. Sawangan, Depok.)