<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>As-Salaf Information and Islamic Study Center (ASIISC)</title>
	<atom:link href="http://www.asiisc.net/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.asiisc.net</link>
	<description>Kegiatan da&#039;wah Islam sesuai Al-Qur&#039;an dan sunah</description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 Sep 2009 07:59:54 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Perhitungan Zakat Dan Penyalurannya</title>
		<link>http://www.asiisc.net/tanya-jawab/perhitungan-zakat-dan-penyalurannya.html</link>
		<comments>http://www.asiisc.net/tanya-jawab/perhitungan-zakat-dan-penyalurannya.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Sep 2009 07:59:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tanya Jawab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.asiisc.net/?p=1020</guid>
		<description><![CDATA[2009/9/14 Ida &#60;tanya@asiisc.com&#62;
Assalamu&#8217;alaikum Wr. Wb. Bang Debby yang baik,semoga Allah melimpahkan perlindungan&#38;kesehatan pada bang Deb, supaya tetap bisa menjadi narasumber bagi kami. Bagaimana cara menghitung zakat maal jika seseorang memiliki harta sbb: Deposito/tabungan,rumah ke-2(dalam cicilan),kendaraan(dalam cicilan), perhiasan.Tapi masih ada hutang lain-lain seperti kartu kredit(cara bayar yang dipakai untuk pembayaran kebutuhan keluarga,perbaikan rumah, dan bukan untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="gmail_quote">2009/9/14 Ida <span dir="ltr">&lt;tanya@asiisc.com&gt;</span></p>
<blockquote class="gmail_quote" style="border-left: 1px solid #cccccc; margin: 0pt 0pt 0pt 0.8ex; padding-left: 1ex;"><p>Assalamu&#8217;alaikum Wr. Wb. Bang Debby yang baik,semoga Allah melimpahkan perlindungan&amp;kesehatan pada bang Deb, supaya tetap bisa menjadi narasumber bagi kami. Bagaimana cara menghitung zakat maal jika seseorang memiliki harta sbb: Deposito/tabungan,rumah ke-2(dalam cicilan),kendaraan(dalam cicilan), perhiasan.Tapi masih ada hutang lain-lain seperti kartu kredit(cara bayar yang dipakai untuk pembayaran kebutuhan keluarga,perbaikan rumah, dan bukan untuk barang2 konsumtif). Apakah penyalurannya harus ke baitul maal/baznas/laznaz? Atau bisa di salurkan sendiri(dibagi-bagi) ke panti asuhan, panitia yang sedang mendirikan masjid/madrasah. Apakah boleh diberikan langsung kepada orang yang kita tahu tidak bisa membayar hutangnya (gharim-tapi kita tidak tau dia berhutang untuk apa). Terimakasih atas penjelasannya bang. Wassalamu&#8217;alaikum Wr.Wb. Wassalam Ida</p></blockquote>
</div>
<p>Jawab:<br />
Wa&#8217;alaikum salam Wr.Wb. Amin.Jazakillahu Khaira atas do&#8217;anya untuk saya. Deposito atau tabungan, bila nilainya lebih dari 85 gram kena 2 1/2 % setiap tahunnya, tentunya setelah dipotong pajak. Adapun rumah dan kendaraan tidak terkena kewajiban zakat. Perhiasan yaitu emas kalau di bawah 85 gram, zakatnya cukup dibayar satu-kali saja, yaitu 2 1/2 % dari harga keseluruhan. Penyaluran zakat yang tepat memang agak sulit, mengingat syarat orang yang menerimanya harus yang benar &#8216;aqidahnya dan juga melaksanakan shalat 5 waktu. Jadi, untuk saat ini sebaiknya serahkan langsung saja kepada orang yang kita kenal dan tahu, bahwa ia &#8216;aqidahnya benar dan juga melaksanakan shalat 5 waktu.  Atau ya boleh juga diberikan langsung kepada gharimin, dengan catatan hutangnya bukan untuk hal2 yang maksiat. Jadi, kita harus tahu dulu hutangnya itu dalam hal apa.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.asiisc.net/tanya-jawab/perhitungan-zakat-dan-penyalurannya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengertian I&#8217;tikaf</title>
		<link>http://www.asiisc.net/tanya-jawab/pengertian-itikaf.html</link>
		<comments>http://www.asiisc.net/tanya-jawab/pengertian-itikaf.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Sep 2009 06:21:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tanya Jawab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.asiisc.net/?p=1017</guid>
		<description><![CDATA[2009/9/10 Djoko Priambodo &#60;dj.priambodo@gmail.com&#62;
Assalamu&#8217;alaikum Wr.Wb. Bang Debby, dianjurkan untuk melakukan i&#8217;tikaf pada 10 malam terakhir terutama pada malam-malam ganjil. Pertanyaan saya, waktu i&#8217;tikaf itu dimulai dari kapan..?? Bolehkan kita ber-i&#8217;tikaf misalkan dari jam 1 malam hingga jam 3 &#8230;? Jika saya hanya sempat di salah satu malam saja untuk ber-i&#8217;tikaf di masjid, lalu apa yg [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="gmail_quote">2009/9/10 Djoko Priambodo <span dir="ltr">&lt;dj.priambodo@gmail.com&gt;</span></p>
<blockquote class="gmail_quote" style="border-left: 1px solid #cccccc; margin: 0pt 0pt 0pt 0.8ex; padding-left: 1ex;"><p>Assalamu&#8217;alaikum Wr.Wb. Bang Debby, dianjurkan untuk melakukan i&#8217;tikaf pada 10 malam terakhir terutama pada malam-malam ganjil. Pertanyaan saya, waktu i&#8217;tikaf itu dimulai dari kapan..?? Bolehkan kita ber-i&#8217;tikaf misalkan dari jam 1 malam hingga jam 3 &#8230;? Jika saya hanya sempat di salah satu malam saja untuk ber-i&#8217;tikaf di masjid, lalu apa yg sebaiknya dilakukan pada malam2 lainnya ketika di rumah, apakah tetap menghidupkan malam dengan dzikir, do&#8217;a dll..?? Mohon penjelasan Bang, Syukron. Wassalamu&#8217;alaikum Wr.Wb.</p></blockquote>
</div>
<p>Jawab:<br />
Wa&#8217;alaikum salam wr.wb. I&#8217;tikaf dari segi bahasa artinya: &#8220;Iqamah (tegak) &#8212; melakukan suatu &#8211; perbuatan, di suatu tempat&#8221;. Adapun pengertiannya dari segi syara&#8217; ialah: &#8220;Menetap di masjid dengan niat melakukan &#8216;ibadah&#8221;. (An-Nihayah juz III hal. 284). Di dalam hadits 2 yang shahih disebutkan bahwa Nabi saw. biasa melakukan I&#8217;tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan (H.R. Al-Bukhari juz III hal. 62). Seorang &#8216;ulama mengatakan bahwa I&#8217;tikaf adalah memutus komunikasi dengan kehidupan, yaitu meninggalkan dunia sebelum meninggal dunia. Oleh karena itu orang yang I&#8217;tikaf tidak dibolehkan keluar dari tempat I&#8217;tikafnya kecuali ada kebutuhan yang mendesak. &#8216;A-isyah r.a. mengatakan:&#8221;Wa Kana La Yadkhulul-Baita Illa Lihajatin Idza Kana Mu&#8217;takifan&#8221;. Artinya: &#8220;Nabi saw, ketika I&#8217;tikaf tidak masuk ke rumah kecuali ada kebutuhan&#8221; (H.R. Al-Bukhari juz III hal.63). Boleh saja kita I&#8217;tikaf dari jam 1 malam hingga jam 3, karena memang tidak ada ketetapan syari&#8217;at berapa lama seseorang itu harus I&#8217;tikaf. Adapun jika kita di rumah saja pada 10 malam yang terakhir, ya kita tetap melakukan ibadah shalat malam,berdzikir, membaca Al-Quran dsb. dalam rangka mencari Lailatul-Qadar. Karena mencari Lailatul-Qadar itu tidak harus dengan I&#8217;tikaf di masjid, bisa dilakukan dimana saja termasuk di rumah sendiri.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.asiisc.net/tanya-jawab/pengertian-itikaf.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Al-Quran Diturunkan Pada 17 Ramadhan?</title>
		<link>http://www.asiisc.net/tanya-jawab/al-quran-diturunkan-pada-17-ramadhan.html</link>
		<comments>http://www.asiisc.net/tanya-jawab/al-quran-diturunkan-pada-17-ramadhan.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Sep 2009 12:57:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tanya Jawab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.asiisc.net/?p=1013</guid>
		<description><![CDATA[2009/9/7 Djoko Priambodo &#60;dj.priambodo@gmail.com&#62;
Assalamu&#8217;alaikum Wr.Wb. Bang, Al-Qur&#8217;an turun dari Lauh Mahfuz ke langit dunia pada bulan Ramadhan bertepatan dengan malam Qadar. Menurut informasi, malam Qadar itu turun di malam ganjil 10 malam terakhir. Pertanyaan saya, mengapa ada penetapan bahwa Nuzulul Qur&#8217;an itu di malam 17 Ramadhan&#8230;?? Saya dengar di kultum masjid bahwa sesungguhnya turunnya Al-Qur&#8217;an [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="gmail_quote">2009/9/7 Djoko Priambodo <span dir="ltr">&lt;dj.priambodo@gmail.com&gt;</span></p>
<blockquote class="gmail_quote" style="border-left: 1px solid #cccccc; margin: 0pt 0pt 0pt 0.8ex; padding-left: 1ex;"><p>Assalamu&#8217;alaikum Wr.Wb. Bang, Al-Qur&#8217;an turun dari Lauh Mahfuz ke langit dunia pada bulan Ramadhan bertepatan dengan malam Qadar. Menurut informasi, malam Qadar itu turun di malam ganjil 10 malam terakhir. Pertanyaan saya, mengapa ada penetapan bahwa Nuzulul Qur&#8217;an itu di malam 17 Ramadhan&#8230;?? Saya dengar di kultum masjid bahwa sesungguhnya turunnya Al-Qur&#8217;an itu pada tanggal 25 Ramadhan. Mohon penjelasannya. Syukron. Wassalam.</p></blockquote>
</div>
<p>Jawab:<br />
Wa&#8217;alaikum Salam Wr.Wb. Yang dimaksud Nuzul-Quran  pada tanggal 17 Ramadhan adalah Nuzul atau turunnya Al-Quran pertama-kali kepada Rasulullah saw. ketika Beliau bertahannuts (menyepi) di gua Hira&#8217;, yaitu 5 (lima) ayat pertama dari surah Iqra&#8217;. Peristiwa itu dikatakan oleh sebagian orang terjadi pada tanggal 17 Ramadhan. Sedangkan yang dimaksud Al-Quran duturunkan dari Lauhul-Mahfuzh ke Baitul-&#8217;Izzah d langit dunia, terjadi pada Malam Qadar (Lailatul-Qadar; yaitu salah satu malam dari 10 malam terakhir Ramadhan menurut hadits2 yang shahih), turun sekaligus 30 juz. Tahun berapa peristiwa itu terjadi kita tidak tahu, karena Allah hanya menginformasikan bahwa Dia menurunkan Al-Quran pada Malam Qadar saja tanpa menyebut tahunnya, yaitu sekaligus 30 juz, dari Lauhul-Mahfuzh di langit ke-7  ke Baitul-Izzah di langit dunia. Kemudian dari Baitul-&#8217;Izzah dibawa oleh malaikat Jibril sedikit demi sedikit kepada Rasulullah saw, selama 23 tahun. Demikian penjelasan dari Ibnu &#8216;Abbas r.a. Adapun kultum yang Anda dengar yang menyatakan bahwa Al-Quran diturunkan pada tanggal 25 Ramadhan, itu cuma pendapat yang tidak ada dalilnya sama sekali.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.asiisc.net/tanya-jawab/al-quran-diturunkan-pada-17-ramadhan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Segera Berbuka Ketika Matahari Terbenam (Maghrib)</title>
		<link>http://www.asiisc.net/tanya-jawab/segera-berbuka-ketika-matahari-terbenam-maghrib.html</link>
		<comments>http://www.asiisc.net/tanya-jawab/segera-berbuka-ketika-matahari-terbenam-maghrib.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Sep 2009 12:32:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tanya Jawab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.asiisc.net/?p=1011</guid>
		<description><![CDATA[2009/9/7 Yudi &#60;tanya@asiisc.com&#62;
Assalamu &#8216;Alaikum Bang saya pernah membaca tulisan seseorang yg menulis seperti ini: &#8220;tentang shoimien (mereka yang puasa) adalah agar sesegera mungkin membatalkan puasa. “Bahkan belum sempat muazin di masjid menyelesaikan kalimat Allahu Akbar, orang sudah langsung menyeruput minumannya. Seolah merasa berdosa kalau telat satu menit saja.” Bukankah memang kita disunnahkan menyegerakan berbuka Tapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="gmail_quote">2009/9/7 Yudi <span dir="ltr">&lt;<a href="mailto:tanya@asiisc.com" target="_blank">tanya@asiisc.com</a>&gt;</span></p>
<blockquote class="gmail_quote" style="border-left: 1px solid #cccccc; margin: 0pt 0pt 0pt 0.8ex; padding-left: 1ex;"><p>Assalamu &#8216;Alaikum Bang saya pernah membaca tulisan seseorang yg menulis seperti ini: &#8220;tentang shoimien (mereka yang puasa) adalah agar sesegera mungkin membatalkan puasa. “Bahkan belum sempat muazin di masjid menyelesaikan kalimat Allahu Akbar, orang sudah langsung menyeruput minumannya. Seolah merasa berdosa kalau telat satu menit saja.” Bukankah memang kita disunnahkan menyegerakan berbuka Tapi jangan lupa, Al-Qur’an justru menganjurkan untuk menyempurnakan puasa hingga malam hari – sekitar 20 menit sesudah azan maghrib. &#8220;Wa-atimus-shiyaama ila-al-laili” (Koreksi: Bukan &#8220;Wa&#8221; tapi &#8220;Tsumma&#8221;) kata Kiwir menyitir petikan Surat Al-Baqarah 187. 187. Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah Pakaian bagimu, dan kamupun adalah Pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, Karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma&#8217;af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang Telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri&#8217;tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, Maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.&#8221; “Bukankah Al-Qur’an harus lebih diutamakan ketimbang hadis yang sebagiannya bahkan tidak sahih?” Bagaimana ini Bang Debby? apakah maksud dari ayat di atas ,menyempurnakan puasa hingga berbuka sampai datang malam? Shahih atau tidak Bang , Hadits yang menyegerakan berbuka puasa tersebut.. atas pencerahannya saya ucapkan terimakasih Bang&#8230; Wassalam</p></blockquote>
<div>
Jawab:<br />
Wa&#8217;alaikum Salam Wr.Wb. Tetang perintah men-segerakan berbuka telah disebutkan dalam hadits2 yang shahih antara lain sabda Nabi saw.: &#8220;La Yazalun-Nas Bikhairin Ma &#8220;Ajjalul-Fithra&#8221; artinya: &#8220;Tidak henti-henti manusia mendapat kebaikan selagi mereka men-segerakan berbuka&#8221; (H.R. Al-BukharI), dan masih banyak lagi hadits2 yang bernada seperi ini. Anjuran Nabi saw untuk segera berbuka, tidak menunda-nundanya merupakan bukti kemudahan Islam, dan bahwasanya syari&#8217;at itu pada dasarnya menganjurkan manusia untuk bersikap mudah dalam beragama, tapi tidak berarti menggampangkan secara sembarangan. Dan perintah itu juga sudah dilaksanakan oleh para shahabat Rasulullah saw. Adapun yang dimaksud &#8220;Tsumma Atimmush-Shiyamu Ilal-Lail&#8221;  menurut Ibnu Katsir ialah &#8220;Yaqtadhil-Ifthar &#8216;Inda Ghurubisy-Syamsi Hukman Syar&#8217;iyyan&#8221; Artinya: &#8220;Ayat ini mewajibkan berbuka ketika Matahari terbenam (mahgrib) sesuai dengan hukum syari&#8217;at&#8221; (Tafsir Ibnu Katsir juz I hal. 223). Juga Al-Qurthubi ketika menafsirkan ayat ini, menukilkan sebuah hadits sabda Nabi saw.:&#8221;Idza Ghabatusy-Syamsu Min Hahuna Wa Ja-al-Lailu Min Hahuna Faqad Afharash-Sha-imu&#8221;. Artinya: &#8220;Ketika Matahari telah terbenam dari sana, dan malam telah datang dari sana, maka sungguh orang yang berpuasa harus berbuka&#8221;. H.R. Muslim (Tafsir Al-Qurthubi Juz I hal.703-704). Dan ini merupakan pemahaman kaum Muslimin dari masa -masa, bahwa kalau masuk waktu maghrib ya puasa sudah selesai, tidakperlu menunggu 20 menit dulu seperti yang Anda katakan. Tidak ada keterangan seperti itu baik dalam Al-Quran maupun dalam hadits2 yang shahih. Jadi, Anda tidak berhak mencela orang2 yang segera berbuka menyeruput minumannya meskipun muadzain belum menyelesaikan ucapan Allahu Akbar, karena perbuatan mereka itu sudah tepat berdasarkan hadits2 yang shahih. Al-Quran memang harus diutamakan kalau berlawanan dengan hadits. Tapi hadits2 yang saya kemukakan, di samping shahih juga tidak berlawanan dengan Al-Quran, justru para &#8216;ulama Ahli Tafsir menggunakan hadits2 tersebut sebagai keterangan dari ayat 187 (surah Al-Baqarah). Sedangkan Kiwir bukan seorang &#8216;ulama, dia seorang pelawak, jadi ucapannya tidak bisa dijadikan refrensi. Kalau Anda masih kurang puas silahkan lihat juga Tafsir Al-Maraghi juz I hal. 254.</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.asiisc.net/tanya-jawab/segera-berbuka-ketika-matahari-terbenam-maghrib.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa Arti Taqwa?</title>
		<link>http://www.asiisc.net/tanya-jawab/apa-arti-taqwa.html</link>
		<comments>http://www.asiisc.net/tanya-jawab/apa-arti-taqwa.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Sep 2009 23:09:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tanya Jawab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.asiisc.net/?p=1008</guid>
		<description><![CDATA[2009/9/6 hera &#60;herameutia.desilina@yahoo.co.id&#62;
Ass. Apa sebenarnya taqwa? Apa org taqwa atau iman juga bisa salah?  wass

Jawab:
W.ass. Wr.Wb. &#8220;Taqwa&#8221; adalah isim dari kata &#8220;Ittiqa&#8221; yang asal katanya adalah &#8220;Waqa, Yaqi, Wiqayah&#8221; artinya: Terpelihara dan terlindung dari penyakit; terutama sekali penyakit batin, yaitu syahwat; sedangkan syahwat itu artinya: &#8220;keinginan untuk memiliki dan menguasai sesuatu&#8221;. Jadi, Taqwa itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="gmail_quote">2009/9/6 hera <span dir="ltr">&lt;herameutia.desilina@yahoo.co.id&gt;</span></p>
<blockquote class="gmail_quote" style="border-left: 1px solid #cccccc; margin: 0pt 0pt 0pt 0.8ex; padding-left: 1ex;"><p>Ass. Apa sebenarnya taqwa? Apa org taqwa atau iman juga bisa salah?  wass</p></blockquote>
</div>
<p>Jawab:<br />
W.ass. Wr.Wb. &#8220;Taqwa&#8221; adalah isim dari kata &#8220;Ittiqa&#8221; yang asal katanya adalah &#8220;Waqa, Yaqi, Wiqayah&#8221; artinya: Terpelihara dan terlindung dari penyakit; terutama sekali penyakit batin, yaitu syahwat; sedangkan syahwat itu artinya: &#8220;keinginan untuk memiliki dan menguasai sesuatu&#8221;. Jadi, Taqwa itu adalah qalbu (hati) yang bersih, terpelihara dari dorongan2 keinginan memiliki dan menguasai. Sebagian &#8216;ulama mendefinisikan &#8220;Taqwa&#8221; sebagai &#8220;Makhafatullahi Wal-&#8217;Amalu Bi Tha&#8217;atihi&#8221;; artinya: &#8220;Rasa takut kepada Allah, dan melaksanakan keta&#8217;atan kepada-Nya&#8221;. Karena hanya dengan hati yang takut dan diri yang tunduk kepada Allah, manusia bisa menjalankan segala perintah Allah serta menjauhi larangan Allah. Orang bertaqwa atau beriman tidak steril dari kesalahan atau dosa, sebagaimana manusia pada umumnya. Hanya saja, perbedaan antara orang yang bertaqwa dan orang yang tidak bertaqwa dalam hal kesalahan (dosa), terletak pada cara menyikapinya. Orang yang bertaqwa akan menyesal bila melakukan kesalahan, dan segera sadar lalu beristighfar minta ampun kepada Allah serta bertaubat (kembali) ke-jalan yang lurus. Dan senantiasa berusaha memperbaiki diri serta bertaqarrub kepada Allah. Sedangkan orang yang tidak bertaqwa, tidak pernah merasa menyesal terhadap semua dosa atau kesalahan yang ia perbuat. Jangankan menyesal, malahan ada yang merasa bangga terhadap perbuatan dosanya. Jadi, orang bertaqwa atau beriman tidak luput dari dosa dan kesalahan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.asiisc.net/tanya-jawab/apa-arti-taqwa.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beramal Dengan Hadits Dha&#8217;if</title>
		<link>http://www.asiisc.net/tanya-jawab/beramal-dengan-hadits-dhaif.html</link>
		<comments>http://www.asiisc.net/tanya-jawab/beramal-dengan-hadits-dhaif.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Sep 2009 16:02:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tanya Jawab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.asiisc.net/?p=1005</guid>
		<description><![CDATA[2009/9/5 ganif aswoko &#60;ganifaswoko@yahoo.com&#62;
Bagaimanakah hukum beramal dengan menggunakan hadist dha&#8217;if yang berkaitan dengan targhib yakni memotivasi orang untuk lebih giat dalam beribadah ? Tarhib memberikan rasa takut kepada orang utk tidak berbuat maksiat ?

Jawab:
Dha&#8217;if artinya &#8220;lemah&#8221;, lawan kata dari &#8220;qawiy&#8221; yang berarti kuat. Hadits dha&#8217;if adalah hadits yang tidak memenuhi kriteria &#8220;shahih&#8221; atau &#8220;hasan&#8221;. Hadits [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="gmail_quote">2009/9/5 ganif aswoko <span dir="ltr">&lt;ganifaswoko@yahoo.com&gt;</span></p>
<blockquote class="gmail_quote" style="border-left: 1px solid #cccccc; margin: 0pt 0pt 0pt 0.8ex; padding-left: 1ex;"><p>Bagaimanakah hukum beramal dengan menggunakan hadist dha&#8217;if yang berkaitan dengan targhib yakni memotivasi orang untuk lebih giat dalam beribadah ? Tarhib memberikan rasa takut kepada orang utk tidak berbuat maksiat ?</p></blockquote>
<div>
Jawab:<br />
Dha&#8217;if artinya &#8220;lemah&#8221;, lawan kata dari &#8220;qawiy&#8221; yang berarti kuat. Hadits dha&#8217;if adalah hadits yang tidak memenuhi kriteria &#8220;shahih&#8221; atau &#8220;hasan&#8221;. Hadits dha&#8217;if disebut juga hadits mardud (ditolak). Mengamalkan hadits dha&#8217;if yang berkaitan dengan Fadha-ilul-&#8217;Amal atau targhib wat-tarhib, sebagian &#8216;ulama membolehkannya dengan syarat2, sebagaimana ditegaskan oleh Imam Ibnu Hajar:<br />
1.- Kualitas kedha&#8217;ifannya tidak terlalu, dengan kata-lain tidak boleh mengamalkan hadits dha&#8217;if yang diriwayatkan oleh orang2<br />
pendusta atau yang dituduh berbuat dusta, atau yang fatal (sangat buruk) kesalahannya.<br />
2.- Hadits dha&#8217;if tersebut harus bersumber pada dalil yang bisa diamalkan.<br />
3.- Pada waktu mengamalkan hadits dha&#8217;if tersebut, tidak boleh mempercayai kepastian hadits itu, melainkan dengan sikap<br />
&#8220;ikhtiath&#8221; (hati2 dalam agama).<br />
Demikian syarat2 yang diajukan oleh Imam Ibnu Hajar. Namun, menurut hemat kami, sebaiknya hadits2 dha&#8217;if itu ditinggalkan saja, jangan digunakan baik sebagai landasan menetapkan suatu hukum maupun sebagai landasan suatu &#8216;aqidah, sebagaimana ditegaskan oleh para &#8216;ulama. Demikian juga yang berkaitan dengan Fadha-ilul-&#8217;Amal atau targhib wat-tarhib. Ini adalah sikap hati2 dalam beramal, dan seperti ini juga sikap sebagian &#8216;ulama dari kalangan ahli hadits seperti Syaikh Al-Albani (rahimahullah) dan juga &#8216;ulama dari kalangan ahli fiqih sperti Dr. Yusuf Al-Qardhawi.</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.asiisc.net/tanya-jawab/beramal-dengan-hadits-dhaif.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Orang Yang Dalam Keadaan Safar Dan Tidak Berpuasa Boleh Melakukan Hubungan Suami Isteri</title>
		<link>http://www.asiisc.net/tanya-jawab/orang-yang-dalam-keadaan-safar-dan-tidak-berpuasa-boleh-melakukan-hubungan-suami-isteri.html</link>
		<comments>http://www.asiisc.net/tanya-jawab/orang-yang-dalam-keadaan-safar-dan-tidak-berpuasa-boleh-melakukan-hubungan-suami-isteri.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Sep 2009 00:15:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tanya Jawab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.asiisc.net/?p=1002</guid>
		<description><![CDATA[2009/9/4 Djoko Priambodo &#60;dj.priambodo@gmail.com&#62;
Assalamu&#8217;alaikum Wr.Wb. Bang Debby, saya mendapat pertanyaan yang tidak bisa saya jawab, berkaitan dengan orang yang meninggalkan puasa karena (misalkan) dalam perjalanan (safar), pertanyaannya apakah halal melakukan hubungan suami isteri bagi mereka yang meninggalkan puasa karena safar..?  Atau tetap dikenakan hukuman 2 bulan puasa&#8230;? Mohon disertai rujukannya bang&#8230; syukron. Wassalamu&#8217;alaikum wr.wb.

Jawab:
Orang yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="gmail_quote">2009/9/4 Djoko Priambodo <span dir="ltr">&lt;dj.priambodo@gmail.com&gt;</span></p>
<blockquote class="gmail_quote" style="border-left: 1px solid #cccccc; margin: 0pt 0pt 0pt 0.8ex; padding-left: 1ex;"><p>Assalamu&#8217;alaikum Wr.Wb. Bang Debby, saya mendapat pertanyaan yang tidak bisa saya jawab, berkaitan dengan orang yang meninggalkan puasa karena (misalkan) dalam perjalanan (safar), pertanyaannya apakah halal melakukan hubungan suami isteri bagi mereka yang meninggalkan puasa karena safar..?  Atau tetap dikenakan hukuman 2 bulan puasa&#8230;? Mohon disertai rujukannya bang&#8230; syukron. Wassalamu&#8217;alaikum wr.wb.</p></blockquote>
<div>
Jawab:<br />
Orang yang meninggalkan puasa karena alasan perjalanan termasuk dibenarkan atau dibolehkan oleh syari&#8217;at, sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Baqarah (2) ayat 184: &#8220;Fa man Kana Minkum Maridhan Aw &#8216;Ala Safarin Fa&#8217;iddatun Min Ayyamin Ukhar&#8221;. Artinya: &#8220;Maka barang-siapa di antara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah ia berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari2 yang lain&#8221;. Berdasarkan ayat ini, orang yang dalam perjalanan boleh tidak berpuasa (berbuka), makan minum sebagaimana biasanya. Jadi, logikanya kalau boleh makan minum, ya boleh juga melakukan hubungan suami isteri.</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.asiisc.net/tanya-jawab/orang-yang-dalam-keadaan-safar-dan-tidak-berpuasa-boleh-melakukan-hubungan-suami-isteri.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Status Anak Angkat</title>
		<link>http://www.asiisc.net/tanya-jawab/status-anak-angkat.html</link>
		<comments>http://www.asiisc.net/tanya-jawab/status-anak-angkat.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Sep 2009 00:00:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tanya Jawab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.asiisc.net/?p=999</guid>
		<description><![CDATA[2009/9/3 Endah &#60;endahbogor@yahoo.co.id&#62;
Assalamu&#8217;alaikum Wr.Wbr&#8230;&#8230;Bang, ada teman tanya tentang hukum menikahkan anak angkat (X) (anak angkat adalah keponakan dari kakak perempuannya). Si Y mengambil anak angkat (si X) sejak kecil, awalnya untuk pancingan tapi keterusan sampe bapak kandung si X meninggal. Sekarang si X akan menikah, tapi oleh si Y status si X ini tdk dibuka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="gmail_quote">2009/9/3 Endah <span dir="ltr">&lt;endahbogor@yahoo.co.id&gt;</span></p>
<blockquote class="gmail_quote" style="border-left: 1px solid #cccccc; margin: 0pt 0pt 0pt 0.8ex; padding-left: 1ex;"><p>Assalamu&#8217;alaikum Wr.Wbr&#8230;&#8230;Bang, ada teman tanya tentang hukum menikahkan anak angkat (X) (anak angkat adalah keponakan dari kakak perempuannya). Si Y mengambil anak angkat (si X) sejak kecil, awalnya untuk pancingan tapi keterusan sampe bapak kandung si X meninggal. Sekarang si X akan menikah, tapi oleh si Y status si X ini tdk dibuka kpd calon mantu dan besannya dan si Y sesumbar kalo dia siap menanggung dosa tidak membuka status si X ini,dan ia juga sesumbar lebih baik mati daripada status anak angkatnya dibongkar. Teman saya bingung, setahunya adalah dosa bila menyembunyikan nasab seseorg apalagi merusak nasab seseorg dengan mencantumkan nama dirinya di belakang nama anak angkatnya, teman bertanya&#8230;bagaimana sikap yg sebaiknya dilakukannya terhadap kasus ini ? Begitu Bang&#8230;.mohon dijelaskan ya Bang..Jazakallahu khairon katsiron.</p></blockquote>
<div>
Jawab:<br />
Wa&#8217;alaikum Salam Wr.Wb. Menurut syari&#8217;at Islam, anak angkat tetap anak angkat, artinya tidak sama kedudukannya dengan anak kandung. Soal menikahkannya sih boleh2 saja, tetapi tidak boleh mencantumkan nama orang tua angkat di belakang nama anak angkat atau menisbatkan anak angkat kepada orang tua angkat. Dalam surah Al-Ahzab (33) ayat yang ke 5, Allah berfirman: &#8220;Ud&#8217;uhum Li-Aba-ihim Huwa Aqsathu &#8216;Indallahi&#8221;. Artinya: &#8220;Panggilah mereka (anak2 angkat itu) dengan (memakai) nama ayah2 mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah..&#8221;. Ini adalah perintah wajib dari Al-Quran untuk mencantumkan nama ayah kandung dibelakang nama anak angkat. Dengan kata-lain, ayat ini mengandung larangan untuk mencantumkan nama ayah angkat di belakang nama angkat atau menyembunyikan statusnya yang sebenarnya. Kalimat ayat selanjutnya: &#8220;Fa-in Lam Ta&#8217;lamu Aba-ahum Fa Ikhwanukum Fid-Din&#8221;. Artinya: &#8220;Maka jika kamu tidak mengetahui ayah2 mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara2-mu seagama&#8221;. Jadi, seandainya pun anak2 angkat itu tidak diketahui siapa ayah kandungnya, tetap tidak boleh mencantumkan nama ayah angkat di belakang namanya. Apalagi jika jelas2 diketahui siapa ayah kandungnya seperti kasus teman Anda. Memang, sekilas perbuatan menutupi status angkat, mencantumkan nama ayah angkat di belakang namanya, seolah-olah perbuatan yang baik. Namun, sebenarnya perbuatan itu melanggar aturan Allah, dan termasuk merusak nasab serta dosa besar. Coba Anda nasehati si Y itu supaya tidak usah sesumbar berani menanggung dosa segala. Itu namanya sombong. Karena sesungguhnya dia sudah nekat menantang Allah, apa dia tidak takut masuk Neraka? Apalagi sampai berani mengatakan lebih baik mati daripada status anak angkatnya dibongkar. Apa dia kira kalau dia mati persoalannya selesai? Justru, persoalannya jadi semakin berat kalau dia mati dalam keadaan menantang Allah. Disebutkan dalam satu riwayat dari Nabi saw.: &#8220;Fa Inna Ajsamakum &#8216;Alan-Nari La Taqwa&#8221;. Artinya:&#8221;Sesungguhnya jasad kalian tidak akan kuat di dalam Neraka&#8221;.</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.asiisc.net/tanya-jawab/status-anak-angkat.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengertian Sabar Yang Sesungguhnya</title>
		<link>http://www.asiisc.net/tanya-jawab/pengertian-sabar-yang-sesungguhnya.html</link>
		<comments>http://www.asiisc.net/tanya-jawab/pengertian-sabar-yang-sesungguhnya.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Sep 2009 23:09:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tanya Jawab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.asiisc.net/?p=996</guid>
		<description><![CDATA[2009/9/3 Djoko Priambodo &#60;dj.priambodo@gmail.com&#62;
Assalamu&#8217;alaikum Wr.Wb. Bang Debby, ketika kita berada dalam kesulitan, cobaan atau musibah maka sering kali nasihat orang ke kita adalah untuk bersabar. Lalu di dalam surat Al-Baqarah :45-46, Allah berfirman agar menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong. Pertanyaan saya : 1. Untuk menjadi orang yang sabar, langkah/tahapan/metode apa yang harus dilakukan? Apakah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="gmail_quote">2009/9/3 Djoko Priambodo <span dir="ltr">&lt;<a href="mailto:dj.priambodo@gmail.com" target="_blank">dj.priambodo@gmail.com</a>&gt;</span></p>
<blockquote class="gmail_quote" style="border-left: 1px solid #cccccc; margin: 0pt 0pt 0pt 0.8ex; padding-left: 1ex;"><p>Assalamu&#8217;alaikum Wr.Wb. Bang Debby, ketika kita berada dalam kesulitan, cobaan atau musibah maka sering kali nasihat orang ke kita adalah untuk bersabar. Lalu di dalam surat Al-Baqarah :45-46, Allah berfirman agar menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong. Pertanyaan saya : 1. Untuk menjadi orang yang sabar, langkah/tahapan/metode apa yang harus dilakukan? Apakah sabar selalu berkaitan dengan kesulitan/cobaan/musibah? 2. Bagaimana memahami surat Al-Baqarah : 45-46 dimana sabar dan shalat berfungsi sebagai penolong&#8230;? Wassalamu&#8217;alaikum Wr.Wb.</p></blockquote>
</div>
<p>Jawab:<br />
Wa&#8217;alaikum Salam Wr.Wb. Pertamakali perlu kita pahami dulu arti sabar dari segi bahasa. Al-Imam Abu Bakar Ar-Razi menjelaskan bahwa arti &#8220;Sabar&#8221; dari segi bahasa adalah: &#8220;Habsun-Nafsi &#8216;Anil-Jaza&#8217;i&#8221;; artinya: &#8220;Menahan diri dari keluh kesah&#8221;. Para &#8216;ulama mengatakan bahwa &#8220;Sabar&#8221; itu ada 3 (tiga) tingkat. Tingkat pertama, bersabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah, yaitu dalam melaksanakan perintah Allah. Tingkat kedua, bersabar dalam meninggalkan larangan Allah. Dan tingkat ketiga, bersabar dalam ujian dan cobaan Allah. Jadi, jika seseorang sudah membiasakan atau melatih dirinya untuk bersabar dalam melaksanakan perintah Allah dan juga menjauhi larangan Allah, maka ia akan mampu bersabar ketika mendapat ujian dan cobaan. Artinya, dalam keadaan cobaan yang bagaimana pun, ia dapat terus melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah. Tidak demikian halnya bagi orang yang tidak biasa menjalankan perintah Allah serta meninggalkan larangan Allah. Ia tidak akan mampu bersabar pada saat mendapat cobaan dari Allah.<br />
(1) Ada 3 (tiga) hal yang harus diupayakan agar memperoleh kesabaran. Pertama: Berdo&#8217;a dengan do&#8217;a: &#8220;Rabbana Afrigh &#8216;Alainash-Shabra Wa Tsabbit Aqdamana Wan-Shurna &#8216;Alal-Qaumil-Kafirin&#8221;. Artinya: &#8220;Ya Rabb kami, curahkanlah kesabaran pada kami, dan teguhkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami dalam menghadapi orang2 yg. kafir&#8221; (Surah Al-Baqarah (2):250). Kedua: Berusaha dengan sungguh2 untuk bersikap sabar, sebagaimana firman Allah dalam surah Ali &#8216;Imran (3) ayat 200: &#8220;Ya Ayyuhal-Ladzina Amanush-Biru Wa Shabiru&#8230;&#8221;. Artinya: &#8220;Hai orang2 yang berman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian&#8230;&#8221;. Disebutkan dalam sebuah riwayat dari Nabi saw: &#8220;Man Tashabbara Shabbarallahu &#8216;alaihi&#8221;. Artinya: &#8220;Siapa-saja yang berusaha untuk sabar, maka Allah akan memberikan kesabaran padanya&#8221;. Dan yang ketiga: Saling menasehati sesama muslim untuk senantiasa bersabar, sebagaimana firman Allah dalam surah Al-&#8217;Ashr (103) ayat ke 3: &#8220;Wa Tawashau Bish-Shabri&#8221;. Artinya: &#8220;Dan mereka saling berwasiat dengan kesabaran&#8221;. Maksudnya: Menanamkan kesabaran juga harus melalui saling nasehat menasehati.Inilah 3 (tiga) langkah yang merupakan manhaj (metode) Al-Quran untuk memperoleh kesabaran.<br />
(2) Sebetulnya surah Al-Baqarah (2) ayat 45-46 itu turun berkaitan dengan Bani Israil atau Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) yang ada pada zaman Rasulullah saw, sebagaimana disebutkan pada beberapa ayat sebelumnya, yaitu mulai dari ayat 40 s/d ayat 44; yang mengandung beberapa perintah dan larangan serta teguran Allah kepada mereka. Untuk itulah Allah memerintahkan mereka untuk minta tolong kepada-Nya dengan sabar dan shalat (ayat 45), yaitu minta tolong agar dapat melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah; karena hal itu merupakan perkara yang berat, kecuali bagi orang2 yang khusyu&#8217; (tunduk). Dan ayat 46 menjelaskan pengertian  khusyu&#8217; yang sebenarnya. Jadi, perintah sabar dan minta tolong di sini tidak berkaitan dengan musibah, akan tetapi berkaitan dengan kewajiban menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.asiisc.net/tanya-jawab/pengertian-sabar-yang-sesungguhnya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mulai Shalat Tarawih</title>
		<link>http://www.asiisc.net/tanya-jawab/mulai-shalat-terawih.html</link>
		<comments>http://www.asiisc.net/tanya-jawab/mulai-shalat-terawih.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2009 02:33:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tanya Jawab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.asiisc.net/?p=992</guid>
		<description><![CDATA[2009/9/2 yazid endah &#60;dd_cengeng@yahoo.com&#62;
Bang kenapa kalau ingin puasa satu hari sebelum puasa harus shalat tarawih.

Jawab;
Hitungan bulan yang digunakan oleh umat Islam adalah hitungan bulan Qamariyah, yaitu pergantian hari atau tanggal terjadi setelah Matahari terbenam. Jadi, kalau misalnya hari ini tanggal 30 Sya&#8217;ban, atau hari terakhir bulan Sya&#8217;ban, begitu masuk waktu Maghrib, berarti itu sudah masuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="gmail_quote">2009/9/2 yazid endah <span dir="ltr">&lt;dd_cengeng@yahoo.com&gt;</span></p>
<blockquote class="gmail_quote" style="border-left: 1px solid #cccccc; margin: 0pt 0pt 0pt 0.8ex; padding-left: 1ex;"><p>Bang kenapa kalau ingin puasa satu hari sebelum puasa harus shalat tarawih.</p></blockquote>
</div>
<p>Jawab;<br />
Hitungan bulan yang digunakan oleh umat Islam adalah hitungan bulan Qamariyah, yaitu pergantian hari atau tanggal terjadi setelah Matahari terbenam. Jadi, kalau misalnya hari ini tanggal 30 Sya&#8217;ban, atau hari terakhir bulan Sya&#8217;ban, begitu masuk waktu Maghrib, berarti itu sudah masuk tanggal 1 Ramadhan, sudah bukan bulan Sya&#8217;ban lagi. Oleh karena itu umat Islam pada malam harinya sudah mulai menjalankan shalat tarawih, kan sudah masuk tanggal 1 Ramadhan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.asiisc.net/tanya-jawab/mulai-shalat-terawih.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
