
Penjelasan :
Al-Jauharî, — salah seorang ‘ulamâ’ ahli tafsîr – berkata :

“Keduanya — yaitu: Ar-Rahmân dan Ar-Rahîm — adalah dua nama yang diambil dari kata Ar-Rahmah (kasih sayang)”.
(Lihat Tafsîr Al-Qâsimî juz I hal. 225)
Az-Zamakhsyarî menjelaskan bahwa lafazh “Rahmân” merupakan “Fa’lân”, yaitu lafazh yang menunjukkan “mubâlaghah” (sangat berlebihan dalam perbuatan). Sedangkan lafazh “Rahîm” merupakan “Fa’îl”, yaitu lafazh yang menunjukkan shifat (sesuatu) yang tetap.
(Lihat Al-Kasysyâf juz I hal. 49)
Adapun Al-Qâsimî menjelaskan :

“Sesungguhnya lafazh Rahmân adalah shifat perbuatan, di dalamnya — ada — makna mubâlaghah”.
Lalu beliau berkata lagi :

“Adapun lafazh Rahîm, maka ia menunjukkan pemakaian atas makna-makna yang tetap”.
(Lihat Tafsîr Al-Qâsimî juz I hal. 225)
Adapun Jumhur (mayoritas) ‘ulamâ’ berkata :

“Sesungguhnya makna Ar-Rahmân adalah Maha Pemberi Nikmat, yaitu kenikmatan-kenikmatan yang jelas dan nampak (materi). Sedangkan Ar-Rahîm adalah Maha Pemberi Nikmat, yaitu kenikmatan-kenikmatan yang halus dan tidak terlihat (immaterial)”.
(Lihat Tafsîr Al-Qâsimî juz I hal. 225)
Sebagian dari ‘ulamâ’ ada yang berkata :

“Sesungguhnya makna Ar-Rahmân adalah Maha Pemberi Nikmat, yaitu kenikmatan yang universal, mencakup orang-orang kafir dan selain mereka (yaitu orang-orang musyrik, munafiq, jahiliyah dsb.). Sedangkan makna Ar-Rahîm adalah Maha Pemberi Nikmat, yaitu kenikmatan-kenikmatan yang khusus bagi orang-orang yang ber-îmân”.
(Lihat Tafsîr Al-Qâsimî juz I hal. 225)
Adapun alasan (dalil) yang menunjukkan bahwa Ar-Rahîm itu khusus bagi orang-orang yang ber-îmân, adalah firman Allâh :

“Dan adalah Dia (Allâh) bershifat Ar-Rahîm terhadap orang-orang yang ber-îmân”.
(Surah Al-Ahzâb (33) : 43)
Al-Qâsimî sendiri menegaskan dan memberi penjelasan sebagai berikut :

“Bentuk lafazh Ar-Rahmân (Yang Maha Pemberi) menunjukkan atas berlimpahnya kebaikan (nikmat) yang Dia berikan, sama-saja apakah — kenikmatan-kenikmatan — yang terlihat atau yang tidak terlihat (halus)”.
(Lihat Tafsîr Al-Qâsimî juz I hal. 225)
Keterangan yang menyatakan bahwa Ar-Rahmân adalah Maha Pemberi Nikmat, yaitu kenikmatan yang universal mencakup orang-orang kafir, sesuai dengan sabda Rasûlullâh saw. :

“Tidak ada seorang pun lebih sabar dari Allâh ketika mendengar — ucapan — yang menyakitkan. Mereka mengatakan Allâh punya anak, namun Allâh tetap memberikan kesejahteraan dan rezeki kepada mereka”.
(H.R. Al-Bukhârî juz IX hal. 141)
Mengatakan Allâh mempunyai anak adalah ucapan syirik (menyekutukan) terhadap Allâh yang sangat tidak layak bagi bagi Allâh. Dan ini merupakan kelakuan Yâhûdi dan Nasrani, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur-ân surah At-Taubah (9) ayat 30 :

Orang-orang Yahûdi berkata: “‘Uzair itu putera Allâh” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al-Masîh itu putera Allâh”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allâh-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling.
Dalam ayat ini disebutkan bahwa Allâh melaknati mereka yang menyeku-tukan-Nya dengan mengatakan Dia mempunyai anak. Ini menegaskan bahwa Allâh membenci mereka, bahkan tidak akan mengampuni dosa syirik mereka sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur-ân surah An-Nisâ’ (4) ayat 48 :

“Sesungguhnya Allâh tidak akan mengampuni jika Dia disekutukan; akan tetapi Dia mengampuni apa-apa (dosa) selain itu (syirik) bagi siapa-saja yang dikehendaki-Nya. Dan barang-siapa yang menyekutukan Allâh, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”.
Namun, meskipun mereka telah melakukan dosa yang teramat besar terhadap-Nya, Dia tetap memberikan kesejahteraan serta melimpahkan rezeki pada mereka.
Dan ada lagi sebuah hadits dari ‘Abdullâh bin Mas’ûd, Rasûlullâh saw. Bersabda :

“Dan sesungguhnya Allâh memberi keduniaan (materi) kepada orang yang Dia cintai dan kepada orang yang tidak Dia cintai. Tetapi Dia tidak memberikan ad-dîn (agama) kecuali kepada orang yang Dia cintai. Maka barang-siapa yang diberikan ad-dîn oleh Allâh, maka sungguh Dia (Allâh) telah mencintainya”.
(H.R. Ahmad. Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr juz II hal. 463)
Hadits ini juga menegaskan shifat Ar-Rahmân (Yang Maha Pemberi) dalam bentuk yang nyata, yaitu memberi berbagai pemberian dalam bentuk materi kepada orang-orang yang dicintai dan orang-orang yang tidak dicintai (dibenci). Shifat seperti ini tidak mungkin dimiliki oleh manusia, hanya Allâh yang mampu dan pantas memiliki shifat ini, sebagaimana ditegaskan oleh Al-Imâm Ibnul-Atsîr: 
“Ar-Rahmân adalah — shifat dan nama — yang khusus milik Allâh. Selain-Nya (Allâh), tidak boleh disebut dan dishifati dengannya (Ar-Rahmân)”.
(Lihat An-Nihâyah juz I hal. 210)
Adapun yang dimaksud ad-dîn (agama) dalam hadits ini ialah pemahaman atau pengertian yang baik terhadap agama, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits, Rasûlullâh saw. Bersabda :

“Siapa-saja yang dikehendaki — mendapat — kebaikan oleh Allâh, maka Allâh akan memberikan pemahaman agama kepadanya”.
(H.R. Ahmad dll. Lihat Al-Fathul-Kabîr jilid V no. : 6487)
Yang dimaksud pemahaman agama adalah kemampuan memahami agama Islâm dengan baik dan mendalam. Ini adalah nikmat Allâh bersifat immateriel, namun lebih besar nilainya daripada nikmat keduniaan (materiel). Dan nikmat ini hanya diberikan kepada orang-orang yang Dia cintai.
Penutup
Sebagai penutup pembahasan ini, kami sampaikan ucapan A-Imâm Al-’Allâmah Muhammad Jamâlud-Dîn Al-Qâsimî, beliau berkata :

“Adapun lafazh Ar-Rahmân menunjukkan bahwa — Allâh–, yang dari-Nya-lah bermunculan berbagai macam rahmat, — yang — disebabkan oleh perbuatan-Nya. Dan rahmat — adalah — sandaran bagi seluruh kenikmatan dan kebaikan”.
Selanjutnya beliau berkata lagi :

“Sedangkan lafazh Ar-Rahîm menunjukkan atas sumber dari seluruh rahmat dan kebaikan, dan bahwa — Ar-Rahîm — itu merupakan shifat yang tetap dan wajib”.
(Lihat Tafsîr Al-Qâsimî juz I hal. 225)
