Penjelasan :
Menurut para mufassirîn (ahli-ahli tafsîr), “Mâliki” bisa juga dibaca “Maliki” yang artinya : “Raja”. Kedua macam bacaan ini shahîh dan mutawâtir.
(Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr juz I hal. 24)
“Mâlik” atau “Malik” adalah salah-satu nama dari nama-nama Allâh (Al-Asmâ-ul-Husnâ); Al-’Allâmah ‘Abdur-Rahmân bin Nâshir As-Sa’dî telah memberikan penjelasan secara panjang lebar tentang makna nama ini, beliau berkata :

“Sesungguhnya Ia (Allâh) dishifati dengan shifat Al-Malik (Raja), karena di dalamnya terkandung beberapa shifat, seperti keagungan, kemuliyaan, kemampuan memaksa, serta mengatur, yang bagi-Nya kebebasan mutlak terhadap seluruh makhluq dan semua perkara, dan juga — kebebasan — memberi ganjaran. Dan bagi-Nya pula seluruh ‘alam ini, baik yang berada di atas maupun di bawah. Semua mereka adalah hamba dan budak serta diharuskan tunduk kepada-Nya”.
(Lihat Syarhul-Asmâ-ul-Husnâ oleh Al-Ustadz Al-Qahthânî hal. 163)
Shifat Al-Malik ini lebih ditonjolkan lagi oleh-Nya pada Hari Qiyâmat, sebagaimana sabda Rasûlullâh saw. :

Allâh akan menggenggam bumi pada Hari Qiyâmat dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya, lalu Ia berfirman : “Aku-lah Raja, dimana raja-raja bumi ?”.
(H.R. Al-Bukhârî dan Muslim. Lihat Tafsîr Al-Qurthubî juz I hal. 143)
Adapun Yaum dari segi bahasa (lughat) ialah :

“Penjelasan tentang waktu terbitnya fajar sampai waktu terbenamnya Matahari”.
(Lihat Tafsîr Al-Qurthubî juz I hal. 144)
Dan Ad-Dîn dari segi bahasa (lughat) :

“Pembalasan terhadap berbagai macam perbuatan dan perhitungan terhadapnya”.
(Lihat Tafsîr Al-Qurthubî juz I hal. 144)
Arti “Yaumid-Dîn” menurut Ibnu ‘Abbâs ialah :

“Hari penghisaban (perhitungan) bagi seluruh makhluq, dan itu adalah Hari Qiyâmat, dimana Allâh akan membalas seluruh ‘amal perbuatan mereka, jika baik maka — dibalas dengan — kebaikan, dan jika buruk maka — akan dibalas dengan — keburukan, kecuali orang diampuni oleh Allâh”.
(Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr juz I hal. 25)
Penyebutan “Raja Hari Pembalasan” tidak berarti sebelum “Hari Pembalasan” Ia tidak menjadi Raja Yang Berkuasa. Al-Imâm Ibnu Katsîr memberi penjelasan dalam soal ini, beliau berkata :

“Pengkhususan — penyebutan — Raja di Hari Pembalasan tidak berarti menafikan (meniadakan) — shifat kekuasaan-Nya — dari selain — Hari Pembalasan — itu. Karena telah lebih dulu diberitakan — dalam ayat kedua — bahwa Ia adalah Rabbul-’Âlamîn, dan itu mencakup dunia dan akhirat”.
(Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr juz I hal. 24)
Sedangkan Al-Qâsimî menegaskan :

“Dan dikhususkan-Nya (Allâh) sebagai sandaran — seluruh perkara pada Hari Pembalasan –, bertujuan untuk mengagungkan-Nya dan menimbulkan rasa takut terhadap-Nya, dan juga untuk menjelaskan kemandirian-Nya (Allâh) SWT. dalam melaksanakan seluruh perkara — di hari itu — dan memutuskan hukum di dalamnya”.
(Lihat Tafsîr Al-Qâsimî jilid I hal. 228)
Al-Ustadz Sayyid Quthb (rahimahullâh) memberikan komentar yang baik sekali tentang ayat ini, beliau berkata :
Ayat ini menjelaskan sebuah pelajaran yang luas dan mendalam pengaruhnya dalam seluruh kehidupan manusia. Yaitu pembelajaran keyakinan terhadap akhirat. “Al-Malik” — menunjukkan — puncak dari derajat kekuasaan. Sedangkan “Yaumid-Dîn” adalah hari pembalasan di akhirat. Banyak manusia yang meyakini akan Uluhiyyah Allâh dan penciptaan-Nya terhadap alam semesta, namun bersamaan dengan itu mereka tidak meyakini terhadap hari pembalasan. Al-Qur-ân telah menyebutkan sikap sebagian dari mereka ini :

Dan seandainya engkau bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”. Niscaya mereka akan menjawab dengan sunguh-sungguh : “Allâh”.
(Surah Luqmân (31) : 25)
Kemudian Allâh menyebutkan tentang mereka lagi dalam ayat yang lain :

(Mereka tidak menerimanya) bahkan mereka tercengang karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri, maka berkatalah orang-orang kafir: “Ini adalah suatu yang amat ajaib. Apakah kami setelah mati dan setelah menjadi tanah (kami akan kembali lagi)? Itu adalah suatu pengembalian yang tidak mungkin”.
(Surah Qâf (50) : 2 & 3)
Selanjutnya Al-Ustadz Sayyid Quthb berkata lagi :
Keyakinan terhadap Hari Pembalasan (Yaumid-Dîn) adalah satu pelajaran dari pelajaran-pelajaran ‘Aqîdah Islâm yang tak ternilai dalam mengarahkan perhatian manusia dan hati mereka kepada ‘alam yang lain selain ‘alam dunia; sehingga desakan kebutuhan terhadap dunia tidak akan membuat mereka bertindak sewenang-wenang. Ketika — meyakini — itu, mereka akan memiliki sikap yang mulia dalam menghadapi kebutuhan-kebutuhan tersebut. Demikian pula dengan kegelisahan atau rasa gelisah, tidak akan membuat mereka bertindak semberono dalam mengupayakan balasan ‘amal mereka kelak, karena mereka menyadari umur mereka yang singkat dan terbatas dalam ruang dunia yang sempit. Dan ketika itu pula mereka akan berupaya melakukan berbagai ‘amal semata-mata karena Allâh sambil menantikan pembalasan yang sesuai dengan ketentuan Allâh, apakah di dunia atau di kampung akhirat kelak, — bagi mereka — sama-saja. Dengan disertai perasaan yang tenteram kepada Allâh, berpegang teguh pada kebaikan dan terus menerus dalam kebenaran serta sikap yang lapang, toleran dan yakin. Karena itu, pelajaran — ‘aqîdah Hari Pembalasan (Yaumid-Dîn) — ini menetapkan persimpangan jalan — yang membedakan — antara penghambaan terhadap keinginan (nafsu) dengan keindahan yang layak bagi anak manusia, antara ketundukan terhadap bentuk-bentuk — kesenangan — duniawi beserta nilai dan neracanya dengan keterikatan terhadap nilai-nilai Rabbaniyyah dan kemuliaan yang berada jauh di atas logika jahiliyah. Persimpangan jalan — yang membedakan — antara kemanusiaan yang luhur, yang dikehendaki Allâh Yang Maha Kuasa terhadap hamba-hamba-Nya dengan bentuk-bentuk — pemikiran — yang buruk, menyimpang, yang dipastikan tidak akan mencapai kesempurnaan.
Kehidupan kemanusiaan tidak mungkin dapat ditegakkan di atas manhaj (metode) Allâh yang luhur selama pelajaran — ‘aqîdah Hari Pembalasan (Yaumid-Dîn) — ini tidak terwujud dalam diri manusia, selama hati mereka belum merasa tenteram bahwa pembalasan mereka di dunia bukanlah bagian yang terakhir, selama individu-individu yang terbatas umurnya ini tidak percaya bahwa ia mempunyai kehidupan yang lain yang harus ia perjuangkan untuk mendapatkannya, dan selama ia tidak berkorban untuk membela kebenaran dan kebaikan dan meyakini terhadap balasan yang akan ia terima di kehidupan yang lain (akhirat)…….
Tidaklah sama orang-orang yang berimân terhadap kehidupan akhirat dengan orang-orang yang mengingkarinya, baik dalam perasaan, akhlaq, tingkah-laku dan perbuatan. Mereka adalah dua golongan yang berbeda akhlaqnya, dan dua karakter yang berlainan, yang tidak akan bisa bersatu di muka bumi dalam suatu perbuatan, dan juga tidak akan bertemu di akhirat dalam pembalasannya. Inilah persimpangan jalan…..
(Lihat Tafsîr Fî Zhilâlil-Qur-ân juz I hal. 18-19)
Penutup :
Berimân kepada Hari Pembalasan atau Akhirat bukan sekedar percaya, karena “Imân” itu artinya “Tashdîq”, yaitu membenarkan atau meyakini sepenuhnya dengan hati. Para ‘ulamâ’ menyatakan bahwa “Imân” itu adalah “Qaulun Wa Fi’lun”; yaitu “Ucapan Dan Perbuatan”. Jadi, sekedar percaya atau ucapan belum bisa disebut berimân.
Berimân kepada Hari Pembalasan atau Hari Akhirat akan memberikan hasil yang luar-biasa ke dalam diri manusia, sebagaimana sabda Rasûlullâh saw. :

“Siapa-saja yang bercita-cita kepada — kehidupan — Akhirat, maka Allâh pasti menjadikan (memberikan) kekayaan di hatinya, dan menyelesaikan persoalannya; dan dunia pun akan datang dengan menunduk di hadapannya”.
Arti lafazh “Hamm” dalam hadits ini ialah “’Azama ‘alaihi” ;“Bercita-cita atau memiliki tekad yang kuat untuk meraihnya”. Dan tekad ini tertanam dalam hati serta terpancar dalam semua ucapan dan tindakan.
Sebaliknya, orang yang tidak memiliki “Hamm” kepada Akhirat, bahkan tidak ia perduli; dan “Hamm-nya” hanya kepada kehidupan dan kesenangan duniawi saja, maka ia akan mengalami kesengsaraan, sebagaimana sabda Rasûlullâh saw. :

“Siapa-saja yang bertekad kepada — kehidupan — dunia, maka Allâh pasti menjadikan kemiskinan di depan kedua matanya, dan membuat berantakan persoalannya; dan — kenikmatan — dunia tidak akan datang kepadanya kecuali sekedar yang ditetapkan baginya”.
(Kedua hadits di atas adalah riwayat At-Tirmidzî dari Anas. Lihat Al-Fathul-Kabîr juz V no. : 6386)
Ada 3 (tiga) kesengsaraan yang disebutkan dalam hadits ini bagi siapa-saja yang keinginan (tekad) dan tujuannya hanya terfokus pada dunia atau kesenangan dunia :
| 1. |
Allâh pasti menjadikan kemiskinan di depan kedua matanya. Maksudnya, dirinya tidak pernah merasa puas dan cukup dengan harta yang dimilikinya walau pun ia seorang yang kaya-raya. Orang seperti ini akan merasa tersiksa oleh obsesinya. |
| 2. |
Allâh membuat berantakan persoalannya. Maksudnya, persoalan hidupnya begitu rumit, dibelit berbagai macam masalah, belum selesai satu persoalan sudah muncul persoalan lain dan begitu seterusnya sepanjang hidupnya. |
| 3. |
Dunia tidak akan datang kepadanya kecuali sekedar yang ditetapkan baginya. Maksudnya, ia tidak bisa merasakan kenikmatan dunia kecuali terbatas sekali, walau pun ia memiliki segala-galanya. |
