Pustaka Buku

arifin-ilham-bookSekilas bersama Muhammad Arifin Ilham dan Aktifitasnya
Ust. Debby Nasution
Buku ini bercerita tentang sosok seorang da’i muda yang sangat kondang saat ini, yaitu Muhammad Arifin Ilham dan da’wahnya untuk melakukan dzikir berjama’ah, yang mendapat sambutan begitu luas dari berbagai kalangan masyarakat mulai dari kelas bawah sampai kelas atas, dari rakyat jelata sampai orang kaya, dari preman sampai para ustadz dan kiyai, dari akademisi sampai politisi kelas kakap maupun kelas teri, dari polisi berpangkat rendahan sampai tentara berpangkat jenderal, dari seniman dan budayawan sampai tukang ojek dan juga tukang pijit tunanetra, dari musisi jalanan alias tukang ngamen sampai group band kondang di negeri ini.
Begitu-pula media-masa terutama sekali stasiun-stasiun tv swasta berupaya memanfaatkannya, mereka datang berbondong-bondong mendekatinya demi meraih pemirsa meskipun sering tanpa etika, menampilkan da’wahnya dengan selingan iklan biduanita dangdut yang setengah busana.
Bahkan dari jajaran menteri sampai presiden alias kepala negara menyambut baik da’wahnya, di antara mereka ada yang ikhlas, yaitu benar-benar ikut berdzikir secara serius bersamanya, namun ada juga yang memiliki tujuan pribadi (vested interest) ingin memanfaatkannya, terutama sekali dari kalangan politisi dan partai politik, tentunya demi kepentingan jangka pendek politik praktis mereka.
Dan mereka semua dia sikapi dengan baik, husnu-zhan, akhlaqul-karimah dan tetap menjaga diri untuk tidak terlibat ke dalam lingkaran politik praktis.
Namun, sosok da’i muda ini tidak pernah sepi dari kritik mulai dari yang halus, positif dan membangun sampai dengan yang kasar, mengecam, menghina bahkan menghujat.
Al-Hamdulillâh dia tidak pernah membalas hinaan dan hujatan itu dengan ucapan kasar apalagi dengan tindakan kasar, karena kekasaran memang bukan shifatnya.
Buku kecil ini tidak bermaksud membelanya dari segala macam kecaman atau hujatan, karena ia memang tidak memerlukan pembelaan dari hal seperti itu.
Dan juga tidak bermaksud menampilkan dirinya sebagai sosok atau tokoh yang harus ditiru atau dicontoh apa lagi didewa-dewakan.
Karena di samping ia memang tidak suka di puja-puja, agama Islâm yang sempurna ini telah memiliki figur yang layak, sempurna dan wajib dicontoh, ialah Rasûlullâh saw.

tata-cara-shalat-nabiTatacara shalat Nabi Muhammad SAW
Syaikh ‘Abdul-’Azîs bin ‘Abdillâh bin Bâz
Kitab yang ada di hadapan para pembaca yang mulia adalah kitab yang menerangkan secara ringkas tata-cara shalat Rasûlullâh saw. yang merupakan buah tangan salah seorang ulamâ’ besar dan juga seorang mufti besar di Kerajaan Saudi ‘Arabia, yaitu: Syaikh ‘Abdul-’Azîz bin ‘Abdillâh bin Bâz (rahimahullâh) yang berjudul : “Kayfiyatush-Shalâtin Nabiyi saw.”.
Kitab ini kami terjemahkan dengan idzin tertulis dari beliau (terlampir) dan kami beri judul : “Tata Cara Shalat Nabi saw.”.
Dan atas idzin beliau juga kami lengkapi dengan beberapa tambahan yang kami anggap perlu bagi siapa-saja yang ingin mengikuti shalatnya Rasûlullâh saw. khususnya keluarga besar Studi Islâm As-Salafush-Shâlih yang telah bertekad untuk menghidupkan sunnah-sunnah Beliau saw.
Tujuan kami tidak lain hanyalah agar kita semua betul-betul bisa mengerti dan memahami kitab shalat ini dan selanjutnya mengamalkannya dengan sepenuh hati sehingga kita semua berhak menyandang gelar pengikut setia pendukung sunnah Nabi kita yang mulia Muhammad saw. yang akan bersama-sama Beliau menghirup air telaga Al-Kautsar kelak di hari qiyamat.
Di dalam kitab ini kami nuqilkan dalil-dalil yang mudah dimengerti dan dipahami yang sebagian besar kami kutip dari kitab “Shifatush-Shalâtin-Nabiyyi saw.” karya Syaikh Muhammad Nâshirud-Dîn Al-Albânî (rahimahullâh).
Sebuah kitab bermutu tinggi yang menjelaskan secara rinci tata cara shalat Rasûlullâh saw. namun cukup sulit untuk dipelajari dalam waktu singkat.
Akhirul-Kalam semoga Allâh melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad saw. dan seluruh keluarganya serta para shahabatnya, dan siapa-saja yang mengikuti jejaknya sampai hari qiyamat.

dzikrullahDzikrullâh
Ust. Debby Nasution
Risalah ini menjelaskan tentang makna dan pengertian dzikir dari segi bahasa dan metode pelaksanaannya menurut Rasûlullâh saw.
Serta tujuan atau target yang hendak dicapai oleh setiap muslim dengan dzikir-dzikir tersebut, baik di dunia maupun di akhirat.
Sangatlah penting bagi setiap muslim untuk mempelajari dan mengetahui masalah ini secara mendalam, kemudian melaksanakannya sesuai dengan petunjuk Rasûlullâh saw, karena Beliau-lah satu-satunya contoh yang sempurna, khususnya dalam masalah ini dan umumnya pada semua segi kehidupan. Allâh SWT telah menegaskan hal ini dalam firman-Nya :
“Laqod kâna lakum fî Rasûlillâhi uswatun hasanatun liman kâna yarjullâh wal-yaumal-âkhira wa dzakarallâha katsîran”
Artinya :
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasûlullâh itu suri tauladan yang baik bagi kalian (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allâh dan (kedatangan) hari akhirat serta ia banyak berdzikir menyebut Allâh” (Surat Al-Ahzab (33) : 21)

Karena semua bentuk pelaksanaan ‘ibadah yang tidak sesuai dengan petunjuk Rasûlullâh saw. Adalah sia-sia belaka, sebagaimana sabda Beliau :
“man ‘amila ‘amalan laisa ‘alaihi amrunâ fa huwa raddun”
Artinya :
“Barang-siapa yang melakukan suatu ‘amal yang tidak berdasarkan petunjuk kami, maka – ‘amal itu – ditolak (sia-sia)”

study-islamStudy Islam seri I
Ust. Debby Nasution
Buku yang ada di hadapan pembaca adalah seri pertama dari buku “Study Islâm” yang insya Allâh akan berlanjut terus dengan seri kedua dst.
Adapun sebagian besar isinya merupakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepada kami, baik melalui sms maupun melalui ta’lim atau pengajian hadits “Shahîh Al-Bukhârî” pada malam Rabu di masjid “Al-Amru Bit-Taqwâ” di perumahan “Mampang Indah Permai” yang disampaikan oleh saya (Debby Nasution) dan dipandu oleh ustadz Muhammad Arifin Ilham.
Dari begitu banyaknya pertanyaan yang disampaikan dan beragamnya, kami menyimpulkan betapa kaum Muslimîn sebenarnya sangat butuh terhadap informasi yang benar tentang Dînul-Islâm, agama mereka yang sempurna sehingga kami merasa perlu menerbitkan buku ini sebagai suatu kebutuhan yang mendesak.
Dan kami berusaha sedapat mungkin untuk memudahkan para pembaca memahami informasi yang ada di dalam buku ini, sebagaimana sabda Rasûlullâh saw. : “Yassirû wa lâ tu’assirû”
Artinya :
“Mempermudahlah, jangan mempersulit……….”.
(H.R. Al-Bukhârî)

shaumShaum, sesuai sunnah Nabi SAW dan kandungan hikmahnya
Ust. Debby Nasution
Alhamdulillâh wahdah, wash-shalatu was-salamu ‘alâ man lâ nâbiya ba’dah. Amma ba’du.
Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allâh yang tiada sesembahan selain Dia.
Shalawat dan salam sejahtera kami sampaikan kepada junjungan kita Nabi pilihan Allâh, Muhammad saw. pembawa hidayah dan rahmah, dan juga atas segenap keluarga dan para shahâbatnya yang berhati suci dan bersih.
Bersama ini kami sampaikan di hadapan pembaca sebuah kitab yang membahas masalah Shaum secara rinci berlandaskan petunjuk Rasûlullâh saw yang terdapat di dalam hadits-hadits beliau yang shâhih, yang merupakan sebaik-baiknya petunjuk ke jalan yang lurus.
Telah sama-sama kita ketahui bahwa Shaum adalah salah satu dari rukun Islâm yang lima dan merupakan ibadah yang tujuannya memelihara diri dan hati manusia dari segala macam penyakit lahir dan bathin yang bersumber dari hawa nafsu, sebagaimana firman Allâh yang artinya :
“Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan Shaum atas kalian, sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian terpelihara (dari kejahatan)”
(Q.S. Al-Baqarah (2) : 183)

Ayat ini secara tegas menyatakan bahwa tujuan Shaum itu ialah supaya kita terpelihara dari kejahatan, baik yang berhubungan dengan lahir maupun yang berhubungan dengan bathin.
Menahan haus dan lapar itu bukanlah tujuan daripada Shaum, sebagaimana yang difahami oleh kebanyakan orang sekarang. Akan tetapi ia adalah jalan untuk mencapai tujuan yang telah disebutkan oleh ayat di atas yaitu memelihara kesucian lahir dan bathin.
Memang, Shaum adalah senjata yang ampuh untuk memerangi syahwat manusia, yang merupakan sumber dari segala macam kejahatan yang melemahkan jiwa, namun pelaksanaannya haruslah sesuai dengan peraturan yang ditetapkan oleh Allâh dan Rasûl-Nya.

Buku “Kedudukan Militer Dalam Islam” Diluncurkan

Sebuah buku berjudul “Kedudukan Militer Dalam Islam dan Peranannya Pada Masa Rasulullah SAW” dibedah di Jakarta, Senin (30/6). Bedah buku karya Debby M Nasution yang diselenggarakan GPMI, ASIISC (As-Salaf, Information and Islamic Study Center) dan MTDK PP Muhammadiyah, dihadiri antara lain Menhub Agum Gumelar, dan Ketua F-PBB DPR Ahmad Sumargono.

Buku ini mengungkap keberhasilan Rasulullah SAW membangun sebuah kekuatan militer yang dilandaskan keimanan dan tauhid, kekuatan militer yang mampu menembus dinding jazirah Arabia, menggempur dan membuat hancur berantakan pasukan Romawi yang terkenal kuat dan berdisiplin dan juga pasukan baju besi Persia yang masyhur.

Debby membeberkan ciri-ciri khusus militer atau pasukan Islam yang dibentuk oleh Nabi yang mulia ini, yang juga menjadi faktor penentu kemenangan mereka di setiap medan tempur, yaitu: moral yang tinggi dan watak yang mulia; mereka bukanlah pasukan yang haus darah, yang gemar merampok.

Dengan kata lain, mereka sepenuhnya menyadari bahwa profesi mereka sebagai militer adalah profesi yang sangat mulia menurut neraca Allah, profesi yang senantiasa harus dipelihara kebersihannya dan sama sekali tidak boleh dikotori oleh perbuatan-perbuatan hina dan tercela.

Agum Gumelar sendiri dalam pengantarnya menyebut setuju dengan Debby bahwa nilai-nilai Islam, meliputi iman dan taqwa sangat penting bagi prajurit. “Prajurit tanpa iman dan taqwa hanya akan menjadikannya sebagai pembunuh yang sadis,” kata dia.

Pendekatan sejarah

Debby Nasution menyusun buku ini pendekatan sejarah, berbicara tentang kedudukannya yang sangat mulia dalam pandangan Islam, profesionalisme, persenjataan, organisasi, tugas-tugas kemiliteran atau operasi militer dan tujuannya serta wajibnya membangun kekuatan militer yang profesional, yang semua itu telah ada dan dilaksanakan sejak masa Rasulullah SAW, serta peranannya yang signifikan dalam menjaga kedaulatan negara dan menegakkan dakwah Islam ke seluruh penjuru.

Mengutip Al-Ustadz Sayyid Quthb (rahimahullah), Debby menulis bahwa Islam harus memiliki kekuatan militer yang mendampinginya di permukaan bumi dengan mengemban 4 (empat) tugas utama:

Pertama: Menghilangkan semua rintangan dan kezhaliman yang menghalangi kebebasan manusia untuk memilih ‘aqidah Islam – atau tetap pada keyakinannya semula – dan kemudian melindungi setiap individu yang telah memilihnya.

Kedua: Menimbulkan rasa gentar siapa saja yang memusuhi agama ini, sehingga mereka tidak berfikir untuk menyerang Negara Islam yang dijaga oleh kekuatan militer ini.

Ketiga: Meningkatkan rasa gentar tersebut di dalam hati para musuh, sehingga mereka tidak pernah berfikir untuk menahan langkah maju Islam yang terus bergerak membebaskan manusia di seluruh permukaan bumi.

Keempat: Menghancurkan semua kekuatan lain di muka bumi yang menempatkan dirinya sebagai Tuhan, menindas manusia dengan peraturan-peraturan yang dibuatnya dan kekuatan yang dimilikinya.

Selain itu buku ini juga sedikit menyinggung tentang masyarakat universal yang dibangun oleh Rasulullah SAW, yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa, seperti Arab, Persia, Romawi, Syam, Mesir, Afrika dan lainnya, serta kebebasan politik yang dinikmati oleh umat Islam pada masa itu. Hal ini menolak anggapan sebagian orang yang menuduh bahwa dalam bidang politik, Islam itu identik dengan militeristik. (Di tulis ulang dari http://www.pelita.or.id)