<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>As-Salaf Information and Islamic Study Center (ASIISC) &#187; TALKHIS (RINGKASAN)</title>
	<atom:link href="http://www.asiisc.net/category/talkhis-ringkasan/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.asiisc.net</link>
	<description>Kegiatan da&#039;wah Islam sesuai Al-Qur&#039;an dan sunah</description>
	<lastBuildDate>Sun, 18 Sep 2011 11:08:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Tinggal Satu Atap Dengan Mertua</title>
		<link>http://www.asiisc.net/talkhis-ringkasan/tinngal-satu-atap-dengan-mertua.html</link>
		<comments>http://www.asiisc.net/talkhis-ringkasan/tinngal-satu-atap-dengan-mertua.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Jul 2009 10:36:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[TALKHIS (RINGKASAN)]]></category>
		<category><![CDATA[Tanya Jawab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.asiisc.net/?p=810</guid>
		<description><![CDATA[Bang, bagaimana pandangan Islam tentang hidup berumah tangga satu atap dengan mertua? Karena disitu masih ada campur tangan orang lain(mertua) dalam pendidikan tumbuh kembang anak. Karena bukankah sebuah kewajiban harusnya bapak si anak yang mesti memberi karakter dan pilihan pendidikan buat anaknya. Terima kasih. Jawab: Sebetulnya dalam Islam tidak ada aturan yang melarang atau menganjurkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Bang, bagaimana pandangan Islam tentang hidup berumah tangga satu atap dengan mertua? Karena disitu masih ada campur tangan orang lain(mertua) dalam pendidikan tumbuh kembang anak. Karena bukankah sebuah kewajiban harusnya bapak si anak yang mesti memberi karakter dan pilihan pendidikan buat anaknya. Terima kasih.<span id="more-810"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Jawab:<br />
Sebetulnya dalam Islam tidak ada aturan yang melarang atau menganjurkan hidup berumah tangga satu atap dengan mertua. Yang jadi pertimbangan adalah bisa atau tidaknya saling menghargai antara mantu dengan mertua sesuai dengan hak dan kewajiban masing2, dan kuncinya adalah komunikasi. Rasulullah saw. bersabda (yang artinya): ”Siapa-saja yang mengaku beriman kepada Allah dan Hari Akhirat hendaklah ia berbicara dengan baik atau lebih baik diam” (H.R. Al-Bukhari)<br />
Hadits ini merupakan perintah bagi setiap muslim untuk membangun komunikasi yang sehat dengan siapa-saja, yaitu dengan berbicara yang baik atau diam. Demikian juga halnya antara mantu dengan mertua. Kemudian dilanjutkan dengan membangun sikap saling menghormat dan menyayangi, sebagaimana sabda Rasulullah saw. (yang artinya): ”Bukan golongan kami, orang yang tidak bisa menghormat lebih yang tua dan menyayangi yang lebih muda” .<br />
Namun, bagi sebagian orang soal ini sulit dilakukan jika tinggal satu atap dengan mertua, karena sering terjadi kesalah pahaman yang acap kali memicu konflik. Jadi, jika diprediksi potensi konflik antara dua belah pihak lebih besar daripada sinergy, maka sebaiknya jangan tinggal satu atap dengan mertua. Dan Anda benar, bahwa kewajiban bapak terhadap anaknya adalah membangun karakter yang Islami tentunya dengan memilih pendidikan atau sekolah yang tepat. Dan mertua dalam hal ini tidak dibenarkan melakukan campur tangan apalagi sampai mengintervensi. Namun, sebatas memberi masukan atau saran tentu saja boleh, dan mantu seharusnya memperhatikan dan menghargai masukan yang diberikan mertua.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.asiisc.net/talkhis-ringkasan/tinngal-satu-atap-dengan-mertua.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hasanah fÎl-Âkhirat</title>
		<link>http://www.asiisc.net/talkhis-ringkasan/hasanah-fil-akhirat.html</link>
		<comments>http://www.asiisc.net/talkhis-ringkasan/hasanah-fil-akhirat.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 May 2009 13:40:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Debby Nasution</dc:creator>
				<category><![CDATA[TALKHIS (RINGKASAN)]]></category>
		<category><![CDATA[Âkhirat]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Hajj]]></category>
		<category><![CDATA[Hasanah]]></category>
		<category><![CDATA[Hasanah fÎl-Âkhirat]]></category>
		<category><![CDATA[Surah Al-Hajj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.islam.rudytarigan.com/?p=250</guid>
		<description><![CDATA[Akhirat adalah tahap akhir dari seluruh perjalanan hidup manusia yang semuanya berlangsung dalam 4 (empat) tahap, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Ustadz Ahmmad &#8216;Izzud-Dîn Al-Bayânunî, beliau berkata : يَمُرُّ اْلإِ نْسَانُ فِي أَرْبَعَةِ أَطْوَارٍ مِنَ اْلحَيَاةِ &#8220;Manusia akan melalui 4 (empat) tahap dalam kehidupannya&#8221;. Tahap Awal : Hidup Sebagai Janin Janin atau jabang bayi itu hidup di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Akhirat adalah tahap akhir dari seluruh perjalanan hidup manusia yang semuanya berlangsung dalam 4 (empat) tahap, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Ustadz Ahmmad &#8216;Izzud-Dîn Al-Bayânunî, beliau berkata :<span id="more-250"></span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 20pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;; color: black;" dir="rtl" lang="AR-SA">يَمُرُّ اْلإِ نْسَانُ فِي أَرْبَعَةِ أَطْوَارٍ مِنَ اْلحَيَاةِ</span></p>
<p style="line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana;"><br />
<em>&#8220;Manusia akan melalui 4 (empat) tahap dalam kehidupannya&#8221;.</em></span></p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Tahap Awal</strong></em><strong> : Hidup Sebagai Janin</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Janin atau jabang bayi itu hidup di dalam perut ibunya, ia bergerak dan memilliki rasa. Ia pun tumbuh berkembang dalam keadaan sehat atau sakit. Inilah sebagian dari tanda-tanda kehidupannya. Proses ini terus berlangsung sampai batas yang ditetapkan Allâh baginya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian ia pindah &#8212; dari perut ibunya &#8212; ke alam dunia sebagai bayi yang lemah, sebagaimana firman Allâh :</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 20pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;; color: black;" dir="rtl" lang="AR-SA">وَنُقِرُّ فِي اْلأَرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلاً</span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Dan Kami tetapkan dalam kandungan, apa-apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang ditentukan. Lalu Kami keluarkan kalian sebagai bayi&#8230;&#8230;&#8230;&#8221;.</em><br />
(Surah Al-Hajj (22) : 5)</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Tahap Kedua</strong></em><strong> : Kehidupan Di Dunia</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian setelah ia pindah dari rahim yang sempit ke alam kehidupan yang lebih luas, maka ia pun hidup dengan pola yang jauh berbeda dari pola hidupnya pada tahap awal. Ia mulai menggunakan mulutnya untuk makan, matanya untuk melihat, telinganya untuk mendengar, tangannya untuk memegang dan kakinya untuk melangkah.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan ketika ia mencapai usia dewasa, Allâh pun menganugerahkan &#8216;aqal dan pengetahuan kepadanya. Maka ia pun menetap di dunia sampai batas waktu yang ditentukan Allâh baginya, lalu ia pun mati.</p>
<p style="text-align: justify;">Inilah dua tahap kehidupan manusia yang dapat kita saksikan dengan kedua mata kita, dan kita pun menyaksikan perbedaan yang amat jauh di antara keduanya.</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Tahap Ketiga</strong></em><strong> : Kehidupan Di Barzakh (Alam Kubur)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah mati, ia pun pindah dari kehidupan dunia kepada kehidupan di alam barzakh (kubur), di mana ruh telah berpisah dari tubuh.<br />
Di alam barzakh ia akan mendapatkan kenikmatan atau &#8216;adzab (siksaan) yang sesuai dengan &#8216;amal-perbuatannya di dunia.<br />
Para &#8216;Ulama mengatakan bahwa alam barzakh adalah tahap awal dari kehidupan akhirat. Jadi, apabila manusia mendapatkan kenikmatan di barzakh, bisa dipastikan kelak di akhirat ia pun akan mendapatkan kenikmatan yang lebih besar. Begitu-pula sebaliknya</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Tahap Ke-empat</strong></em><strong> :  Kehidupan Di Akhirat</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah terjadi qiyamat, manusia seluruhnya dibangkitkan dari barzakh atau alam kubur, lalu mereka semuanya dikumpulkan di padang mahsyar untuk dihisab dan dibalas sesuai dengan &#8216;amal perbuatan mereka masing-masing. Maka, sebagian dari mereka ada yang mendapatkan kebahagiaan, yaitu mereka yang berimân kepada Allâh, sebagaimana firman Allâh:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 20pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;; color: black;" dir="rtl" lang="AR-SA">وَعَدَ اللهُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا  اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللهِ أَكْبَرُ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ</span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Allâh telah menjanjikan pada orang-orang mu&#8217;min laki-laki dan perempuan (akan mendapatkan) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan juga tempat-tempat yang indah di surga &#8216;Aden. Dan keridhaan Allâh lebih besar. Yang demikian itulah keuntungan yang besar&#8221;.</em><br />
(Surah At-Taubah (9) : 72)</p>
<p style="text-align: justify;">Inilah <em>&#8220;Hasanah Fîl-Âkhirat&#8221;</em> atau <em>&#8220;Kebahagiaan di Akhirat&#8221;</em> yang    disebut    dalam   do&#8217;a   (Surah   Al-Baqarah   (2)   :   201).</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 20pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;; color: black;" dir="rtl" lang="AR-SA">(وَ فِي اْلآ خِرَةِ حَسَنَةً)</span></p>
<p>Dan masih banyak lagi ayat-ayat Al-Qur-ân yang menginformasikan dan menjelaskan tentang kebahagiaan akhirat.</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun yang sebagian lagi, mendapatkan &#8216;adzab dan kesengsaraan, mereka itu ialah golongan orang-orang munafiq dan orang-orang kafir, sebagaimana firman Allâh :</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 20pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;; color: black;" dir="rtl" lang="AR-SA">وَعَدَ اللهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا هِيَ حَسْبُهُمْ وَلَعَنَهُمُ اللهُ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُقِيمٌ</span></p>
<p><em>&#8220;Allâh menjanjikan bagi orang-orang munafiq laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allâh melaknati mereka. Dan bagi mereka &#8216;adzab yang kekal&#8221;.</em><br />
(Surah At-Taubah (9) : 68)</p>
<p style="text-align: justify;">Inilah  yang  terkandung  dalam do&#8217;a (Surah Al-Baqarah (2) : 201) :</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 20pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;; color: black;" dir="rtl" lang="AR-SA">(وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ).&#8221;</span></p>
<p>&#8220;dan jagalah kami dari siksa neraka&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Imâm Ibnu Katsîr (rahimahullâh) berkata :</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 20pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;; color: black;" dir="rtl" lang="AR-SA">وَ أَمَّا اْلحَسَنَةُ فِي اْلآ خِرَةِ فَأَعْلَى ذَلِكَ دُخُوْلُ اْلجَنَّةِ وَ تَوَابِعُهُ مِنَ اْلأَمْنِ مِنَ اْلفَزَعِ اْلأَكْبَرِ فِي اْلعَرَصَاتِ وَ تَيْسِيْرِ اْلحِسَابِ وَ غَيْرِ ذَلِكَ مِنْ أُمُوْرِ اْلآ خِرَةِ الصَّالِحَةِ </span></p>
<p><em>&#8220;Adapun Hasanah Fîl-Âkhirat, yang paling utama ialah masuk surga, setelah sebelumnya selamat dari kejutan (gempa) yang besar di semua halaman rumah (tempat) &#8212; di dunia &#8211;, dan ringannya hisaban serta semua perkara yang baik di akhirat&#8221;.</em><br />
(Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr juz I hal. 244)</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, secara garis besar, <em>&#8220;Hasanah Fîl-Âkhirat&#8221;</em> mencakup 3 (tiga) aspek, yaitu: Selamat dari gempa qiyamat, hisaban yang mudah dan masuk surga.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Gempa (Goncangan) Qiyamat</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Qiyamat atau As-Sâ&#8217;ah ialah hari kehancuran seluruh alam semesta. Peristiwa ini diawali dengan goncangan atau gempa yang luar-biasa, sebagaiman firman Allâh :</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 20pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;; color: black;" dir="rtl" lang="AR-SA">يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ , يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى وَمَا هُمْ بِسُكَارَى وَلَكِنَّ عَذَابَ اللهِ شَدِيدٌ</span></p>
<p><em>&#8220;Wahai manusia, baertaqwalah kepada Rabb kalian, sesungguhnya goncangan hari qiyamat itu adalah suatu kejadian yang amat besar (dahsyat). (Ingatlah) pada hari (ketika) kalian melihat goncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya, dan gugurlah semua kandungan wanita hamil, dan engkau melihat semua manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi siksa Allâh itu sangat keras&#8221;.</em><br />
(Surah Al-Hajj (22) : 1 &amp; 2)</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Imâm Ibnu Katsîr menukilkan pendapat sebagian orang yang berkata (mengenai goncangan ini) :</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 20pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;; color: black;" dir="rtl" lang="AR-SA">هَذِهِ الزَّ لْزَ لَةُ كَائِنَةٌ فِي آخِرِ عُمُرِ الدُّنْيَا وَ أَوَّلِ أَحْوَالِ السَّاعَةِ</span></p>
<p><em>&#8220;Ini goncangan yang terjadi di akhir umur dunia dan merupakan awal dari seluruh peristiwa qiyamat&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;Alqamah berkata :</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 20pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;; color: black;" dir="rtl" lang="AR-SA">قَبْلَ السَّاعَةِ</span></p>
<p><em>&#8220;(Goncangan ini) sebelum terjadinya qiyamat&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Asy-Sya&#8217;bî berkata :</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 20pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;; color: black;" dir="rtl" lang="AR-SA">هَذاَ فِي الدُّنْيَا قَبْلَ يَوْمِ اْلقِيَامَةِ</span></p>
<p><em>&#8220;Ini terjadi di dunia sebelum hari qiyamat&#8221;.</em><br />
(Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr juz III hal 293)</p>
<p style="text-align: justify;">Ayat ini menceritakan betapa hebatnya goncangan atau gempa yang terjadi pada hari qiyamat serta pengaruhnya pada &#8216;aqal dan jiwa manusia, sehingga wanita-wanita yang sedang menyusui anaknya lupa kepada anak yang sedang disusuinnya, para wanita hamil mengalami keguguran karena hebatnya gempa tersebut. Dan manusia pun terlihat mabuk seperti kehilangan &#8216;aqal.</p>
<p style="text-align: justify;">Di akhir ayat ditegaskan bahwa sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi siksa Allâh yang berupa gempa itulah yang membuat mereka merasa ketakutan dan panik sehingga mereka kehilangan &#8216;aqal. Dan mereka inilah seburuk-buruknya manusia, sebagaimana sabda Rasûlullâh saw. :</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 20pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;; color: black;" dir="rtl" lang="AR-SA">مِنْ شِرَارِ النَّاسِ مَنْ تُدْرِكُهُمُ السَّاعَةُ وَ هُمْ أَحْيَاءٌ</span></p>
<p><em>&#8220;Seburuk-buruk manusia ialah orang yang mengalami qiyamat dalam keadaan hidup&#8221;.</em><br />
(H.R. Al-Bukhârî. Lihat Fathul-Kabîr juz V hal. 218 no.: 5792)</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Hisaban Yang Mudah</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah kehancuran total alam semesta, seluruh manusia dibangkitkan kembali untuk dihisab atau diperiksa semua &#8216;amal perbuatannya di dunia, untuk menerima balasan yang setimpal. Maka siapa-saja yang menjalani hisaban atau pemeriksaan dengan ketat, ia pasti disiksa, sebagaimana sabda Rasûlullâh saw. :</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 20pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;; color: black;" dir="rtl" lang="AR-SA">مَنْ نُوْقِشَ اْلحِسَابُ عُذِّبَ</span></p>
<p><em>&#8220;Siapa-saja yang diinterogasi pada saat dihisab, pastilah ia disiksa&#8221;.</em><br />
(H.R. Al-Baihaqî. Lihat Fathul-Kabîr juz V hal. 364 no.: 6454)</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut Al-Imâm Ibnul-Atsîr yang dimaksud orang yang diinterogasi dalam hadits ini ialah :</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 20pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;; color: black;" dir="rtl" lang="AR-SA">مَنِ اسْتُقْصِيَ فِي مُحَاسَبَتِهِ وَ حُقِّقَ</span></p>
<p><em>&#8220;Orang yang diselidiki dengan mendalam dan diteliti (semua perbuatannya)&#8221;.</em><br />
(An-Nihâyah juz V hal. 106)</p>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan mereka yang beruntung ialah yang menjalani hisaban dengan ringan atau mudah, sebagaimana firman Allâh :</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 20pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;; color: black;" dir="rtl" lang="AR-SA">فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ , فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا</span></p>
<p><em>&#8220;Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka ia akan dihisab dengan hisaban yang mudah&#8221;.</em><br />
(Surah Al-Insyiqâq (84) : 7 &amp; 8 )</p>
<p style="text-align: justify;">Rasûlullâh saw. memerintahkan umatnya supaya selalu mohon kepada Allâh agar diberi kemudahan hisaban, sebagaimana do&#8217;a Beliau saw. :</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 20pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;; color: black;" dir="rtl" lang="AR-SA">الَّلهُمَّ حَاسِبْنِي حِسَابًا يَسِيْرًا</span></p>
<p><em>&#8220;Ya Allâh, hisablah aku dengan hisaban yang mudah&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Ketika itu &#8216;Â-isyah &#8211;Ummul-Mu&#8217;minîn &#8212; bertanya kepada Beliau : &#8220;Wahai Rasûlullâh, apakah hisaban yang mudah itu ? Beliau pun menjawab :</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 20pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;; color: black;" dir="rtl" lang="AR-SA">أَنْ يَنْظُرَ فِي كِتَابِهِ فَتَجَاوَزُ عَنْهُ مَنْ نُوْقِشَ اْلحِسَابَ يَا عَائِشَةَ هَلَكَ</span></p>
<p><em>&#8220;Yaitu apabila yang bersangkutan melihat isi kitabnya, lalu diliwatkan (dima&#8217;afkan) baginya. (Tetapi), siapa-saja yang diinterogasi &#8212; pada saat dihisab &#8212; ya &#8216;Â-isyah, pastilah ia binasa (disiksa)&#8221;.</em><br />
(H.R. Ahmad. Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr juz IV hal. 488 &amp; 489 dan Al-Fathur-Rabbânî juz XXIV hal. 147)</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hadits yang lain, Beliau sebutkan bahwa yang dimaksud &#8220;hisaban yang mudah&#8221; ialah &#8220;Al-&#8217;Aradh, yang artinya &#8220;sebentar&#8221;, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Ustadz Ahmad &#8216;Abdur-Rahmân Al-Banâ (rahimahullâh) :</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 20pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;; color: black;" dir="rtl" lang="AR-SA">وَ هُوَ إِبْرَازُ اْلأَ عْمَالِ وَ إِظْهَارُهَا فَيَعْرِفُ صَاحِبُهَا ذُنُوْبَهُ ثُمَّ يُتَجَاوَزُ عَنْهُ</span></p>
<p><em>&#8220;(Al-&#8217;Aradh) itu ialah ditampakkan dan diperlihatkannya semua &#8216;amal perbuatan, sehingga pelakunya dapat melihat seluruh dosa-dosanya, kemudian dima&#8217;afkan baginya&#8221;.</em><br />
(Lihat Al-Fathur-Rabbânî juz XVIII hal. 324)</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Masuk Surga Selamat Dari Neraka</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Inilah puncak tertinggi dari &#8220;Hasanah Fil-Âkhirat&#8221; atau &#8220;Kebahagiaan di Akhirat&#8221;. Allâh SWT. telah berfirman mengenai hal ini :</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 20pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;; color: black;" dir="rtl" lang="AR-SA">كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ</span></p>
<p><em>&#8220;Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.Dan sesungguhnya pada hari qiyamat sajalah disempurnakan pahala kalian. Maka siapa-saja yang dijauhkan dari neraka, dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan&#8221;.</em><br />
(Surah Ali &#8216;Imrân (3) : 185)</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Qur-ân banyak sekali membicarakan tentang surga sebagai puncak kenikmatan dan kebahagiaan di akhirat, sedangkan kenikmatan hidup di dunia amatlah sedikit jika dibandingkan dengan kenikmatan hidup di akhirat yang serba sempurna dan kekal, sebagimana firman Allâh SWT. :</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 20pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;; color: black;" dir="rtl" lang="AR-SA">فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي اْلآخِرَةِ إِلاَّ قَلِيلٌ</span></p>
<p><em>&#8220;Tidak ada kesenangan hidup di dunia bila dibanding denga kehidupan akhirat melainkan sedikit&#8221;.</em><br />
(Surah At-Taubah (9) : 38)</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam ayat yang lain Allâh SWT. berfirman :</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 20pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;; color: black;" dir="rtl" lang="AR-SA">قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَ اْلآخِرَةُ خَيْرٌ لِمَنِ اتَّقَى</span></p>
<p><em>Katakanlah (Muhammad): &#8220;Kesenangan di dunia itu sedikit, sedangkan akhirat itu lebih baik bagi orang yang bertaqwa&#8221;.</em><br />
(Surah An-Nisâ&#8217; (4) : 77)</p>
<p style="text-align: justify;">Rasûlullâh saw. telah bersabda mengenai hal ini :</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 20pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;; color: black;" dir="rtl" lang="AR-SA">مَا مَثَلُ الدُّنْيَا فِي اْلآ خِرَةِ إِلاَّ مَثَلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُ كُمْ أُصْبُعَهُ فِي اْليَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَا يَرْجِعُ</span></p>
<p><em>&#8220;Tidak ada perumpamaan dunia bila dibanding dengan akhirat kecuali seperti salah seorang kalian yang mencelupkan telunjuknya ke dalam laut, maka hendaklah ia melihat dengan apa yang kembali&#8221;</em><br />
(H.R. Ibnu Mâjah juz II hal. 1376)</p>
<p style="text-align: justify;">Maksud hadits ini ialah : Apabila seseorang mencelupkan telunjuknya ke dalam laut kemudian mengangkatnya, maka telunjuk itu akan meneteskan setetes air. Nah, setetes air itulah perumpamaan dunia dengan segala kenikmatannya. Sedangkan lautan itu, merupakan perumpamaan kenikmatan akhirat. Sebuah perbedaan yang amat jauh.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kenikmatan Surga</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Al-Qur-ânul-Karîm telah menginformasikan dan menceritakan dengan panjang lebar berbagai macam kenikmatan yang terdapat dalam surga dengan ungkapan bahasa yang indah dan meyakinkan, seperti : Bidadari, sungai-sungai, mahligai, mata air, gelas-gelas, sutera tebal dan sutera halus, permadani, gelang emas, buah-buahan yang beraneka ragam, pelayan-pelayan yang terdiri dari anak-anak kecil yang dikekalkan dan masih banyak lagi kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga dan belum pernah terfikir oleh otak manusia. Adapun puncak dari semua kenikmatan itu ialah perjumpaan dengan Allâh Yang Maha Mulia, serta memandang wajah-Nya Yang Agung.</p>
<p style="text-align: justify;">	Bidadari</p>
<p style="text-align: justify;">Di dalam Al-Qur-ân, bidadari disebut &#8220;Hûr&#8221;.</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 20pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;; color: black;" dir="rtl" lang="AR-SA">(حُوْرٌ)</span></p>
<p>Lafazh (kata) ini disebut sebanyak 4 (empat) kali :  1.- Dalam surah Ad-Dukhân (44) : 54 :</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 20pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;; color: black;" dir="rtl" lang="AR-SA">كَذَلِكَ وَزَوَّجْنَاهُمْ بِحُورٍ عِينٍ</span></p>
<p><em>&#8220;Demikianlah, dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari yang bermata jeli&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">2.- Dalam surah Ath-Thûr (52) : 20 :</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 20pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;; color: black;" dir="rtl" lang="AR-SA">مُتَّكِئِينَ عَلَى سُرُرٍ مَصْفُوفَةٍ وَزَوَّجْنَاهُمْ بِحُورٍ عِينٍ</span></p>
<p><em>&#8220;Mereka bertelekan  di atas dipan-dipan berderetan, dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari yang bermata jeli&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">3.- Dalam surah Ar-Rahmân (55) : 72 :</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 20pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;; color: black;" dir="rtl" lang="AR-SA">حُورٌ مَقْصُورَاتٌ فِي الْخِيَامِ</span></p>
<p><em>&#8220;Bidadari yang bermata jeli, yang dipingit di dalam rumah&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">4.- Dalam surah Al-Wâqi&#8217;ah (56) : 22 &amp; 23 :</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 20pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;; color: black;" dir="rtl" lang="AR-SA">وَحُورٌ عِينٌ , كَأَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُونِ</span></p>
<p><em>&#8220;Dan (di dalam surga itu) ada bidadari yang bermata jeli. Laksana mutiara yang disimpan baik&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">	Sungai-Sungai</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Qur-ân menyebutkan bahwa di dalam surga itu ada 4 (empat) macam sungai, sebagaimana disebutkan dalam surah Muhammad (47) : 15 :</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 20pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;; color: black;" dir="rtl" lang="AR-SA">مَثَلُ اْلجَنَّةِ اَّلتِيْ وُعِدَ اْلمُتَّقُوْنَ فِيْهَا أَنْهَارٌ مِنْ مَاءٍ غَيْرِ آ سِنٍ وَ أَنْهَارُ مِنْ لَبَنٍ لَمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَ أَنْهَارٌ مِنْ خَمْرٍ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِيْنَ وَ أَنْهَارٌ مِنْ عَسَلٍ مُصَفَّى </span></p>
<p><em>&#8220;Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertaqwa, di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tiada berubah rasanya, sungai-sungai dari khamer yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring&#8230;.&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">	Mahligai (Tempat Yang Tinggi)</p>
<p style="text-align: justify;">Mahligai atau Tempat Yang Tinggi dalam Al-Qur-ân disebut &#8220;Ghuraf&#8221;. Lafazh (kata) ini disebut sebanyak 3 (tiga) kali, yaitu 2 (dua) kali dalam surah Az-Zumar (39) : 20 :</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 20pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;; color: black;" dir="rtl" lang="AR-SA">لَكِنِ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ لَهُمْ غُرَفٌ مِنْ فَوْقِهَا غُرَفٌ مَبْنِيَّةٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ وَعْدَ اللهِ لاَ يُخْلِفُ اللهُ الْمِيعَادَ </span></p>
<p><em>&#8220;Tetapi orang-orang yang bertaqwa kepada Rabb mereka, mereka mendapatkan tempat-tempat yang tinggi, di atasnya dibangun pula tempat-tempat yang tinggi, di bawahnya mengalir sungai-sungai. Allâh telah berjanji. (Dan) Allâh tidak akan mengingkari janji-Nya&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dan 1 (satu) kali dalam surah Al-Ankabût (29) : 58 :</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 20pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;; color: black;" dir="rtl" lang="AR-SA">وَالَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَنُبَوِّئَنَّهُمْ مِنَ الْجَنَّةِ غُرَفًا تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا نِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ</span></p>
<p><em>&#8220;Dan orang-orang yang berimân dan mengerjakan &#8216;amal-&#8217;amal yang shalih, sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi di dalam surga, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang ber&#8217;amal&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Al-Imâm Ibnu Katsîr menjelaskan dalam Tafsîrnya bahwa yang dimaksud &#8220;Ghuraf&#8221; itu ialah &#8220;Qushûr&#8221; yang artinya &#8220;Istana-Istana Yang Tinggi&#8221; dan megah.<br />
(Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr juz IV hal. 49)</p>
<p style="text-align: justify;">Di dalam ayat yang lain disebut dengan lafazh yang sedikit berbeda, yaitu &#8220;Ghurufât&#8221;, disebut 1 (satu) kali, dalam surah As-Sabâ&#8217; (34) : 37 :</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 20pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;; color: black;" dir="rtl" lang="AR-SA">وَمَا أَمْوَالُكُمْ وَ لاَ أَوْلاَدُكُمْ بِالَّتِي تُقَرِّبُكُمْ عِنْدَنَا زُلْفَى إِلاَّ مَنْ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَئِكَ لَهُمْ جَزَاءُ الضِّعْفِ بِمَا عَمِلُوا وَهُمْ فِي الْغُرُفَاتِ ءَامِنُونَ</span></p>
<p><em>&#8220;Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kalian yang mendekatkan kalian kepada Kami, tetapi siapa-saja yang mengerjakan &#8216;amal shalih, mereka itulah yang mendapat balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang mereka kerjakan dan mereka aman sentausa di tempat-tempat yang tinggi (Ghurufât)&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">	Mata Air</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Qur-ân banyak sekali menyebutkan mata air yang terdapat di surga, di antaranya dalam surah Al-Ghâsyiyah (88) : 12 :</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 20pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;; color: black;" dir="rtl" lang="AR-SA">فِيْهَا عَيْنٌ جَارِيَةٌ</span></p>
<p><em>&#8220;Di dalamnya (surga) ada mata air yang mengalir&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Di dalam ayat yang disebutkan satu jenis minuman di surga yang diambil atau bersumber dari mata air yang istimewa, yaitu dalam surah Al-Insân (76) : 17 &amp; 18 :</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 20pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;; color: black;" dir="rtl" lang="AR-SA">وَيُسْقَوْنَ فِيهَا كَأْسًا كَانَ مِزَاجُهَا زَنْجَبِيْلاً , عَيْنًا فِيهَا تُسَمَّى سَلْسَبِيْلاً</span></p>
<p><em>&#8220;Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe. (Yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan Salsabil&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">	Sutera Halus Dan Sutera Tebal</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Qur-ân menyebutkan bahwa pakaian yang dkenakan oleh penghuni surga terbuat dari sutera yang halus dan sutera yang tebal, sebagaimana disebutkan dalam surah Ad-Dukhân (44) : 53 :</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 20pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;; color: black;" dir="rtl" lang="AR-SA">يَلْبَسُونَ مِنْ سُنْدُسٍ وَإِسْتَبْرَقٍ مُتَقَابِلِينَ</span></p>
<p><em>&#8220;Mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal, mereka (duduk) berhadap-hadapan&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">	Permadani</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Qur-ân menyebutkan bahwa di dalam surga terdapat permadani-permadani yang dihamparkan, sebagaimana dinyatakan dalam surah Al-Ghâsyiyah (88) : 16 :</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 20pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;; color: black;" dir="rtl" lang="AR-SA">وَ زَرَابِيُّ مَبْثُوْثَةٌ</span></p>
<p><em>&#8220;Dan permadani-permadani yang terhampar&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">	Buah-Buahan Yang Beraneka Ragam</p>
<p style="text-align: justify;">Masalah ini banyak disebutkan oleh Al-Qur-ân, di antaranya dalam surah Shâd (38) ayat 51 :</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 20pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;; color: black;" dir="rtl" lang="AR-SA">مُتَّكِئِينَ فِيهَا يَدْعُونَ فِيهَا بِفَاكِهَةٍ كَثِيرَةٍ وَشَرَابٍ</span></p>
<p><em>&#8220;Di dalam (surga) mereka bertelekan (di atas dipan-dipan) sambil meminta buah-buahan yang banyak dan minuman&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">	Pelayan-Pelayan</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Qur-ân menyebutkan bahwa pelayan-pelayan di surga terdiri dari anak-anak kecil yang dikekalkan, yang selamanya mereka dalam keadaan seperti itu, sebagaimana disebutkan dalam surah Al-Insân (76) : 19 :</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 20pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;; color: black;" dir="rtl" lang="AR-SA">وَيَطُوفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُخَلَّدُونَ إِذَا رَأَيْتَهُمْ حَسِبْتَهُمْ لُؤْلُؤًا مَنْثُورًا</span></p>
<p><em>&#8220;Dan mereka ( penghuni surga) dikelilingi oleh pelayan-pelayan anak-anak kecil yang tetap kecil. Apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengira mereka mutiara yang bertaburan&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">	Melihat Allâh</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Qur-ân telah menyebutkan hal ini dalam surah Al-Qiyamah (75) : 22 &amp; 23 :</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 20pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;; color: black;" dir="rtl" lang="AR-SA">وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ , إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ</span></p>
<p><em>&#8220;Wajah-wajah (orang-orang mu&#8217;min) pada hari itu berseri-seri. Mereka melihat Rabb mereka&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Rasûlullâh saw. telah menjelaskan hal ini, Beliau bersabda :</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 20pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;; color: black;" dir="rtl" lang="AR-SA">إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ عَيَانًا</span></p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian dengan mata telanjang&#8221;.</em><br />
(H.R. Al-Bukhârî dalam shahihnya)</p>
<p style="text-align: justify;">Juga dalam Ash-Shahîhain (Al-Bukhârî dan Muslim) disebutkan bahwa beberapa orang sahabat Rasûlullâh saw. pernah bertanya kepada Beliau :</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 20pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;; color: black;" dir="rtl" lang="AR-SA">َا رَسُوْلَ اللهِ هَلْ نَرَى رَبَّنَا يَوْمَ اْلقِيَامَةِ ؟</span></p>
<p><em>&#8220;Ya Rasûlullâh, apakah kami dapat melihat Rabb kami pada hari qiyamat ?&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Rasûlullâh saw. Bersabda :</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 20pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;; color: black;" dir="rtl" lang="AR-SA">هَلْ تُضَارُوْنَ فِي رُأْيَةِ الشَّمْسِ وَ اْلقَمَرِ لَيْسَ دُوْنَهُمَا سَحَابٌ ؟ قَاُلْوا: لاَ قَالَ فَإِنَّكُمْ تَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَذَ لِكَ</span></p>
<p><em>Apakah kalian merasa terhalang untuk melihat Matahari dan Bulan pada saat tidak ada awan yang menutupinya ? Mereka berkata : &#8220;Tidak&#8221;. Beliau pun bersabda : &#8220;Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian seperti itu&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Al-Imâm Ibnu Katsîr menegaskan masalah ini dalam Tafsîrnya, beliau berkata :</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 20pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;; color: black;" dir="rtl" lang="AR-SA">لَقَدْ تَثَبَّتَتْ رُأْيَةُ  اْلمُؤْمِنِيْنَ  لِلَّهِ عَزَّ وَ جَلَّ فِي اْلآ خِرَةِ  فِي اْلأَ حَادِيْثِ الصَّحَاحِ مِنْ طُرُقٍ مُتَوَاتِرَةٍ  عِنْدَ  أَئِمَّةِ  اْلحَدِيْثِ لاَ  يُمْكِنْ دَفْعِهَا وَ لاَ مَنْعِهَا </span></p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya telah pasti bahwa orang-orang mu&#8217;min akan melihat Allâh Yang Maha Mulia dan Maha Agung kelak di kampung akhirat, berdasarkan hadits-hadits yang shahih dengan jalur yang mutawatir, yang tidak mungkin untuk ditolak dan dibantah&#8221;.</em> (Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr)</p>
<p style="text-align: justify;">Melihat Allâh merupakan kenikmatan yang paling besar di surga, sebagaimana pernyataan Rasûlullâh saw. :</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 20pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;; color: black;" dir="rtl" lang="AR-SA">فَمَا أُعْطُوْا شَيْئًا أَحَبَّ  إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ</span></p>
<p><em>&#8220;Tidak ada suatu pemberian yang lebih mereka senangi daripada memandang kepada Rabb mereka&#8221;.</em><br />
(H.R. Muslim)</p>
<p style="text-align: justify;">Bukankah perjumpaan dengan kekasih merupakan peristiwa yang paling menyenangkan ? Dan Allâh adalah kekasih sejati orang-orang berimân. Jadi, sudah sewajarnya melihat dan berjumpa dengan Allâh merupakan kenikmatan yang paling besar. Dan masih banyak lagi ayat-ayat Al-Qur-ân yang menyebutkan berbagai macam kenikmatan yang terdapat di dalam surga, yang dengan memahaminya setiap mu&#8217;min dapat meyakini bahwa kenikmatan dunia itu hanya sedikit, sebagaimmana telah dijelaskan sebelumnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.asiisc.net/talkhis-ringkasan/hasanah-fil-akhirat.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Konsekwensi doa 1</title>
		<link>http://www.asiisc.net/talkhis-ringkasan/konsekwensi-doa-i.html</link>
		<comments>http://www.asiisc.net/talkhis-ringkasan/konsekwensi-doa-i.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Apr 2009 18:31:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Debby Nasution</dc:creator>
				<category><![CDATA[TALKHIS (RINGKASAN)]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.islam.rudytarigan.com/?p=248</guid>
		<description><![CDATA[Setiap do&#8217;a atau permintaan mempunyai konsekwensi berupa ikhtiyar dan upaya yang sungguh-sungguh untuk mewujudkannya menjadi kenyataan. Ada 4 (empat) hal yang harus diperhatikan dan diimplementasikan untuk mewujudkan do&#8217;a ini menjadi kenyataan : Pertama : Ilmu Masalah ini telah dibahas dalam judul : &#8216;Ilmun Nâfi&#8217;, namun di sini akan di bahas dalam konteks yang lebih khusus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana;">Setiap do&#8217;a atau permintaan mempunyai konsekwensi berupa ikhtiyar dan upaya yang sungguh-sungguh untuk mewujudkannya menjadi kenyataan. Ada 4 (empat) hal yang harus diperhatikan dan diimplementasikan untuk mewujudkan do&#8217;a ini menjadi kenyataan :</span></p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Pertama</strong></em><strong> : Ilmu</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Masalah ini telah dibahas dalam judul : &#8216;Ilmun Nâfi&#8217;, namun di sini akan di bahas dalam konteks yang lebih khusus sebagai syarat utama mencapai <em>&#8220;Hasanah Fîd Dun-yâ&#8221;</em> atau <em>&#8220;Kebahagiaan di Dunia&#8221;</em>.<br />
Adapun yang dimaksud ilmu di sini ialah keahlian atau ketrampilan yang cukup memadai yang membuat seseorang menjadi profesional dalam istilah sekarang.</p>
<p style="text-align: justify;">Para &#8216;Ulama Salaf telah sepakat bahwa ilmu atau keahlian &#8212; di dalam segala masalah &#8212; harus didahulukan dan diutamakan sebelum mengeluarkan ucapan atau melakukan tindakan. Al-Imâm Al-Bukhrî (rahimahullâh) telah menyebutkan hal ini dalam Kitab Shahîhnya yang terkenal, beliau berkata :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/087.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Ilmu itu &#8212; harus didahulukan &#8212; sebelum ucapan dan perbuatan&#8230;&#8230;&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, tidak dibenarkan bagi kaum Muslimîn untuk mengucapkan atau melakukan sesuatu tanpa landasan ilmu atau keahlian, karena hal semacam itu tidak dibenarkan, bahkan dilarang Allâh SWT., sebagaimana firman-Nya :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/088.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Dan janganlah engkau mengikuti apa saja yang engkau tidak mempunyai ilmu (pengetahuan) tentangnya&#8221;.</em><br />
(Surah Al-Isrâ&#8217; (17) : 36)</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu, setiap muslim wajib berusaha sekuatnya untuk memiliki dan menguasai ilmu pengetahuan yang bermanfa&#8217;at &#8212; terutama yang sesuai dengan bakatnya &#8212; untuk menunjang kehidupannya di dunia dan selanjutnya untuk mewujudkan &#8220;Hasanah Fîd-Dun-yâ&#8221;, sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/089.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Siapa yang ingin &#8211;kebahagiaan &#8212; di dunia, maka ia wajib menguasai ilmunya&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dan masih banyak lagi dalil-dalil yang menegaskan pentingnya ilmu pengetahuan atau keahlian sebagai syarat utama meraih kesuksesan serta mencapai &#8220;Hasanah Fîd- Dun-yâ&#8221; atau Kebahagiaan di Dunia, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.<br />
Dan juga telah dijelaskan sebelumnya bahwa ilmu pengetahuan hanya bisa diperoleh dengan belajar, sebagaiman sabda Rasûlullâh saw. :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/090.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Wahai manusia, sesungguhnya ilmu itu hanya diperoleh dengan belajar&#8230;&#8230;&#8230;.&#8221;.</em><br />
(H.R. Ath-Thabrânî. Lihat Al-Ahâdîtsush-Shahîhah oleh Asy-Syaikh Al-Albânî juz III no. 342 pada hal. 61 sebagai syâhid)</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Kedua </strong></em><strong>: Berusaha Atau Bekerja Dengan Tekun Dan Baik</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Masalah ini pun telah di bahas dalam judul &#8216;Amalun Shâlih. Namun, konteks pembahasannya di sini ialah sebagai syarat berikutnya untuk meraih &#8220;Hasanah Fîd-Dun-yâ&#8221;. Rasûlullâh saw. telah bersabda mengenai hal ini :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/091.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Bersungguh-sungguhlah kalian dalam mencari dunia, karena masing-masing akan dimudahkan untuk mendapatkan apa yang telah ditulis untuknya daripadanya (dunia)&#8221;.</em><br />
(H.R. Ibnu Mâjah, Al-Hâkim, Ath-Thabrânî dan Al-Baihqî. Lihat Fathul-Kabîr juz I hal. 106 no. 155)</p>
<p style="text-align: justify;">Hadits ini dimulai dengan kata kerja perintah (fi&#8217;il amr), yaitu : &#8220;Ajmilû&#8221; yang berasal dari kata Ajmala. Kemudian diteruskan dengan kata &#8220;Fî Thalab&#8221;. Menurut para ahli lughah (bahasa), susunan seperti ini mempunyai arti :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/092.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Istiqamah (tekun) dan tidak melalaikan&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, hadits ini memerintahkan setiap kaum Muslimîn untuk senantiasa bersikap istiqamah atau tekun serta tidak melalaikan syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam mencari keberhasilan dan kesenangan di dunia. Kemudian Rasûlullâh saw. menerangkan &#8212; dalam hadits itu &#8211;, bahwa masing-masing orang akan diberi kemudahan untuk mendapatkan bagian rezeki di dunia sesuai dengan apa yang telah ditulis atau ditetapkan Allâh baginya, yaitu dengan sikap tekun dalam berusaha dan tidak melalaikan syarat-syarat yang harus dipenuhi, di antaranya ialah bekerja dengan sebaik-baiknya, tidak asal-asalan, sembarangan dan semberono, sebagaimana sabda Rasûlullâh saw. :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/093.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Allâh menyukai seorang pekerja yang apabila bekerja, ia selalu &#8212; bekerja &#8212; dengan sebaik-baiknya&#8221;.</em><br />
(H.R. Ath-Thabrânî. Lihat Fathul-Kabîr juz VI hal. 326 no. 7893)</p>
<p style="text-align: justify;">Dan Islâm memandang &#8220;bekerja&#8221; atau &#8220;berusaha&#8221; untuk memenuhi kebutuhan keluarga atau kebutuhan pribadi sebagai sebuah jihad &#8220;Fî Sabîlillâh&#8221; dalam bentuk yang lain, sebagaimana sabda Rasûlullâh saw. :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/094.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Barang-siapa yang bekerja untuk kedua orang-tuanya, maka ia berada di jalan Allâh, barang-siapa bekerja untuk keluarganya, maka ia berada di jalan Allâh, dan barang-siapa yang bekerja untuk dirinya, yaitu agar ia terjaga (terhormat), maka ia berada di jalan Allâh, Dan barang-siapa yang bekerja untuk menumpuk harta, maka ia berada di jalan thâghût atau di jalan syaithân&#8221;.</em><br />
(Dikeluarkan oleh Al-Bazzâr, Abû Nu&#8217;aim dan Ash-Bahânî.Lihat Al-Ahâdîtsush-Shahîhah oleh Asy-Syaikh Al-Albânî juz V hal. 272 no. 2232)</p>
<p style="text-align: justify;">Hadits secara jelas menyebutkan 3 (tiga) motivasi yang membuat sebuah usaha atau pekerjaan mempunyai nilai &#8220;Sabîlillâh&#8221;, yaitu : Bekerja atau berusaha untuk menghidupi kedua orang-tua, menghidupi keluarga dan memelihara kehormatan atau harga diri, yaitu agar tidak menjadi beban bagi orang lain. Dan pada pembahasan sebelumnya telah dijelaskan, bahwa Islâm memandang bekerja atau berusaha sebagai konsekwensi dari penciptaan langit dan bumi serta kehidupan dan kematian.</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Ketiga</strong></em><strong> : Berdo&#8217;a Atau Minta Pertolongan Kepada Allâh</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Di samping melakukan usaha dengan tekun, Islâm juga mewajibkan setiap muslim untuk berdo&#8217;a kepada Allâh untuk mendapatkan keberhasilan dalam usahanya, sebagaimana sabda Rasûlullâh saw. :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/095.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Seorang mu&#8217;min yang kuat, lebih baik dan lebih disukai Allâh daripada seorang mu&#8217;min yang lemah. Namun, masing-masing memiliki kebaikan. Curahkanlah seluruh tenaga dan kekuatan-mu untuk mendapatkan apa saja yang bermanfa&#8217;at bagi-mu, serta mintalah pertolongan kepada Allâh &#8212; untuk memperolehnya &#8212; dan jangan sekali-kali engkau bersikap lemah (putus-asa)&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..&#8221;.</em><br />
(H.R. Muslim. Lihat Ushûlul-Imân hal. 20-21)</p>
<p style="text-align: justify;">Hadits ini dimulai dengan pemberitaan bahwa seorang mu&#8217;min yang kuat dalam berikhtiyar dan berusaha, lebih disukai Allâh daripada seorang mu&#8217;min yang lemah, namun, kedua-duanya tetap memiliki kebaikan. Kemudian dilanjutkan dengan perintah &#8220;curahkanlah seluruh tenaga dan kekuatan-mu untuk meraih apa saja yang bermanfa&#8217;at&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">As-Asy-Syaikh &#8216;Abdur-Rahmân bin Hasan mengatakan bahwa yang dimaksud dengan &#8220;apa saja yang bermanfa&#8217;at&#8221; ialah &#8220;yang bermanfa&#8217;at bagi kehidupan di dunia dan di akhirat&#8221;. Jadi, maksud hadits ini menurut beliau ialah : &#8220;kerahkankan seluruh kemampuan untuk melakukan berbagai upaya yang mendatangkan manfa&#8217;at di dunia dan di akhirat&#8221;, sebagaimana telah disyari&#8217;atkan Allâh SWT. terhadap hamba-hamba-Nya. Baik dengan menjalankan hal yang wajib, mustahab maupun yang mubah. Dan dalam melakukan berbagai usaha itu, hendaklah ia berdo&#8217;a minta bantuan kepada Allâh semata, agar Allâh menyempurnakan usahanya dan memberikan manfa&#8217;at kepadanya. Dan hendaklah ia senantiasa bersandar kepada Allâh SWT., karena sesungguhnya Dia-lah yang menciptakan sebab dan musabab dan segala usaha tidak akan mendatangkan manfa&#8217;at kecuali dengan kehendak Allâh. Dengan begitu, ia telah menyandarkan segala usahanya kepada Allâh SWT. Menjalankan usaha adalah suatu keharusan, dan bertawakal kepada Allâh adalah sikap bertauhîd. Maka, jika ia telah berhasil menggabungkan kedua hal tersebut &#8212; yaitu: berusaha dan bertawakal &#8211;, akan tercapailah segala tujuannya dengan izin Allâh&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian dilanjutkan (hadits) dengan larangan : &#8220;jangan engkau bersikap lemah&#8221;. Rasûlullâh saw. melarang dan mencela sikap lemah, karena sikap lemah memang tercela menurut &#8216;aqal dan syara&#8217;.<br />
(Lihat Fathul-Majîd Syarhu Kitâbut-Tauhîd oleh As-Asy-Syaikh &#8216;Abdur-Rahmân bin Hasan hal. 474).</p>
<p style="text-align: justify;">Yang dimaksud dengan sikap lemah di sini ialah lemahnya kemauan atau putus-asa dalam melakukan usaha-usaha yang dapat menghasilkan manfa&#8217;at tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Keempat</strong></em><strong> : Sabar Menerima Taqdir</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Taqdir atau Qadar &#8212; yang baik dan buruk &#8212; merupakan ketetapan Allâh yang tertulis yang wajib dipercaya atau berimân kepadanya, karena ia termasuk salah satu dari rukun imân. Jadi, dalam melakukan usaha, seorang mu&#8217;min harus siap menerima taqdir atau ketetapan Allâh, yaitu : &#8220;kegagalan&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasûlullâh saw. telah mengajarkan sikap yang benar dalam menerima taqdir semacam itu, Beliau bersabda (dalam kelanjutan hadits) :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/096.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>“Maka jika sesuatu &#8212; yang tidak engkau sukai &#8212; menimpa pada-mu, janganlah engkau berkata : &#8220;Seandainya aku berbuat begini niscaya jadi begini&#8221;. Akan tetapi katakanlah: &#8220;Qadar Allâh, dan Dia melakukan apa yang dikehendaki-Nya&#8221;. Karena, dengan berandai-andai engkau membuka &#8212; peluang &#8212; bagi syaithân.”</em><br />
(H.R. Muslim. Lihat Ushûlul-Imân hal. 20-21)</p>
<p style="text-align: justify;">Hadits ini mengajarkan sikap teguh, tawakal dan bersabar bila mengalami mushibah atau kegagalan dalam usaha. Dan jangan mengeluarkan ucapan yang mengandung penyesalan, karena sikap yang seperti itu memberi peluang bagi syaithân untuk masuk.<br />
As-Asy-Syaikh &#8216;Abdur-Rahmân bin Hasan mengatakan bahwa dilarangnya &#8221; berandai-andai&#8221;, karena di dalamnya terkandung rasa sesal terhadap kegagalan, dan juga keluh-kesah serta celaan terhadap taqdir. Dan itu &#8212; merupakan pengaruh syaithân &#8212; yang menyebabkan hilangnya kesabaran dan kerelaan, padahal bersabar itu wajib hukumnya, sedangkan percaya dengan qadar (taqdir) adalah suatu keharusan. Allâh SWT. berfirman &#8212; mengenai qadar &#8212; :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/097.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Tidak terjadi suatu mushibah di bumi atau pada diri kalian melainkan tercatat dalam kitab sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya demikian itu adalah mudah bagi Allâh&#8221;.</em><br />
(Surah Al-Hadîd (57) : 22)<br />
(Lihat Fathul-Majîd Syarhu Kitâbut-Tauhîd oleh As-Asy-Syaikh &#8216;Abdur-Rahmân bin Hasan hal. 475)</p>
<p style="text-align: justify;">Ayat ini menegaskan bahwa mushibah yang terjadi di bumi atau yang menimpa diri seseorang merupakan qadar atau taqdir yang telah ditulis Allâh jauh dari sebelum terjadinya. Ditegaskan juga diakhir ayat bahwa menetapkan atau mengatur hal yang seperti demikian itu sama-sekali tidak sulit bagi Allâh.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian di ayat berikutnya dijelaskan hikmah atau tujuan diciptakannya taqdir yang baik maupun yang buruk oleh Allâh SWT. :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/098.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Supaya kalian tidak berputus-asa (berduka) terhadap apa yang luput dari kalian, dan supaya kalian tidak terlalu bergembira terhadap apa yang Dia berikan kepada kalian. Dan Allâh tidak menyukai orang yang sombong lagi membanggakan diri&#8221;.</em><br />
(Surah Al-Hadîd (57) : 23)</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, hikmah atau faedah taqdir menurut ayat ini ialah agar manusia tidak berputus-asa terhadap kegagalan dalam berusaha, karena &#8212; dengan meng-imâni taqdir &#8212; ia menyadari sepenuhnya bahwa kegagalan itu merupakan ketentuan Allâh SWT. Begitu-pula bila ia mendapatkan keberhasilan atau kesuksesan dalam usahanya, ia tidak akan lupa diri, karena ia pun menyadari bahwa itu pun merupakan ketentuan Allâh juga.</p>
<p style="text-align: justify;">Kesadaran ini akan menumbuhkan kesabaran dalam hati, dan sikap sabar inilah yang akan menempa keimânan menjadi semakin kuat dan mantap. Amîrul-Mu&#8217;minîn &#8216;Alî bin Abî Thâlib berkata :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/099.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;(Kedudukkan) sabar bagi keimânan seperti kedudukan kepala bagi tubuh&#8221;.</em><br />
(Lihat Fathul-Majîd Syarhu Kitâbut-Tauhîd oleh As-Asy-Syaikh &#8216;Abdur-Rahmân bin Hasan hal. 475)</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, sabar adalah puncak tertinggi dari keimânan, tidak sempurna imân tanpa sabar, sebagaimana tidak sempurna tubuh (manusia) tanpa kepala. Al-Imâm Ahmad bin Hanbal pernah berkata :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/100.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Allâh telah menyebutkan masalah sabar di 90 tempat dalam Al-Qur-ân&#8221;.</em><br />
(Lihat Fathul-Majîd Syarhu Kitâbut-Tauhîd oleh As-Asy-Syaikh &#8216;Abdur-Rahmân bin Hasan hal. 475)</p>
<p style="text-align: justify;">Inilah yang harus dijalankan oleh setiap mu&#8217;min untuk mewujudkan <em>&#8220;Hasanah Fîd-Dun-yâ&#8221;</em> atau <em>&#8220;Kebahagiaan di Dunia&#8221;</em>, sebagai konsekwensi do&#8217;anya kepada Allâh.<br />
<em><strong>(Wallâhu A&#8217;lam)</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.asiisc.net/talkhis-ringkasan/konsekwensi-doa-i.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Manusia dan visi kehidupannya</title>
		<link>http://www.asiisc.net/talkhis-ringkasan/manusia-dan-visi-kehidupannya.html</link>
		<comments>http://www.asiisc.net/talkhis-ringkasan/manusia-dan-visi-kehidupannya.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jan 2009 18:27:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Debby Nasution</dc:creator>
				<category><![CDATA[TALKHIS (RINGKASAN)]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.islam.rudytarigan.com/?p=242</guid>
		<description><![CDATA[Kedudukan manusia menurut Islâm adalah sebagai khalifah atau wakil Allâh di muka bumi dan Allâh telah menjadikan seluruh ciptaan-Nya, baik yang berada di langit maupun di bumi untuk kepentingan manusia, sebagaimana firman-Nya : &#8220;Allâh-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kedudukan manusia menurut Islâm adalah sebagai khalifah atau wakil Allâh di muka bumi dan Allâh telah menjadikan seluruh ciptaan-Nya, baik yang berada di langit maupun di bumi untuk kepentingan manusia, sebagaimana firman-Nya :</p>
<p style="line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana;"> <img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/001.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Allâh-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki buat kalian; dan Dia telah menundukkan bahtera buat kalian agar bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagi kalian sungai-sungai. Dan Dia (juga) telah menundukkan Matahari dan Bulan untuk kalian, yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan siang dan malam buat kalian. Dan Dia telah memberikan kepada kalian dari semua apa yang kalian minta kepada-Nya. Dan jika kalian menghitung nikmat Allâh, tidaklah dapat kalian menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu sangat zhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allâh)&#8221;.</em><br />
(Surah Ibrâhîm (14) : 32, 33, 34)</span></p>
<p style="text-align: justify;">Allâh telah mengaruniakan kepada manusia, kemampuan paling besar untuk mengenali, memahami dan menguasai alam-raya. Maka tidak ada batasan bagi pengetahuan manusia dan tidak ada habisnya kemampuan manusia untuk menguasai alam-raya ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, apabila kita mencoba melihat visi manusia tentang dunia dan kehidupan berdasarkan informasi yang diberikan Al-Qur-ân, kita akan mendapatkan 3 (tiga) macam visi (pemikiran) yang menjadi dasar dari semua visi manusia yang ada.</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Pertama :</strong></em> Visi atau pandangan hidup mereka yang mengatakan bahwa tidak ada lagi kehidupan setelah kehidupan di dunia. Al-Qur-ân telah menyebutkan hal ini :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/002.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>Dan mereka berkata : &#8220;Hidup  hanyalah  kehidupan kita di dunia ini saja, dan kita  sekali-kali tidak akan dibangkitkan&#8221;.</em><br />
(Surah Al-An-&#8217;âm (6) : 29)</p>
<p style="text-align: justify;">Atau dalam ayat yang lain lagi Al-Qur-ân menyebutkan :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/003.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>Mereka berkata : &#8220;Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa&#8221;.</em><br />
(Surah Al-Jâtsiyah (45) : 24)</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka ini adalah kelompok manusia yang tidak mengakui keberadaan Allâh sebagai Pencipta (Al-Khâliq) dan mengkhayalkan bahwa dunia ini terwujud secara kebetulan dan bahwa manusia hanya mempunyai bentuk material yang terwujud pada waktu kelahiran dan musnah pada waktu kematian.</p>
<p style="text-align: justify;">Secara mendasar terdapat warna nihilisme yang dalam di sini ; nihilisme yang berasal dari kesadaran yang dalam bahwa tidak ada sesuatu apapun di luar kubur. Nihilisme ini telah mendorong mereka ke arah hedonisme yang diwujudkan dalam bentuk perhatian yang sungguh-sungguh dan khusus terhadap kemakmuran di dunia ini. Mereka adalah orang-orang yang profesional, yang cenderung pada dunia dan sama-sekali tidak tertarik mempelajari kehidupan masa depan (akhirat), karena dalam pandangan mereka hal-hal seperti itu sebenarnya tidak ada. Allâh SWT telah berfirman mengenai mereka :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/004.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Mereka &#8212; hanya &#8212; mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedangkan terhadap &#8212; kehidupan &#8212; akhirat, mereka lalai&#8221;.</em><br />
(Surah Ar-Rûm (30) : 7)</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan pengetahuannya yang hanya terbatas pada dunia, mereka mengatur jalan hidup dan aturan-aturan kehidupan mereka dengan kebutuhan material eksistensi duniawi mereka yang sesaat saja. Dengan kata-lain, mereka mengikuti jalan yang hanya memberikan suatu kebahagiaan dan kesejahteraan material yang terbatas.</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Imâm Ibnu Katsîr mengatakan bahwa mereka yang disebut dalam ayat ini ialah orang-orang yang sangat mengerti tentang keduniawian dan cara mendapatkan serta mengaturnya dengan baik, pendeknya mereka merupakan orang-orang yang pandai dan cerdas (profesional) dalam mengolah dan menemukan cara-cara yang efisien dalam berproduksi. Namun, mereka lalai dalam soal-soal keagamaan (Ad-Dîn) dan keakhiratan sehingga mereka nampak seperti orang bodoh yang tidak punya pikiran.</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Imâm Al-Qurthubî juga mengatakan, bahwa mereka sangat mengerti tentang cara-cara berproduksi dan tentang dunia mereka, seperti : kapan mereka mulai menanam dan memetik hasil serta, bagaimana cara-cara (teknologi) menanam yang baik dan membuat bangunan (istana), membangun irigasi serta menanam pohon-pohon yang besar.</p>
<p style="text-align: justify;">Ilmu pengetahuan atau sains yang mereka kuasai itulah yang menjadi faktor utama munculnya visi atau pandangan hidup materialistik. Mereka beranggapan bahwa kecerdasan dan substansi manusia adalah berasal dari materi. Melalui ilmu pengetahuan yang dikuasainya mereka pun dapat mengetahui rahasia-rahasia alam. Dan dengan menggunakan fikirannya yang kritis, mereka memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk menghasilkan teknologi. Memang, sains (teknologi) telah memperkuat dan memperkasa manusia.</p>
<p style="text-align: justify;">Betul, sebagian dari mereka masih ada yang mengakui eksisitensi Allâh sebagai Pencipta dan Pengatur alam-semesta, namun kecenderungan mereka yang begitu besar terhadap kehidupan dunia membuat mereka tidak perduli terhadap kehidupan akhirat, dan ini terungkap dalam do&#8217;a mereka, sebagaimana disebutkan Allâh SWT. :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/005.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>Maka di antara manusia itu ada yang berdo&#8217;a: &#8220;Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia&#8221;. Dan ia tidak mendapat bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.</em><br />
(Surah Al-Baqarah (2) : 200)</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka ini sepanjang hidupnya tidak memiliki tujuan lain kecuali kemajuan material dan tak memikirkan sesuatu kecuali perbaikan kedudukan sosial, menimbun kekayaan dan menikmati kesenangan-kesenangan material. Siang malam mereka membanting tulang untuk mencari nafkah hidup dan tak sedikit pun menaruh perhatian pada segala sesuatu yang berada di luar kerangka kehidupan fana dunia material ini. Dengan kata-lain, mereka sama-sekali tidak berfikir tentang akhirat. Itulah sebabnya ayat di atas menegaskan bahwa mereka tidak akan mendapatkan kebahagiaan di akhirat.</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Ustadz Sayyid Quthb (rahimahullâh) mengatakan, bahwa dunia nyata atau sesuatu yang bisa dijangkau oleh penglihatan sebenarnya sangat kecil dan terbatas, meskipun dalam pandangan manusia terlihat luas dan lengkap sehingga mereka tenggelam dalam kebohongan, dan mereka pun tidak dapat menyelidikinya dalam kehidupan mereka yang sempit.</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Kedua :</strong></em> Visi atau pandangan kepertapaan (rahbaniyyah) atau asketisme yang merupakan ujung ekstrim pandangan hidup materialistik, yaitu pandangan hidup religius ekstrim yang membuahkan serba keakhiratan. Visi atau pandangan ini dipopulerkan oleh para pengikut nabi &#8216;Isâ a.s., sebagaimana disebutkan dalam surah Al-Hadîd (57) : 27 :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/006.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Kemudian Kami iringkan di belakang mereka rasul-rasul Kami dan Kami iringkan (pula) &#8216;Isâ putera Maryam; dan Kami berikan kepadanya Injil dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang. Dan mereka mengada-ngadakan rahbaniyyah, padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-ngadakannya) untuk mencari keridhaan Allâh , lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Yang dimaksud dengan &#8220;rahbaniyyah&#8221; ialah tidak beristeri atau bersuami dan mengurung diri dalam biara.<br />
(Lihat catatan kaki terjemahan Al-Qur-ân Dept Agama hal. 905)</p>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan Al-Imâm Ibnul-Atsîr mengatakan, bahwa yang dimaksud &#8220;rahbaniyyah&#8221; ialah :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/007.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Menjadi pendeta dengan mengurung diri dari kesibukan dunia, meninggalkan segala kenikmatan, bersikap zuhud, menjauhi isteri dan sengaja menanggung penderitaan (menyiksa diri) di dunia; sehingga sebagian mereka ada yang mengebiri dirinya, ada juga yang meletakkan rantai di lehernya dan berbagai macam bentuk penyiksaan diri lainnya&#8221;.</em><br />
(An-Nihâyah juz II hal. 280)</p>
<p style="text-align: justify;">Dunia fana ini dengan segala kenikmatan dan kesenangan yang ada, dalam pandangan mereka adalah sesuatu yang harus dijauhi. Sedangkan manusia, dalam pandangan mereka adalah sosok yang penuh dosa yang diwarisinya sejak ia lahir, yang penyucian jiwanya hanya dapat dicapai dengan memutuskan semua ikatan-ikatan material dan memalingkan perhatian dari perhiasan yang menipu dan hawa-nafsu yang menyesatkan dari dunia ini. Mereka bahkan memutus semua pergaulan sosial dan menutup mata dari segenap keindahan dan keburukan serta setiap kemanisan dan kepahitan pengalaman kehidupan yang fana dan memperdayakan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Asy-Syaikh Abûl-Hasan An-Nadawî (rahimahullâh) mengatakan : Kegandrungan Dunia Nasrani terhadap kependetaan (asketisme) telah melampaui batas yang luar-biasa. Contoh dalam soal ini dapat kita temukan dalam kitab <strong><em>&#8220;History of European Morals Chapter IV&#8221;,</em></strong> dan ini hanya salah satu contoh dari sekian banyaknya contoh yang lain :</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Jumlah pendeta &#8212; pada abad ke IV Masehi di wilayah Imperium Romawi &#8212; telah berkembang sedemikian pesatnya sehingga menimbulkan persoalan besar, menuntut perhatian dan merepotkan orang banyak. Sangat sulit untuk menentukan jumlah mereka secara pasti, namun dari keterangan para ahli sejarah dapat ditemukan penjelasan perkiraan jumlah mereka serta gerakan penyebaran paham asketisme, yaitu dalam perayaan hari paskah hadir 50.000 orang pendeta. Dan pada abad ke IV Masehi, seorang Kepala pendeta membawahi 5.000 orang pendeta. Bahkan seorang pendeta bernama Sarâbîn mengepalai 10.000 orang pendeta. Dan di akhir penghujung abad ke IV Masehi, jumlah para pendeta itu sudah lebih banyak dari penduduk Mesir&#8221;.<br />
(Lihat: Mâ dzâ Khasiral-&#8217;Alam Bi Inhithâthil-Muslimîn (Apa Kerugian Dunia Akibat Kemunduran Kaum Muslimin) hal.184)</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Keanehan Tindak-Tanduk Para Pendeta</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sikap seseorang terhadap dunia sering-kali mempengaruhi tindakan-tindakannya. Dengan kata-lain, cara hidup seseorang berkaitan erat dengan caranya memandang dunia. Begitu-pula halnya dengan para pendeta Nasrani pada abad ke IV Masehi. Pandangan mereka yang apriori terhadap dunia dan asketisme mereka telah melahirkan tindak-tanduk yang amat aneh.<br />
Sebagaimana telah disebutkan oleh Asy-Syaikh Abûl-Hasan An-Nadawî (rahimahullâh) dalam kitab beliau yang terkenal: <em><strong>&#8220;Mâ dzâ Khasiral-&#8217;Alam Bi Inhithâthil-Muslimîn&#8221;</strong></em> hal.185 :</p>
<p style="text-align: justify;">Selama dua abad, tradisi penyiksaan diri &#8212; yang dilakukan oleh para pendeta Nasrani &#8212; dijadikan contoh yang sempurna dari pelaksanaan agama dan akhlaq. Para ahli sejarah telah meriwayatkan tingkah laku aneh tersebut. Mereka menceritakan tentang perbuatan seorang pendeta bernama Makarius yang tidur di tumpukan sampah selama 6 bulan dalam keadaan telanjang agar digigit oleh lalat berbisa dan terus-menerus memikul besi seberat satu dacin (62,5 kg). Sedangkan temannya, seorang pendeta yang bernama Eusebius, bahkan memikul besi seberat dua dacin dan tinggal selama tiga tahun di sebuah sumur yang telah dikeringkan. Seorang pendeta yang lain, yang bernama Yohana (St. John) menyiksa dirinya dengan cara berdiri dengan satu kaki selama tiga tahun, tidak tidur dan tidak duduk. Apabila merasa lelah, ia menyandarkan tubuhnya pada batu besar. Sementara itu sebagian pendeta yang lain yang selamanya tidak mau mengenakan pakaian, mereka menutupi dirinya dengan rambutnya yang panjang. Dan mereka berjalan dengan menggunakan kaki dan tangan, seperti binatang. Sebagian besar dari mereka tinggal di goa-goa tempat binatang buas, di sumur-sumur kering dan kuburan-kuburan. Sehari-harinya mereka hanya mengkonsumsi jenis tanaman dan rerumputan. Mereka beranggapan bahwa membersihkan tubuh akan menghilangkan kesucian ruhani, sedangkan mencuci sebagian anggota dianggap sebagai perbuatan berdosa. Menurut anggapan mereka, orang yang paling zuhud dan paling berbakti ialah orang yang paling menjauhkan diri dari kebersihan dan sangat getol bergelimang dalam najis dan kotoran. Pendeta Athinas mengatakan, bahwa pendeta Antoni tidak pernah mencuci kakinya, karena menganggap hal itu sebagai perbuatan dosa. Seorang pendeta lain bernama Abraham bahkan tidak pernah mencuci muka dan kakinya selama lima-puluh tahun. Di belakang hari, seorang pendeta di Iskandariah (Alexanderia) mengomentari peristiwa itu dengan penuh penyesalan: &#8220;Alangkah bodohnya ! Pada masa lalu kita menganggap mencuci muka sebagai perbuatan haram, tetapi sekarang kita masuk tempat-tempat pemandian !&#8221;.<br />
(Lihat : Mâ dzâ Khasiral-&#8217;Alam Bi Inhithâthil-Muslimîn hal.185)</p>
<p style="text-align: justify;">Asketisme atau kependetaan seperti ini, jelas merupakan pandangan hidup religius ekstrim yang bertentangan dengan fitrah. Itulah sebabnya Islâm melarang dan tidak mengakui paham kependetaan atau asketisme, sebagaimana sabda Rasûlullâh saw. :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/008.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Tidak ada  kependetaan  dalam  Islâm. Berjihâdlah  kalian, karena &#8212; jihâd &#8212; merupakan kependetaan umat-ku&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Al-Imâm Ibnul-Atsîr mengatakan, bahwa ucapan Rasûlullâh saw. yang menyatakan jihâd adalah kependetaan dalam umatnya karena terdapat persamaan antara kependetaan dalam Nasrani dengan orang yang berjihâd di jalan Allâh, yaitu sama-sama meninggalkan kepentingan dunia, bersikap zuhud dan memisahkan diri dari keluarga. Dan sebagaimana kependetaan merupakan &#8216;amal yang paling mulia dalam pandangan Nasrani, maka berjihad pun merupakan &#8216;amal yang paling istimewa dalam Islâm. Tidak ada satu pun &#8216;amal yang lebih istimewa daripada berjihâd. Itulah sebabnya Rasûlullâh saw. bersabda :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/009.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Puncak tertinggi Islâm ialah berjihâd dalam Sabîlillâh&#8221;.</em><br />
(Lihat : An-Nihâyah juz II hal. 280-281)</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang cendikiawan dari Timur-Tengah menyatakan bahwa mereka yang berjalan di atas paham asketisme atau religius ekstrim semacam ini telah berjalan di atas khayalan mereka sendiri, dan masih perlu dipertanyakan apakah mereka mungkin mencapai tujuan yang telah ditentukan oleh penciptaan ?</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Ketiga :</strong></em> Visi atau pandangan hidup yang berdasarkan keseimbangan antara yang material dan spiritual atau yang mempertemukan antara dunia dan akhirat. Inilah visi atau pandangan hidup yang diajarkan oleh Islâm yang dibawa oleh Rasûlullâh saw.</p>
<p style="text-align: justify;">Konsep dasar Islâm adalah bahwa langit dan bumi beserta semua yang ada di dalamnya adalah ciptaan Allâh yang Maha Pencipta. Dan manusia adalah salah-satu spesies penciptaan-Nya yang paling sempurna, sebagaimana firman-Nya :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/010.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Sesungguhnya Kami ciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk&#8221;.</em><br />
(Surah At-Tîn (95) : 4)</p>
<p style="text-align: justify;">Allâh SWT. pun menganugerahkan kemuliaan kepada manusia di daratan dan di lautan, melimpahkan rezeki yang baik-baik bagi mereka serta memberikan kelebihan dari seluruh makhluq lainnya, sebagaimana firman-Nya :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/011.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Dan sesunguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, mereka kami angkut di daratan dan di lautan. Mereka Kami beri rezeki dari yang baik-baik, dan mereka kami karuniai kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluq yang Kami ciptakan&#8221;.</em><br />
(Surah Al-Isrâ&#8217; (17) : 70)</p>
<p style="text-align: justify;">Bahkan, semua yang ada di bumi diciptakan-Nya untuk manusia, sebagaimana firman-Nya :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/012.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Dialah yang telah menciptakan semua apa yang ada di bumi untuk kalian&#8221;.</em><br />
(Surah Al-Baqarah (2) : 29)</p>
<p style="text-align: justify;">Maka dengan semua sarana yang telah Dia berikan, Dia perintahkan manusia untuk berusaha secara sungguh-sungguh mendapatkan kebahagiaan di akhirat tanpa melupakan kenikmatan dunia, sebagaimana firman-Nya :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/013.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allâh kepada-mu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagian-mu dari (kenikmatan) duniawi&#8230;&#8221;.</em><br />
(Surah Al-Qashash (28) : 77)</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Dia juga memerintahkan dan mengajarkan manusia untuk berdo&#8217;a memohon kebaikan (kebahagiaan) di dunia dan di akhirat kepada-Nya :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/014.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>Dan di antara mereka ada orang yang berdo&#8217;a : &#8220;Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka&#8221;.</em><br />
(Surah Al-Baqarah (2) : 201)</p>
<p style="text-align: justify;">Do&#8217;a atau permohonan yang disampaikan kepada Allâh adalah wujud dari sebuah cita-cita atau keinginan. Dan manusia yang paling mulia cita-citanya adalah orang mu&#8217;min, yaitu mereka yang mempunyai cita-cita terhadap kehidupan dunia dan akhiratnya, sebagaimana sabda Rasûlullâh saw. :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/015.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Manusia yang paling mulia cita-citanya adalah orang mu&#8217;min, yang bercita-cita terhadap perkara dunianya dan perkara akhiratnya&#8221;.</em><br />
(H.R. Ibnu Mâjah)</p>
<p style="text-align: justify;">Ajaran Islâm telah memilih suatu jalan di antara yang sepenuhnya material dan sepenuhnya spiritual, suatu jalan yang menyelaraskan dan memadukan kedua segi yang saling bertentangan. Muhammad Asad (Leopold Weiss), seorang cendikiawan muslim berkebangsaan Jerman telah mengungkapkan hal ini dengan cermat sekali, beliau berkata :</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Islâm tidak memandang dunia ini dengan kacamata hitam sebagaimana yang dilakukan orang-orang Nasrani. Bahkan ia mengajarkan kita untuk tidak berlebihan dalam meremehkan kehidupan dunia, dan juga jangan berlebihan dalam mengagung-agungkan nilainya seperti yang dilakukan oleh peradaban Barat sekarang ini. Agama Masehi atau Nasrani sangat mencela dan membenci kehidupan dunia, sedangkan Barat (yang mengaku beragama Nasrani) sekarang ini, justru berbeda sekali dengan ruh dan semangat yang dibawa oleh agama Nasrani. Mereka sangat berambisi terhadap kehidupan dunia seperti orang lapar menghadapi makanan. Ia menelannya begitu-saja tanpa dapat menilai makanan yang ditelannya. Sebaliknya, Islâm memandang kehidupan ini dengan tenang dan penuh hormat, ia tidak mengabdi pada kehidupan, akan tetapi ia hanya memandangnya sebagai suatu tahap yang harus kita lalui dalam perjalanan menuju kehidupan yang lebih tinggi. Jadi, sebagai suatu tahap yang harus dilalui, tidak benar jika manusia menghina atau meremehkan nilai kehidupan dunia ini. Sesungguhnya perjalanan yang kita lalui di dunia ini merupakan suatu ketetapan yang pasti yang telah ditentukan sebelumnya oleh Allâh. Jadi, kehidupan manusia di dalamnya mempunyai nilai yang besar. Akan tetapi kita tidak boleh lupa, bahwa kehidupan ini hanyalah sebuah perantara dan sarana yang nilainya tidak lebih dari itu. Islâm tidak dapat mentolerir pandangan materialis yang mengatakan: &#8220;Sesungguhnya kerajaan-ku hanyalah di dunia ini&#8221;. Dan juga pandangan agama Masehi yang menghina dunia dan mengatakan : &#8220;Dunia ini bukan kerajaan-ku&#8221;. Tetapi, jalan yang ditempuh Islâm ialah jalan tengah, yaitu di antara kedua pandangan itu. Al-Qur-ân telah menunjukkan pada kita agar berdo&#8217;a :</em><br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/016.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Ya Rabb kami, berikan kepada kami kebaikan di dunia dan juga kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka&#8221;.</em><br />
(Surah Al-Baqarah (2) : 201)</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, menghargai dunia ini dan segala isinya bukan batu penghalang bagi kita untuk berupaya mencapai kehidupan spiritual yang baik, dan peningkatkan materiil pun merupakan hal yang dianjurkan oleh Islâm, akan tetapi hal itu tidak menjadi tujuannya yang utama. Sesungguhnya tujuan utama dari upaya kita ialah mewujudkan kondisi individual dan sosial &#8212; dan memelihara kondisi itu jika telah terwujud &#8212; yang dapat menolong peningkatan kekuatan moral di kalangan manusia, sesuai dengan prinsip di atas. Islâm membimbing manusia agar memiliki tanggung jawab moral terhadap perbuatan yang dilakukan, baik yang besar maupun yang kecil. Sistim keagamaan Islâm selamanya tidak mentolerir apa yang diperintahkan oleh Injîl, yang mengatakan : &#8220;Berikanlah kepada Kaisar apa yang untuk Kaisar dan berikanlah kepada Allâh apa yang untuk Allâh&#8221;, karena &#8212; sebagai satu dîn yang sempurna &#8212; Islâm tidak mentolerir pemisahan kebutuhan hidup kita menjadi kebutuhan moral di satu pihak dan kebutuhan praktis di lain pihak. Di situ hanya ada satu pilihan, yaitu pilihan di antara yang haq dan batil, tidak ada jalan tengah di antara &#8212; yang haq dan batil &#8212; itu, karena itu Islâm mendorong untuk ber&#8217;amal, karena &#8216;amal merupakan bagian yang wajib dan dibutuhkan bagi akhlaq. Sudah sepantasnya bagi setiap muslim untuk melihat dirinya sebagai pribadi yang ikut bertanggung jawab terhadap lingkungan di mana ia berada, dan atas setiap peristiwa yang terjadi di sekelilingnya. Ia diperintah untuk berjuang menegakkan kebenaran dan melenyapkan kebatilan.dalam berbagai bentuknya, dan setiap saat. Al-Qur-ân telah mengatakan hal ini :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/017.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan bagi manusia, memerintahkan kebaikan dan mencegah kemunkaran serta beriman kepada Allâh&#8221;.</em><br />
(Surah Ali &#8216;Imran (3) : 110)</p>
<p style="text-align: justify;">Inilah yang menjadi dorongan moral bagi gerakan perjuangan (jihâd) dan penaklukan-penaklukan Islâm di masa lalu dan juga pendudukan daerah lain (ekspansi) yang dilakukan oleh Islâm, jika kita terpaksa menggunakan istilah itu. Akan tetapi ekspansi Islâm tidak dimotivasi oleh ambisi kekuasaan atau perluasan daerah, dan bukan pula karena kepentingan ekonomi bagi suatu bangsa. Para pejuang Islâm pada masa lalu terjun ke medan juang bukan karena ambisi ingin memperoleh kehidupan enak dan menyenangkan dengan mengorbankan kepentingan orang lain. Tujuan dari ekspansi itu tidak lain untuk membangun dunia yang lebih baik, yang memberi kemungkinan bagi manusia untuk meningkatkan aspek kerohaniannya. Sebagaimana halnya dengan &#8220;ilmu keutamaan&#8221; atau &#8220;budi-pekerti&#8221;, yang mana ajaran Islâm mewajibkan setiap insan untuk mengimplementasikannya dalam bentuk perbuatan. Islâm selamanya tidak menyetujui pemisahan ala Plato dan pembedaan secara teoritis antara budi pekerti yang baik dan buruk, bahkan dalam pandangan Islâm sekedar teori semata-mata dalam membedakan yang haq dan batil tanpa merealisasikannya dalam bentuk perbuatan adalah perbuatan yang tidak tahu malu dan rendah. Dan &#8212; sekedar teori &#8212; tidak termasuk dalam rangka menegakkan yang haq dan menghapus yang batil. Karena budi pekerti yang baik &#8212; sebagaimana ditegaskan oleh Islâm &#8212; akan hidup bila setiap orang berjuang untuk menyebar-luaskannya sampai menguasai kehidupan di muka bumi dan ia akan mati apabila manusia meremehkannya dan berpangku tangan, tidak mau membelanya.<br />
(Lihat Mâ dzâ Khasiral-&#8217;Alam Bi Inhithâthil-Muslimîn hal. 133-135)</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan cahaya dan petunjuk Al-Qur-ân, seorang muslim mengembangkan kehidupan spiritualnya ke dalam setiap aspek kehidupan materialnya, di mana pun ia berada dan apa pun yang ia kerjakan. Karena, tidak mungkin bagi seseorang bisa sampai pada kesempurnaan dan kebahagiaan sejati tanpa menggunakan sarana material yang dimilikinya.<br />
<em><strong>(Wallâhu A&#8217;lam)</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.asiisc.net/talkhis-ringkasan/manusia-dan-visi-kehidupannya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Metode al-qur-Ân untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat</title>
		<link>http://www.asiisc.net/talkhis-ringkasan/metode-al-qur-an-untuk-mencapai-kebahagiaan-dunia-dan-akhirat.html</link>
		<comments>http://www.asiisc.net/talkhis-ringkasan/metode-al-qur-an-untuk-mencapai-kebahagiaan-dunia-dan-akhirat.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Jan 2009 18:28:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Debby Nasution</dc:creator>
				<category><![CDATA[TALKHIS (RINGKASAN)]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.islam.rudytarigan.com/?p=244</guid>
		<description><![CDATA[Al-Qur-ân adalah Kalam Allâh yang tiada tara bandingnya (mu&#8217;jizat) diturunkan kepada Nabi kita Muhammad saw. dengan perantaraan malaikat Jibrîl a.s. Al-Qur-ân telah membangkitkan suatu umat yang tenggelam dalam kegelapan dan kesesatan serta membentuk mereka menjadi generasi yang belum pernah tampil dalam sejarah. Ia telah menampilkan orang-orang &#8216;Arab dari kehidupan sebagai penggembala onta dan kambing menjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Al-Qur-ân adalah Kalam Allâh yang tiada tara bandingnya (mu&#8217;jizat) diturunkan kepada Nabi kita Muhammad saw. dengan perantaraan malaikat Jibrîl a.s.</p>
<p style="line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana;"> Al-Qur-ân telah membangkitkan suatu umat yang tenggelam dalam kegelapan dan kesesatan serta membentuk mereka menjadi generasi yang belum pernah tampil dalam sejarah. Ia telah menampilkan orang-orang &#8216;Arab dari kehidupan sebagai penggembala onta dan kambing menjadi pemimpin bangsa-bangsa yang dapat menguasai dunia serta membangun peradabannya yang begitu besar dan agung. Kesemuanya itu berkat Al-Qur-ân, mu&#8217;jizat Muhammad saw. penutup para nabi dan rasul.</span></p>
<p style="text-align: justify;">Al-Qur-ân juga dengan jelas menghimbau manusia untuk percaya pada diri dan kekuatan dirinya di samping percaya dan berpegang teguh pada bantuan Ilâhi dalam wujud do&#8217;a dan shalat.<br />
Al-Qur-ân mengingatkan manusia untuk selalu percaya kemampuannya dan kemampuan kerjanya dan bersamaan dengan itu ia membuka pintu harapan dan memohon pertolongan Allâh, terutama pada saat-saat ia tidak mampu. Inilah pemberian agama yang paling besar kepada manusia yang berupa kekuatan, kesabaran dan harapan penuh kepada Allâh. Allâh berfirman :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/018.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>“Hai orang-orang yang beriman, minta bantuanlah kalian dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allâh bersama orang-orang yang sabar.”</em><br />
(Surah Al-Baqarah (2) : 153)</p>
<p style="text-align: justify;">Semua manusia pada dasarnya ingin mendapatkan kebahagiaan atau ketentraman, baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat. Tidak ada seorang pun yang menginginkan kesengsaraan, kekecewaan atau kesempitan hidup.<br />
Al-Qur-ânul-Karîm telah memerintahkan dan mengajarkan &#8212; dalam bentuk do&#8217;a &#8212; kepada kaum Muslimîn agar mereka mohon kepada Allâh Yang Maha Kuasa, supaya Dia berkenan memberikan kebahagiaan dunia dan akhirat kepada mereka :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/019.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>“Ya Rabb kami, berikanlah kepada kami kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka.”</em><br />
(Surah Al-Baqarah (2) : 201)</p>
<p style="text-align: justify;">Telah disebutkan dalam hadits-hadits yang shahih bahwa Rasûlullâh saw. sering sekali membaca do&#8217;a ini karena kandungannya yang begitu dalam dan juga termasuk <em>&#8220;Jawâmi&#8217;il-Kalâm&#8221;</em>, yaitu kalimat ringkas namun mengandung makna yang sempurna. Al-Imâm Ahmad telah meriwayatkan dari Anas r.a., yaitu ketika ia (Anas) ditanya : &#8220;Do&#8217;a apakah yang paling sering diucapkan oleh Rasûlullâh saw. ?&#8221;. Anas berkata :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/020.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>Beliau saw. &#8212; sering – mengucapkan : “Ya Rabb kami, berikanlah kepada kami kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Do&#8217;a dalam pandangan Islâm bukan sekedar permohonan atau permintaan yang didesak oleh keinginan yang sempit atau kebutuhan temporal terhadap hal-hal yang bersifat kebendaan (materiil) semata. Lebih dari itu, do&#8217;a harus dipahami sebagai ungkapan atau gambaran dari suatu cita-cita yang luas dan keinginan luhur dari seorang mu&#8217;min. Rasûlullâh saw. telah bersabda mengenai hal ini :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/021.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Manusia yang paling agung (besar) cita-citanya ialah orang mu&#8217;min, yaitu orang yang bercita-cita terhadap perkara dunianya dan (juga) perkara akhiratnya&#8221;.</em><br />
(H.R. Ibnu Mâjah)</p>
<p style="text-align: justify;">Dan do&#8217;a di atas &#8212; yang sering diucapkan Rasûlullâh saw. &#8212; sepenuhnya menggambarkan cita-cita dan keinginan seorang mu&#8217;min, yaitu cita-cita dan keinginan untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat ; <strong>&#8220;Hasanah Fîd-Dun-yâ dan Hasanah Fîl-Âkhirat&#8221;.</strong><br />
<em><strong>(Wallâhu A&#8217;lam)</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.asiisc.net/talkhis-ringkasan/metode-al-qur-an-untuk-mencapai-kebahagiaan-dunia-dan-akhirat.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hasanah fÎd-dun-ya</title>
		<link>http://www.asiisc.net/talkhis-ringkasan/hasanah-fid-dun-ya.html</link>
		<comments>http://www.asiisc.net/talkhis-ringkasan/hasanah-fid-dun-ya.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Jan 2009 18:30:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Debby Nasution</dc:creator>
				<category><![CDATA[TALKHIS (RINGKASAN)]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.islam.rudytarigan.com/?p=246</guid>
		<description><![CDATA[HASANAH FÎD-DUN-YA (Kebahagiaan Dunia) Sebagian dari &#8220;Kebahagiaan di Dunia&#8221; yang disebut dalam ayat 201 Surah Al-Baqarah (2) telah dijelaskan oleh Rasûlullâh saw. dalam salah-satu hadits, Beliau bersabda : Ada 4 (empat) hal &#8212; yang termasuk – kebahagiaan : &#8220;Isteri yang shalih, rumah yang luas, tetangga yang baik dan kendaraan yang menyenangkan&#8221;. (H.R. Al-Hakîm, Abû Nu&#8217;aim [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana; font-size: small;"><strong>HASANAH FÎD-DUN-YA</strong></span><br />
<span style="font-family: Verdana; font-size: x-small;"> (Kebahagiaan Dunia)</span></p>
<p style="line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana;">Sebagian dari <em>&#8220;Kebahagiaan  di Dunia&#8221;</em> yang disebut dalam ayat 201 Surah Al-Baqarah (2) telah dijelaskan oleh Rasûlullâh saw. dalam salah-satu hadits, Beliau bersabda :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/022.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>Ada 4 (empat) hal &#8212; yang termasuk – kebahagiaan : &#8220;Isteri yang shalih, rumah yang luas, tetangga yang baik dan kendaraan yang menyenangkan&#8221;.</em><br />
(H.R. Al-Hakîm, Abû Nu&#8217;aim dan Al-Baihaqî dari Sa&#8217;ad. Lihat Fathul-Kabîr juz I hal.305 no. : 900)</span></p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu &#8216;Abbâs r.a., salah seorang sahabat yang paling ahli dalam bidang tafsîr Al-Qur-ân berkata, bahwa yang dimaksud  <em>&#8220;Kebahagiaan di Dunia&#8221;</em> ialah :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/023.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Ilmu, keta&#8217;atan &#8212; kepada Allâh &#8211;, terjaga dari perbuatan dosa dan harta rampasan&#8221;.</em><br />
(Tafsîr Ibnu &#8216;Abbâs hal.28)</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, menurut Ibnu &#8216;Abbâs, seorang telah mencapai kebahagiaan di dunia apabila ia memiliki ilmu, melaksanakan keta&#8217;atan kepada Allâh, memelihara diri dari perbuatan dosa dan memperoleh harta rampasan perang atau menang dalam berjihâd.</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Imâm Ibnu Katsîr (rahimahullâh) menyebutkan dalam  tafsîrnya,     bahwa     yang     dimaksud     <em>”Kebahagiaan   di    Dunia”</em> itu mencakup 8 (delapan) aspek, yaitu :</p>
<p style="text-align: justify;">1.	&#8216;Afiyah (Kesehatan).<br />
2.	&#8216;Ilmun-Nâfî&#8217; (Ilmu Yang Bermanfa&#8217;at).<br />
3.	&#8216;Amalun-Shâlih (Pekerjaan Yang Baik).<br />
4.	Rizqun Wâsi&#8217; (Rezeki Yang Luas).<br />
5.	Zaujatun Hasanah (Isteri Yang Baik dan Cantik).<br />
6.	Dârun Rahbah (Rumah Yang Luas).<br />
7.	Markabun Hayyin (Kendaraan Yang Bagus).<br />
8.	Tsanâ-un Jamîl (Pujian Yang Indah&#8221; atau &#8220;Nama Baik&#8221;).</p>
<p style="text-align: justify;">Apa yang disebutkan oleh Al-Imâm Ibnu Katsîr (rahimahullâh) dalam Tafsîrnya sama-sekali tidak bertentangan dengan hadits Rasûlullâh saw. dan pendapat Ibnu &#8216;Abbâs r.a. sebelumnya yang menyebutkan tentang maksud atau pengertian dari <em>Kebahagiaan di Dunia</em>, bahkan saling memperkuat satu-sama lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mari kita bahas secara terperinci apa yang disebut oleh Al-Imâm Ibnu Katsîr (rahimahullâh) dalam &#8220;Tafsîrnya&#8221; :</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Pertama</strong></em><strong> :  &#8216;Afiyah</strong></p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;Afiyah artinya <em>&#8220;Kesehatan Jasmani&#8221;</em>. Dalam pandangan Islâm, kesehatan jasmani merupakan nikmat Allâh yang terbesar setelah keimanan, sebagaimana sabda Rasûlullâh saw. :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/024.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Mintalah kepada Allâh kebajikan dan kesehatan, karena tidak ada pemberian yang lebih baik daripada kesehatan bagi seseorang yang telah diberi keyakinan (keimanan)&#8221;.</em><br />
(H.R. Ahmad dan Tirmidzî. Lihat Fathul-Kabîr juz III hal. 208)</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hadits yang lain Rasûlullâh saw. menyebutkan bahwa nikmat sehat lebih besar nilainya daripada kekayaan :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/025.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Kekayaan tidak berbahaya bagi orang yang bertaqwa kepada Allâh. Akan tetapi, kesehatan lebih baik daripada kekayaan bagi orang yang bertaqwa kepada Allâh. Dan baiknya diri termasuk kenikmatan&#8221;.</em><br />
(H.R. Ahmad. Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr juz IV hal. 546)</p>
<p style="text-align: justify;">Yang dimaksud dengan <em>&#8220;baiknya diri&#8221;</em> dalam hadits ini ialah <em>&#8220;kesehatan rohani&#8221;</em> atau <em>&#8220;jiwa yang waras&#8221;</em>. Namun sebagian orang ada yang mengartikan sebagai <em>&#8220;ketampanan&#8221;</em> atau <em>&#8220;bentuk badan yang bagus&#8221;</em>.<br />
Oleh karena itu Rasûlullâh saw. memerintahkan umatnya agar senantiasa memohon kesehatan kepada Allâh baik di dunia maupun di akhirat, sabda Beliau:<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/026.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Mintalah kepada Allâh kebajikan dan kesehatan di dunia dan di akhirat&#8221;.</em><br />
(H.R. Al-Bukhârî dalam At-Târîkh dan Al-Hakîm. Lihat Fathul-Kabîr juz III no. 3525)</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai konsekwensinya, wajib bagi setiap muslim untuk menjaga atau memelihara kesehatannya, yang merupakan nikmat atau pemberian Allâh yang besar dan juga sarana utama dalam melaksanakan aktivitas ber&#8217;ibadah kepada Allâh.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu pentingnya soal kesehatan dalam pandangan Islâm sehingga setiap orang yang sakit atau terganggu kesehatannya diwajibkan untuk berobat semaksimal mungkin untuk mengembalikan kesehatannya. Al-Imâm Ahmad meriwayatkan sebuah hadits dalam <em>&#8220;Musnad&#8221;</em>nya dari Usâmah bin Syarîk ia berkata :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/027.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>Aku berada di sisi Nabi saw., ketika itu datang serombongan orang Badui, mereka berkata: &#8220;Ya Rasûlullâh, apakah kita &#8212; harus &#8212; berobat ?&#8221;. Maka Rasûlullâh saw. Bersabda : &#8220;Benar, wahai hamba-hamba Allâh, berobatlah kalian, karena sesungguhnya Allâh tidak menurunkan penyakit melainkan Ia turunkan juga obatnya, kecuali satu penyakit&#8221;. Mereka bertanya : &#8220;Penyakit apakah itu ?&#8221;. Beliau menjawab : &#8220;Tua&#8221;.</em><br />
(Lihat Ath-Thibbun-Nabawiy oleh Al-Imâm Ibnul-Qayyim hal. <img src='http://www.asiisc.net/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' />
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Kedua </strong></em><strong>: &#8216;Ilmun-Nâfî&#8217;</strong></p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;Ilmun-Nâfî&#8217; artinya <em>&#8220;Ilmu Yang Bermanfa&#8217;at&#8221;</em>. Adapun ta&#8217;rif atau definisi &#8216;Ilmu ialah :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/028.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Memahami sesuatu dengan sebenarnya&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Sebagian  Ahlu  Lughah  (Ahli Bahasa) mendefinisikan Ilmu sebagai <em>&#8220;Al-Yaqîn Wal-Ma&#8217;rifah&#8221;</em> yang artinya : <em>&#8220;Keyakinan dan pengetahuan&#8221;.</em> Jadi, Ilmu itu ialah <em>&#8220;keyakinan yang didasari oleh pengetahuan&#8221;.</em><br />
Menuntut ilmu hukumnya wajib bagi setiap muslim, sebagaimana sabda Rasûlullâh saw. :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/029.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim&#8221;.</em><br />
(H.R. Al-Baihaqî, Ibnu &#8216;Adî, Ath-Thabrânî, Al-Khâthîb. Lihat Fathul-Kabîr juz IV hal. 10 no.: 3808)</p>
<p style="text-align: justify;">Ilmu yang bermanfa&#8217;at ialah semua jenis ilmu yang memberikan kemashlahatan bagi kehidupan manusia. Prof. Dr. Mushthafâ As-Sibâî&#8217; mengatakan, bahwa pada dasarnya Islâm tidak mengenal adanya batas bagi ilmu pengetahuan yang dapat dicapai oleh seseorang yang sepandai-pandainya pun. Dalam hakikat perwujudan ini terdapat banyak lapangan yang dapat diselidiki oleh semua orang yang cerdik cendikiawan.</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya Prof. Dr. As-Sibâî&#8217; mengatakan, bahwa para &#8216;ulama syari&#8217;at telah sependapat bahwa ilmu yang dianjurkan oleh Agama untuk dituntut itu ada dua bagian :</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>1.- Ilmu Fardhu &#8216;Ain</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Yaitu ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap orang mukallaf (dewasa), tidak dibenarkan sama-sekali kalau seseorang mengemukakan alasan yang bagaimana pun untuk menghindarinya sehingga ia tetap bodoh dalam ilmu itu. Ilmu ini ialah yang dibutuhkan oleh setiap orang demi untuk melaksanakan Agamanya agar &#8216;amalannya dapat diterima oleh Allâh SWT. Dan inilah yang disebut &#8220;Ilmu Agama&#8221; yang di dalamnya terkandung segala macam hukum-hukum per&#8217;ibadatan dan mu&#8217;amalat.</p>
<p style="text-align: justify;">Asy-Syaikhul-Islâm Muhammad bin &#8216;Abdul-Wahhâb mengatakan bahwa dasar Ilmu Agama itu ada tiga :</p>
<table style="text-align: justify;" border="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td width="24" valign="top"><span style="font-family: Webdings;">4</span></td>
<td align="justify"><span style="font-family: Verdana;"> Ma&#8217;rifatullâh atau mengenal  Allâh.</span></td>
</tr>
<tr>
<td width="24" valign="top"><span style="font-family: Webdings;">4</span></td>
<td align="justify"><span style="font-family: Verdana;"> Ma&#8217;rifatu Nabiyyih atau mengenal Nabi-Nya.</span></td>
</tr>
<tr>
<td width="24" valign="top"><span style="font-family: Webdings;">4</span></td>
<td align="justify"><span style="font-family: Verdana;"> Ma&#8217;rifatu Dînil-Islâm bil-Adillah atau memahami Agama Islâm berdasarkan dalil-dalil Al-Qur-ân dan As-Sunnah.</span></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align: justify;">Tujuan utama dari Agama ialah memperbaiki &#8216;aqîdah (keyakinan) dan hati manusia agar mereka memiliki iman yang kuat sehingga mereka mampu untuk melaksanakan semua perintah Agama sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki serta menjauhi atau meninggalkan semua yang dilarang Agama, dan hanya dengan cara seperti itulah mereka memperoleh ridha Allâh yang merupakan tujuan akhir dari kehidupan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>2.- Ilmu Fardhu Kifayah</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Yaitu ilmu-ilmu yang dibutuhkan masyarakat, sebagaimana telah didefinisikan oleh Al-Imâm Al-Ghâzâlî dalam Al-Ihyâ&#8217; I : 16 :<br />
<em>&#8220;Fardhu Kifayah ialah segala ilmu pengetahuan yang tidak dapat diabaikan ya&#8217;ni yang tidak boleh tidak harus ada, untuk menegakkan kehidupan keduniaan seperti ilmu kedokteran, sebab ilmu itu sangat dibutuhkan guna melindungi kelangsungan hidupnya tubuh. Juga seperti berhitung dalam segala macam mu&#8217;amalat, pembagian harta pusaka (warisan), wasiat dan lain-lain&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu &#8216;Abidin mengatakan :<br />
<em>&#8220;Fardhu Kifayah ialah segala macam ilmu pengetahuan yang dirasa sangat diperlukan untuk tegaknya urusan keduniaan seperti kedokteran, berhitung, bahasa dan juga segala macam pekerjaan dan pertukangan semacam pertenunan, politik dan sebagainya&#8221;.</em><br />
(Lihat &#8220;Isytirâkiyatul-Islâm&#8221;, oleh : Dr. Mushthafâ As-Sibâî&#8217;, terjemahan : &#8220;Kehidupan Sosial Menurut Islâm&#8221; oleh : M. Abdai Ratomy hal. 1224 &#8211; 126)</p>
<p style="text-align: justify;">Pada zaman sekarang ilmu-ilmu tersebut lebih dikenal dengan istilah IPTEK. Para &#8216;ulamâ&#8217; mengatakan bahwa tujuan dari IPTEK ialah meningkatkan taraf hidup umat manusia, kemajuan di bidang ekonomi dan militer. Rasûlullâh saw. telah bersabda mengenai hal ini :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/030.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Kalian lebih tahu tentang perkara dunia kalian&#8230;.&#8221;.</em><br />
(H.R. Muslim. Lihat Fathul-Kabîr juz II hal.26 no. : 1500)</p>
<p style="text-align: justify;">Ini merupakan pernyataan yang tegas dari Beliau saw., bahwa masalah yang menyangkut keduniaan, khususnya dalam bidang IPTEK, telah dipercayakan sepenuhnya oleh Beliau saw. kepada umatnya, yaitu mempelajari, meneliti, membahas dan mengembangkannya. Bahkan, mengambil-alihnya dari non muslim apabila diperlukan, yang sekarang lebih dikenal dengan istilah &#8220;alih teknologi&#8221;. Sebagai contoh dalam masalah ini, Beliau saw. pernah mengutus dua orang sahabat : <em>&#8216;Urwah bin Mas&#8217;ûd dan Ghailan bin Maslamah</em> ke Yaman untuk mempelajari pembuatan senjata &#8220;Dâbbah&#8221; (semacam tank di zaman modern) setelah Beliau mengetahui bahwa alat tersebut mampu digunakan untuk menerobos benteng lawan.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, dalam Islâm tidak ada pertentangan atau dualisme antara Ilmu Agama dengan IPTEK, bahkan Islâm membuka bagi umatnya pintu-pintu pengetahuan seraya menghimbau mereka untuk masuk mencari dan mengembangkannya. Dan Islâm telah memadukan di antara keduanya, sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat:<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/031.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Siapa yang menginginkan dunia, maka ia harus memiliki ilmu, dan siapa yang menginginkan akhirat, maka ia harus memiliki ilmu. Dan siapa yang menginginkan dunia dan akhirat, maka ia harus memiliki ilmu&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dengan kata-lain, dunia dan akhirat hanya dapat diperoleh dengan ilmu. Sejarah dunia pun telah mencatat dengan tinta emas betapa banyaknya ilmuwan-ilmuwan Islâm yang tampil menjadi pelopor-pelopor kemajuan ilmu pengetahuan di berbagai bidang. Prof. Philip K. Hitti telah menyebutkan sejumlah nama-nama besar itu, seperti Ibnu Sinâ dan`Ar-Râzî di bidang kedokteran, &#8216;Umar Khayyam yang tersohor sebagai ahli astronomi, Al-Khawarizmi salah seorang sarjana Islâm yang paling agung dan mempunyai pengaruh terbesar terhadap ilmu pasti yang pelik. Ia juga membuat buku-buku yang pertama sekali tentang berhitung dan aljabar. Kemudian buku aljabar itu disalin ke dalam bahasa Latin dan merupakan buku pelajaran ilmu pasti yang paling utama di universitas-universitas Eropa sampai abad ke 16. Kemudian Jâbir bin Hayyan yang merupakan salah seorang ahli kimia. Dan masih banyak lagi nama-nama ilmuwan besar Islâm lainnya yang tidak mungkin disebutkan semuanya di sini.</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Ustadz Sayyid Sâbiq telah memberi komentar yang menarik dalam masalah ini, beliau berkata :</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Mempelajari pengetahuan-pengetahuan umum dalam berbagai bidangnya itu tidak kalah pentingnya dari mempelajari ilmu-ilmu agama, seperti ilmu alam, kimia, falak, hayat (manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan), ilmu jiwa, ilmu kemasyarakatan, sejarah dunia dan lain-lain.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Adapun tujuan dari IPTEK itu ialah supaya kita dapat mengambil kemanfa&#8217;atan dari seisi alam &#8212; baik yang di langit maupun yang di bumi &#8212; yang telah ditaklukkan atau ditaskhirkan Allâh bagi manusia, sebagaimana firman-Nya :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/032.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Allâh yang menundukkan laut untuk kalian agar bahtera berlayar padanya dengan izin-Nya dan agar kalian dapat mencari karunia-Nya dan supaya kalian bersyukur. Dan Dia tundukkan untuk kalian apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu menjadi tanda-tanda (kekuasaan Allâh) bagi kaum yang berfikir&#8221;.</em><br />
(Surah Al-Jâtsiyah (45) : 12 &amp; 13)</p>
<p style="text-align: justify;">Cobalah renungkan, apakah mungkin kita dapat mengambil kemanfa&#8217;atan selama kita belum memiliki ilmu pengetahuan yang cukup untuk menguasainya ? Atau, apakah kita dapat mengenyam hasilnya secara optimal selama kita masih lalai dan belum mengerti teorinya ?</p>
<p style="text-align: justify;">Padahal, memperoleh hasil yang optimal bukan suatu hal yang datang dengan sendirinya, dengan sambil lalu atau kebetulan, tetapi jelas sekali bahwa hal itu dapat diwujudkan hanya dengan memiliki ilmu pengetahuan yang sebenar-benarnya. Dengan ini barulah diperoleh buah yang lezat.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hal ini para &#8216;ulamâ&#8217; telah sependapat bahwa mempelajari ilmu-ilmu atau pengetahuan-pengetahuan yang menyebabkan tegak dan sempurnanya industri dalam segala bidang, demikian pula dengan ilmu-ilmu yang bersangkutan dengan teori kemiliteran (ketentaraan), adalah &#8220;Fardhu Kifayah&#8221;. Demikian ucapan Al-Ustadz Sayyid Sâbiq (rahimahullâh).</p>
<p style="text-align: justify;">Ilmu dalam pandangan Islâm dianggap sebagai suatu kemuliaan, karena dengan ilmu pengetahuan Allâh mengunggulkan Adam atas para malaikat-Nya, dan Allâh pun memerintahkan kepada para malaikat supaya memberi penghormatan kepada Adam, setelah diperlihatkan keistimewaan yang dimiliki olehnya yaitu &#8220;ilmu pengetahuan&#8221;. Maka, dengan keistimewaan itu manusia mempunyai hak penuh untuk menjadi khalifah di bumi, juga hak untuk menguasai dan memerintahnya. Karena hanya dengan ilmu pengetahuan yang cukup, manusia dapat menjalankan fungsinya sebagai khalifah di bumi atau menjadi seorang profesional menurut istilah sekarang.</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Qur-ân pun memerintahkan  manusia untuk berdo&#8217;a kepada Allâh agar senantiasa diberi tambahan ilmu pengetahuan :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/033.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>Dan katakanlah : &#8220;Ya Rabb ku, tambahkanlah ilmu untuk-ku&#8221;.</em><br />
(Surah Thâha (20) : 114)</p>
<p style="text-align: justify;">Ilmu pengetahuan hanya bisa diperoleh dengan cara belajar atau mempelajarinya dengan tekun, sebagaimana sabda Rasûlullâh saw. :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/034.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Wahai manusia, sesungguhnya ilmu pengetahuan itu hanya bisa diperoleh dengan belajar, dan kefaqihan (pengertian) diperoleh dengan tafaqquh (pemahaman). Dan siapa yang dikehendaki baik oleh Allâh, akan diberikan kefaqihan (pemahaman) dalam agama. Sesungguhnya yang benar-benar takut kepada Allâh ialah hamba-hamba-Nya yang berilmu&#8221;.</em><br />
(H.R. Ath-Thabrânî. Lihat Al-Ahâdîtsush-Shahîhah oleh Asy-Syaikh Al-Albanî juz III hal 61 no. 342)</p>
<p style="text-align: justify;">Ilmu pengetahuan menjadikan manusia mampu berikhtiyar dan melakukan pekerjaan (ber&#8217;amal) dengan baik dan benar, karena ia merupakan sumber tumbuhnya motivasi, sebagaimana ucapan Asy-Syaikhul-Islâm Ibnu Taymiyyah :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/035.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Motivasi (niat) itu akan mengikuti ilmu&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa ilmu dan informasi &#8212; yang diterima oleh hati &#8211;, tidak akan timbul motivasi atau niat untuk melakukan pekerjaan atau &#8216;amal. Begitu-pula baik atau buruknya niat (motivasi) sangat tergantung dari baik atau buruknya ilmu atau informasi yang diterima oleh hati.</p>
<p style="text-align: justify;">Sehubungan dengan masalah ini, Asy-Syaikh Muhammad As-Sayyid Ahmad Al-Wakîl mengatakan, bahwa ilmu itu ada dua macam, yaitu : Ilmu yang mendapat keridhaan Allâh dan bermanfa&#8217;at bagi manusia. Inilah ilmu yang mendorong tumbuhnya niat atau motivasi yang baik dalam hati manusia. Kemudian, ilmu yang tidak diridhai Allâh serta tidak bermanfa&#8217;at bagi manusia &#8212; bahkan mendatangkan kemudharatan – seperti : ilmu sihir, tenung, ramal dan lain-lain. Inilah ilmu yang membentuk niat atau motivasi yang buruk dalam hati manusia.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasûlullâh saw. senantiasa berdo&#8217;a kepada Allâh agar dilindungi dari ilmu yang tidak bermanfa&#8217;at :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/036.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>“Ya Allâh, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari 4 perkara : Dari ilmu yang tidak bermanfa&#8217;at, dari hati yang tidak khusyu, dari jiwa yang tidak kenyang dan dari do&#8217;a yang tidak didengar.”</em><br />
(H.R. Nasa-î juz VIII hal. 263)</p>
<p style="text-align: justify;">Inilah 4 (empat) perkara buruk bagi manusia : Ilmu yang tidak bermanfa&#8217;at, hati yang tidak khusyu&#8217;, jiwa yang tidak pernah puas atau konsumtif, dan do&#8217;a yang tidak didengar, yaitu do&#8217;a yang tidak dikabulkan Allâh.</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Ketiga :</strong></em><strong> &#8216;Amalun Shâlih</strong></p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;Amalun Shâlih artinya <em>&#8220;Perbuatan Yang Baik&#8221;</em>. Kata &#8216;amal dalam Islâm sebenarnya tidak terbatas pada perbuatan yang bersifat ritual semata &#8212; seperti yang dipahami kebanyakan orang sekarang &#8211;, namun ia mempunyai makna yang luas, yang juga mencakup pada perbuatan atau pekerjaan mencari rezeki, sebagaimana sabda Rasûlullâh saw. :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/037.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>“Sebaik-baik &#8212; rezeki &#8212; yang dimakan oleh seseorang ialah hasil dari pekerjaan (&#8216;amal) tangannya. Dan sesungguhnya Nabi Allâh Dâwûd a.s. makan dari pekerjaan (&#8216;amal) tangannya.”</em><br />
(H.R. Al-Bukhârî)</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hadits ini Rasûlullâh saw. menggunakan kata &#8216;amal untuk pekerjaan atau usaha mencari rezeki. Kemudian Beliau saw. informasikan juga bahwa Nabi Dâwûd a.s. walaupun seorang raja, tetap makan dari hasil usahanya, tidak seperti umumnya raja-raja yang ada, yang makan dari hasil pungutan pajak dan lain-lain yang bukan hasil usahanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tentang bekerjanya Nabi Dâwûd a.s. telah disebutkan Al-Qur-ânul-Karîm dengan jelas sekali, yaitu dalam surah Sabâ&#8217; (34) : 10 &amp; 11 :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/038.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>“Dan sesungguhnya telah Kami berikan pada Dâwûd karunia dari Kami, (Kami) berfirman) : &#8220;Hai gunung-gunung, dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Dâwûd&#8221;. Dan Kami telah melunakkan besi untuknya. (yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah &#8216;amal yang shâlih. Sesungguhnya Aku melihat apa yang kalian kerjakan.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Kedua ayat ini menyebutkan bahwa Allâh telah memberikan keistimewaan dan ilmu mengolah logam atau metalurgi kepada Nabi Dâwûd a.s., yang dengan ilmu itu Allâh perintahkan Nabi Dâwûd untuk membuat baju besi dengan cermat dan akurat. Dan dalam ayat ini Allâh pun menggunakan kata &#8216;amal dalam bentuk perintah yang berarti &#8220;pekerjaan&#8221; yang berkaitan dengan soal keduniaan. Al-Imâm Al-Qurthubî mengatakan dalam &#8220;Tafsirnya&#8221; :</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Ada beberapa pelajaran yang bisa ditarik dari kedua ayat ini. Pertama : Seorang yang telah begitu banyak mendapat karunia Allâh &#8212; dalam hal ini Nabi Dâwûd a.s. &#8212; masih mau mempelajari teknik industri. Kedua : Hal itu sama-sekali tidak merendahkan derajat, bahkan lebih menambah kemuliaannya. Ketiga : Hal itu justru akan menimbulkan rasa tawadhu&#8217; dalam diri dan menghilangkan ketergantungan kepada orang lain. Keempat : Pekerjaan yang halal tidak akan menimbulkan omongan yang negatif, bahkan sebaliknya&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Ber&#8217;amal atau bekerja bagi manusia merupakan sebuah konsekwensi dari penciptaan langit dan bumi, sebagaimana firman Allâh :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/039.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah &#8216;Arsy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kalian yang lebih baik &#8216;amal (pekerjaan)nya.&#8221;</em><br />
(Surah Hûd (11) : 7)</p>
<p style="text-align: justify;">Maksudnya, Allâh ciptakan langit dan bumi untuk tempat berdiam makhluq-Nya serta tempat berusaha dan ber&#8217;amal, agar nyata di antara mereka siapa yang ta&#8217;at dan patuh kepada Allâh. Bahkan, dalam ayat yang lain, secara lebih spesifik Allâh tegaskan bahwa ber&#8217;amal dan berusaha merupakan konsekwensi dari adanya kematian dan kehidupan yang Dia berikan kepada manusia :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/040.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;(Dia) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik &#8216;amal (pekerjaan)nya&#8221;.</em><br />
(Surah Al-Mulk (67) : 2)</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu Islâm menganjurkan setiap individu untuk bekerja dan berusaha mencari rezeki, bahkan Islâm menetapkan hal itu sebagai suatu kewajiban, sebagaimana firman-Nya :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/041.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Dia-lah yang menciptakan bumi itu mudah bagi kalian, maka berjalanlah di seluruh penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya&#8221;.</em><br />
(Surah Al-Mulk (67) : 14)</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Imâm  Ibnu  Katsîr  menyebutkan  dalam  &#8220;Tafsîrnya&#8221;,  bahwa  kata  <em>&#8220;berjalanlah kalian&#8221;</em> dalam ayat ini maksudnya berjalan atau melakukan perjalanan dalam rangka <em>&#8220;berusaha dan berniaga&#8221;</em> di negara-negara yang ada di dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">Perintah untuk bekerja mencari harta pun banyak dijumpai dalam hadits-hadits yang shahih. Rasûlullâh saw. pun sangat menghargai seorang muslim yang bekerja keras untuk menghidupi keluarganya, sebagaimana disebutkan dalam hadits :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/042.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Seandainya salah seorang kalian mengumpulkan kayu bakar yang diikat di punggungnya, itu lebih baik daripada ia meminta-minta kepada orang lain, yang mungkin diberi atau tidak diberi&#8221;.</em><br />
(H.R. Al-Bukhârî)</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam sebuah riwayat yang lain disebutkan, bahwa Rasûlullâh saw. pernah berjabat tangan dengan Sa&#8217;ad bin Mu&#8217;âdz r.a., ketika itu Beliau saw. merasakan tangan Sa&#8217;ad begitu kasar (kapalan), maka Beliau tanyakan hal itu kepada Sa&#8217;ad; dan dijawab oleh Sa&#8217;ad :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/043.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Aku selalu bekerja dengan cangkul dan bajak untuk menghidupi keluarga-ku&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Maka Rasûlullâh saw. pun mencium kedua telapak tangan Sa&#8217;ad sambil bersabda :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/044.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Inilah dua telapak tangan yang dicintai Allâh SWT.&#8221;.</em><br />
(Lihat An-Nizhâmil-Iqtishâdî Fîl-Islâm oleh Taqiyud-Dîn An-Nabhânî hal. 64)</p>
<p style="text-align: justify;">Islâm sangat melarang umatnya menyibukkan diri dalam ibadah ritual sampai meninggalkan kewajiban mencari nafqah, sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat, bahwa &#8216;Umar bin Khaththâb pernah meliwati serombongan ahli baca Al-Qur-ân yang sedang duduk sambil munundukkan kepala mereka. Lalu &#8216;Umar pun bertanya : &#8220;Siapakah mereka itu ?&#8221;. Dikatakan kepada &#8216;Umar : &#8220;Mereka adalah orang-orang yang bertawakal (berserah diri kepada Allâh)&#8221;. Maka &#8216;Umar pun segera menyanggah ucapan itu :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/045.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Itu tidak benar, mereka adalah tukang makan (pengangguran), yaitu orang-orang yang suka makan harta manusia. Maukah kalian aku beritahu siapakah sebenarnya orang yang bertawakal itu ?&#8221;. Mereka pun menjawab : &#8220;Mau&#8221;. Maka berkatalah &#8216;Umar : &#8220;Dia &#8212; orang yang bertawakal &#8212; ialah orang yang menanam benih di tanah, lalu ia bertawakal kepada Rabb-nya Yang Maha Mulia dan Maha Agung&#8221;.</em><br />
(Lihat An-Nizhâmil-Iqtishâdî Fîl-Islâm oleh Taqiyud-Dîn An-Nabhânî hal. 64)</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, sikap tawakal atau berserah diri kepada Allâh dilakukan setelah berusaha secara maksimal. Melakukan tawakal tanpa usaha yang maksimal adalah sikap yang tidak sesuai dengan ajaran Islâm.</p>
<p style="text-align: justify;">Melakukan usaha atau bekerja secara maksimal adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim selama ia mampu melakukannya, dalam situasi dan kondisi yang bagaimana pun. Bahkan dalam situasi dan kondisi yang paling gawat sekali pun, sebagaimana sabda Rasûlullâh saw. :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/046.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Seandainya qiyamat telah terjadi, dan di tangan salah-seorang kalian ada cangkukan (anak pohon kurma), maka jika ia masih mampu untuk menanamnya sebelum ia berdiri, hendaklah ia menanamnya&#8221;.</em><br />
(H.R. Ahmad. Lihat Al-Ahâdîtsush-Shahîhah oleh Asy-Syaikh Al-Albânî juz I hal. 11 no. 9)</p>
<p style="text-align: justify;">Hadits ini cukup menjadi bukti bahwa Islâm sangat memuliakan pekerjaan atau usaha yang baik yang dilakukan secara maksimal.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;&#8216;Amalun Shâlih&#8221;</em> atau <em>&#8220;Perbuatan Yang Baik&#8221;</em> pada-dasarnya merupakan tindak lanjut atau realisasi daripada <em>&#8220;&#8216;Ilmun Nâfi&#8217;&#8221;</em> atau <em>&#8220;Ilmu Yang Bermanfa&#8217;at&#8221;</em>. Karena ilmu yang tidak di&#8217;amalkan, tidak akan mendatangkan manfa&#8217;at. Seperti misalnya, seorang yang tahu bahwa bekerja dan berusaha mencari rezeki itu wajib hukumnya dan merupakan perbuatan yang mulia, namun ia tidak berusaha mewujudkan hal itu, padahal dia sudah mengetahui, maka pengetahuannya akan hal itu tidak akan mendatangkan manfa&#8217;at baginya. Begitu-pula halnya dengan ilmu-ilmu atau pengetahuan-pengetahuan lainnya, semua itu tidak akan mendatangkan manfa&#8217;at apabila tidak di&#8217;amalkan. Mu&#8217;âdz bin Jabal &#8212; salah seorang sahabat besar &#8212; telah menegaskan hal itu, ia berkata :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/047.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Ber&#8217;amal (bekerja)lah sesuai keinginan kalian, yaitu setelah kalian mempelajarinya (memiliki ilmunya). Sesungguhnya Allâh sekali-kali tidak akan memberikan balasan kepada kalian semata-mata karena ilmu &#8212; yang ada pada kalian &#8212; sehingga kalian meng&#8217;amalkannya&#8221;.</em><br />
(Sunan Ad-Dârimî juz I hal. 81)</p>
<p style="text-align: justify;">Islâm sangat mencela orang yang berilmu tapi tidak mau meng&#8217;amalkan ilmunya, meskipun ia mengajarkan ilmu itu kepada orang lain, sebagaimana sabda Rasûlullâh saw. :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/047a.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Perumpamaan orang yang memiliki ilmu, yang mengajarkan kebaikan pada manusia, namun ia melupakan dirinya, seperti perumpamaan lampu yang menerangi manusia, tetapi membakar dirinya&#8221;.</em><br />
(H.R. Ath-Thabranî dan Adh-Dhiyâ&#8217;. Lihat Fathul-Kabîr juz V hal. 196 no.: 5707)</p>
<p style="text-align: justify;">Dan meng&#8217;amalkan ilmu adalah cara yang paling efektif untuk memelihara atau menjaga ilmu itu, sebagaimana diucapkan oleh Asy-Syaikh Muhammad &#8216;Abduh :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/048.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Sesungguhnya cara memelihara ilmu, ialah dengan meng&#8217;amalkannya&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Keempat </strong></em><strong>: Rizqun Wâsi&#8217;</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Rizqun Wâsi&#8217; artinya <em>&#8220;Rezeki Yang Luas&#8221;</em>, yaitu rezeki yang cukup untuk mencukupi kebutuhan, sebagaimana sabda Rasûlullâh saw. :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/049.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Sungguh berbahagialah seorang yang menjadi muslim dan diberi rezeki yang cukup, dan Allâh membuatnya rela (qana&#8217;aah) pada apa yang Allâh berikan padanya&#8221;.</em><br />
(H.R. Muslim, At-Tirmidzî, Ahmad dan Al-Baihaqî. Lihat Al-Ahâdîtsush-Shahîhah oleh Asy-Syaikh Al-Albânî juz II hal. 41 no. 129)</p>
<p style="text-align: justify;">Asy-Syaikh Al-Albânî (rahimahullâh) memberikan komentar yang sangat baik dalam masalah ini, beliau berkata :</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Suatu yang harus diyakini, bahwa pengertian &#8220;cukup&#8221; dalam hadits ini memiliki ukuran yang berbeda-beda bagi masing-masing orang, pada tiap-tiap masa dan situasi. Jadi, sudah sepantasnya bagi orang yang memiliki &#8216;aqal sehat untuk berusaha menetapkan ukuran &#8220;cukup&#8221; yang tepat dan pantas baginya, sehingga ia tidak dibebani oleh kebutuhan &#8212; diluar ukuran &#8211;, dan juga tidak perlu mengejar-ngejar harta untuk bersenang-senang dan bermewah-mewahan. Karena, harta yang berlebih-lebihan justru membuatnya sulit untuk selamat dari dampak negatif yang ditimbulkannya. Apalagi pada masa sekarang ini, di mana tempat-tempat &#8212; hiburan &#8212; yang menggoda begitu banyak dan sangat mudah mendatanginya bagi orang-orang yang kelebihan harta. Semoga Allâh SWT. melindungi kita dari hal itu, dan memberikan rezeki yang cukup dalam kehidupan&#8221;.</em><br />
(Lihat Al-Ahâdîtsush-Shahîhah oleh Asy-Syaikh Al-Albânî juz II hal. 34-35)</p>
<p style="text-align: justify;">Di dalam Al-Qur-ân banyak sekali ayat-ayat yang memerintahkan manusia untuk berusaha mencari rezeki, di antaranya firman Allâh :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/050.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Sebagian dari rahmat-Nya ialah Dia jadikan malam dan siang untuk kalian, agar kalian beristirahat pada malam itu dan agar kalian mencari sebagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kalian bersyukur kepada-Nya&#8221;.</em><br />
(Surah Al-Qashash (28) : 73)</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Imâm Al-Qurthubî mengatakan dalam Tafsîrnya, bahwa yang dimaksud <em>&#8220;agar kalian mencari karunianya&#8221;</em> ialah :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/051.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Agar kalian mencari rezeki-Nya di siang hari&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan Al-Imâm Ibnu Katsîr mengatakan :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/052.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Agar kalian mencari rezeki-Nya di siang hari dengan melakukan perjalanan dan berpindah dari suatu tempat ke tempat lain, serta melakukan berbagai aktifitas dan kegiatan&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Di samping itu, dengan rezeki yang diperoleh dari usahanya, ia pun diperintah untuk menginfaqkan atau memberikan sebagian hartanya kepada orang lain yang membutuhkannya, sebagaimana firmana Allâh :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/053.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Hai orang-orang yang beriman, nafqahkanlah &#8212; di jalan Allâh &#8212; sebagian dari hasil usaha kalian yang baik-baik, dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kalian&#8221;.</em><br />
(Surah Al-Baqarah (2) : 267)</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Imâm Ibnu Katsîr mengatakan bahwa yang dimaksud <em>&#8220;yang baik-baik&#8221;</em> :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/054.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Apa saja rezeki yang telah Allah berikan pada mereka berupa harta-benda yang mereka peroleh dari pekerjaan mereka&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Hal ini menunjukkan bahwa Islâm mewajibkan kepada setiap orang untuk berusaha dengan sungguh-sungguh mencari rezeki yang dapat mencukupi kebutuhannya. Yaitu, jangan sampai ia kekurangan atau mengalami kefaqiran. Karena kefaqiran itu sangat membahayakan kehidupan beragamanya, sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/055.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Kefaqiran itu mendekatkan (seseorang) pada kekufuran&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;Utsmân bin &#8216;Affân r.a. mengatakan, bahwa tidak seorang pun yang ditimpa kefaqiran, melainkan ia pasti terkena tiga macam perkara : &#8220;Lemah keagamaannya, lemah pula &#8216;aqalnya dan hilang keperwiraan hatinya&#8221;. Dan yang lebih berat lagi ialah, bahwa manusia akan menganggapnya ringan serta tidak menghargainya.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu berbahayanya kefaqiran bagi manusia, sehingga Rasûlulâh saw. memerintahkan umatnya berdo&#8217;a kepada Allâh SWT. mohon perlindungan kepada-Nya dari kefaqiran :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/056.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Minta perlindunganlah kalian kepada Allâh dari kefaqiran dan kemiskinan, dan juga dari berbuat zhalim atau dizhalimi&#8221;.</em><br />
(H.R. Ath-Thabrânî. Lihat Fathul-Kabîr juz I hal. 319 no.: 952)</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam salah-satu hadits disebutkan bahwa Beliau saw. berdo&#8217;a kepada Allâh agar diberi kekayaan :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/057.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Ya Allâh, sesungguhnya  aku minta kepada-Mu hidayah, ketaqwaan, kehormatan diri dan kekayaan&#8221;.</em><br />
(H.R. Muslim, At-Tirmidzî, Ibnu Mâjah. Lihat Fathul-Kabîr juz I hal. 403 no.: 1286)</p>
<p style="text-align: justify;">Namun perlu diketahui, bahwa kekayaan bukanlah sekedar banyaknya harta yang dimiliki, akan tetapi kekayaan yang hakiki menurut Islâm ialah kekayaan hati, sebagaimana sabda Rasûlullâh saw. :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/058.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Kekayaan itu bukan &#8212; dilihat &#8211; dari banyaknya harta, akan tetapi &#8212; hakikat &#8212; kekayaan adalah kayanya hati&#8221;.</em><br />
(Muttafaqun &#8216;alaih. Lihat Riyâdhush-Shâlihîn hal. 520)</p>
<p style="text-align: justify;">Islâm mengharuskan setiap orang berdo&#8217;a kepada Allâh agar diberikan harta-benda yang banyak, sebagaimana Rasûlullâh saw. pernah mendo&#8217;akan Anas r.a. :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/059.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Ya Allâh, perbanyaklah harta-benda dan anaknya, dan berkahilah apa saja rezeki yang Engkau berikan kepadanya&#8221;.</em><br />
(H.R. Ath-Thayâlisî. Lihat  Al-Ahâdîtsush-Shahîhah oleh Asy-Syaikh Al-Albânî juz II hal. 57 no. 140)</p>
<p style="text-align: justify;">Asy-Syaikh Al-Albânî telah memberi kesimpulan yang sangat baik sekali mengenai hadits ini, beliau mengatakan banyak sekali faedah yang dikandungnya. Di antara faedah tersebut menurut Asy-Syaikh Al-Albânî ialah :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/060.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Sesungguhnya berdo&#8217;a &#8212; kepada Allâh &#8212; minta diperbanyak harta-benda dan anak, adalah diwajibkan (disyari&#8217;atkan), dan Al-Bukhârî telah menegaskan kesimpulan hadits ini dalam Bab: Berdo&#8217;a minta diperbanyak harta dan anak serta minta keberkahannya&#8221;. </em><br />
(Lihat Al-Ahâdîtsush-Shahîhah oleh Asy-Syaikh Al-Albânî juz II hal. 60)</p>
<p style="text-align: justify;">Telah disebutkan dalam suatu riwayat, bahwa Beliau saw. pernah berdo&#8217;a minta perlindungan dari dari rezeki yang sempit :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/061.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Ya Allâh, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari nifaq (sifat  munafiq), buruknya akhlaq (perangai) dan sempitnya rezeki&#8221;.</em><br />
Ada tiga  jenis keburukan yang disebut dalam do&#8217;a ini, yang perlu mendapat perhatian :</p>
<p style="text-align: justify;">1.- An-Nifâq, ialah &#8220;penyakit hati&#8221; (batin). Pemilik penyakit ini disebut munafiq. Ciri khas penyakit ini ada tiga, sebagaimana sabda Rasûlullâh saw. :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/062.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Tanda-tanda munafiq itu ada tiga: Apabila bercerita ia berdusta, apabila berjanji ia ingkar dan apabila dipercaya ia berkhianat&#8221;.</em><br />
(H.R. Al-Bukhârî juz I hal. 15)</p>
<p style="text-align: justify;">2.- Sû-ul-Akhlâq artinya &#8220;perangai yang buruk&#8221;. Orang yang berperangai buruk sangat dibenci Allâh, sebagaimana sabda Rasûlullâh saw. :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/063.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Sesungguhnya Allâh Ta&#8217;âlâ sangat membenci orang yang berperangai buruk dan bermulut buruk&#8221;.</em><br />
(H.R. Ahmad. Lihat Fathul-Kabîr juz II hal. 143 no.: 1873)</p>
<p style="text-align: justify;">Dan ia merupakan seburuk-buruk manusia serta tersingkir dari pergaulan, sebagaimana sabda Rasûlullâh saw. :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/064.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Wahai &#8216;Â-isyah, sesungguhnya seburuk-buruk manusia ialah orang yang ditinggalkan atau dibiarkan oleh manusia karena kuatir terhadap sifat buruknya&#8221;.</em><br />
(H.R. Al-Bukhârî . Lihat Al-Ahâdîtsush-Shahîhah oleh Asy-Syaikh Al-Albânî juz III hal. 40)</p>
<p style="text-align: justify;">3.- Dhaiqul-Arzâq artinya &#8220;sempitnya rezeki&#8221;, yaitu rezeki yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan.</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Kelima</strong></em><strong> : Zaujatun Hasanah</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Zaujatun Hasanah artinya <em>&#8220;Isteri Yang Baik dan Cantik&#8221;</em>. Dan yang dimaksud cantik ialah baik penampilan sehingga menimbulkan rasa senang dalam pandangan suaminya, dan baik pula akhlaq dan keta&#8217;atannya kepada suami serta pandai menjaga amanah. Sebagaimana Firman Allâh SWT. :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/065.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>“Wanita yang shalih ialah yang ta&#8217;at lagi memelihara dirinya pada yang ghaib , karena Allâh telah memelihara mereka.”</em><br />
(Surah An-Nisâ&#8217; (4) : 34)</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu &#8216;Abbâs dll,. mengatakan bahwa yang dimaksud &#8220;yang ta&#8217;at&#8221; dalam ayat ini ialah :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/066.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Wanita yang ta&#8217;at pada suaminya&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan yang dimaksud &#8220;yang memelihara dirinya pada yang ghaib&#8221; menurut As-Sudî dll. ialah :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/067.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Ia (wanita) menjaga  &#8212; kehormatan &#8212; suami  diwaktu suaminya pergi, yaitu menjaga dirinya dan harta suaminya&#8221;.</em><br />
(Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr juz I hal. 491)</p>
<p style="text-align: justify;">Rasûlullâh saw. pernah bersabda mengenai hal ini :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/068.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Sebaik-baik wanita &#8212; bagi suami &#8212; ialah yang menyenangkan ketika dilihat, patuh ketika diperintah dan tidak akan menentang suaminya baik di dalam batinnya maupun dalam soal &#8212; membelanjakan&#8211; hartanya kepada apa (perkara) yang dibenci suaminya&#8221;.</em><br />
(H.R. Ahmad, An-Nasa-î dan Al-Hakîm. Lihat Fathul-Kabîr juz III hal. 126 no.: 3293)</p>
<p style="text-align: justify;">Islâm tidak memandang kecantikan seorang wanita dan juga kekayaan serta keturunan yang dimilikinya sebagai keistimewaan utama untuk menikahinya. Akan tetapi Islâm menempatkan &#8220;Agama&#8221; atau keta&#8217;atan agama yang dimilikinya-lah yang menjadi kriteria utama. Sebagaimana sabda Rasûllâh saw. :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/069.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Wanita itu &#8212; pada umumnya &#8212; dinikahi karena empat aspek; karena hartanya, nasab (keturunan)nya, kecantikannya dan agamanya. Tetapi pilihlah yang memiliki agama, &#8211;atau kalau tidak &#8212; berdebu kedua tangan-mu&#8221;.</em><br />
(H.R. Al-Bukhârî juz VI hal.123)</p>
<p style="text-align: justify;">Bahkan dalam sebuah riwayat disebutkan :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/070.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Janganlah kalian nikahi wanita karena kecantikannya, maka barangkali kecantikannya menjerumuskannya. Jangan &#8212; pula &#8212; kalian nikahi mereka karena kekayaannya, barangkali kekayaannya membuatnya durhaka. Tetapi nikahilah mereka karena agamanya. Maka budak wanita yang hitam dan gundul, tetapi memiliki agama, itu lebih afdhal&#8221;.</em><br />
(Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr juz I hal. 257)</p>
<p style="text-align: justify;">Isteri yang shalih sangat besar kontribusinya terhadap dîn atau keta&#8217;atan serta keimanan seseorang. Hal ini dinyatakan Rasûlullâh saw. dalam sabdanya :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/071.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Barang-siapa yang diberi rezeki oleh Allâh berupa isteri yang shalih, maka sesungguhnya Allâh telah menolongnya untuk memperoleh separuh dîn (agama)nya, dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allâh untuk memperoleh separuh lagi&#8221;.</em><br />
(H.R. Ath-Thabranî dan Al-Hâkim. Lihat Al-Ahâdîtsush-Shahîhah oleh Asy-Syaikh Al-Albânî jilid II hal. 200)</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hadits yang lain Beliau saw. nyatakan bahwa wanita yang shalih merupakan sebaik-baiknya kesenangan dunia :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/072.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Dunia itu seluruhnya adalah kesenangan, dan sebaik-baik kesenangan dunia adalah wanita yang shalih&#8221;.</em><br />
(H.R. Ahmad, Muslim dan An-Nasa-î. Lihat Fathul-Kabîr juz III hal. 152 no.: 3407)</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu sudah seharusnya setiap muslim berupaya mendapatkan wanita yang shalih sebagai pendamping hidupnya, sebagaimana sabda Rasûlullâh saw. :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/073.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Hendaklah salah seorang kalian mengupayakan hati yang bersyukur, lisan yang selalu berdzikir dan isteri yang mu&#8217;minah, yang membantunya dalam perkara akhirat&#8221;.</em><br />
(H.R. Ahmad, Tirmidzî dan Ibnu Mâjah. Lihat Fathul-Kabîr juz V hal. 82 no.: 5231)</p>
<p style="text-align: justify;">Telah disebutkan dalam hadits pada awal pembahasan, bahwa isteri yang shalih merupakan salah satu dari empat kebahagiaan dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu-juga sebaliknya, wanita yang buruk akhlaqnya, yang selalu menentang (kufur) terhadap suaminya, akan membawa sial atau kemalangan, sebagaimana sabda Rasûlullâh saw. :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/074.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Kemalangan itu terdapat pada tiga hal;  wanita, rumah dan kuda (kendaraan)&#8221;.</em><br />
(H.R. Al-Bukhârî juz VI hal. 124)</p>
<p style="text-align: justify;">Bahkan, isteri yang berakhlaq buruk dapat menjadi penghalang bagi do&#8217;a suami, sebagaimana disebutkan Rasûlullâh saw. :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/075.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>“Ada tiga golongan yang berdo&#8217;a kepada Allâh Yang Maha Mulia dan Maha Agung, namun tidak dikabulkan; yaitu seorang laki-laki yang mempunyai isteri yang buruk akhlaqnya dan ia tidak mau menthalaq (mencerai)nya&#8230;&#8230;&#8230;.”</em><br />
(H.R. Al-Hakîm. Lihat Fathul-Kabîr juz III hal. 75 no. : 3070)</p>
<p style="text-align: justify;">Dan Al-Qur-ân telah memberikan peringatan yang keras kepada orang-orang yang beriman dalam masalah ini :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/076.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isteri dan anak-anak kalian ada yang menjadi musuh bagi kalian, maka berhati-hatilah terhadap mereka&#8230;..&#8221;.</em><br />
(Surah At-Taghâbun (64) : 14)</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Imâm Ibnu Katsîr mengatakan ayat ini merupakan informasi dari Allâh &#8212; bagi orang-orang yang beriman &#8212; yang menyebutkan bahwa sebagian dari isteri dan anak mereka merupakan musuh bagi mereka, dengan pengertian :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/077.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Sesungguhnya &#8212; isteri dan anak &#8212; dapat membuatnya berpaling dari melakukan &#8216;amal shalih&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan Al-Imâm Al-Qurthubî mengatakan :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/078.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Ayat ini berlaku umum, bagi semua kemaksiatan yang dilakukan manusia karena dorongan isteri dan anak&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Sudah bukan rahasia lagi betapa banyaknya para suami melakukan kecurangan dalam pekerjaan (korupsi) karena alasan ingin membahagiakan anak dan isteri. Itulah sebabnya di dalam ayat itu Allâh memberi peringatan agar berhati-hati terhadap mereka.</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Ke-enam dan Ketujuh</strong></em><strong> : Dârun Rahbah dan  Markabun Hayyin</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dârun Rahbah artinya <em>&#8220;Rumah Yang Luas&#8221;</em> dan Markabun Hayyin artinya <em>&#8220;Kendaraan&#8221; atau &#8220;Tunggangan Yang Jinak&#8221;</em>. Sudah tentu yang dimaksud saat ini ialah &#8220;Kendaraan Yang Menyenangkan&#8221;, tentunya yang sesuai dengan kondisi sekarang.<br />
&#8220;Rumah Yang Luas&#8221;, yang ditata dengan baik, sudah tentu dapat memberikan rasa tenteram dan nyaman. Demikian pula halnya &#8220;Kendaraan Yang Menyenangkan&#8221; dan &#8220;Indah&#8221;, di samping memberikan rasa senang juga dapat menambah rasa percaya diri.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan telah disebutkan dalam hadits sebelumnya bahwa &#8220;Rumah Yang Luas&#8221; dan &#8220;Kendaraan Yang Menyenangkan&#8221; merupakan dua dari empat kebahagiaan dunia, begitu-pula sebaliknya, &#8220;Rumah Yang Sempit&#8221; dan &#8220;Kendaraan Yang Buruk&#8221; merupakan kemalangan hidup, sebagaimana sabda Rasûlullâh saw. :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/079.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Ada empat kemalangan, yaitu : Isteri yang buruk &#8212; akhlaqnya &#8211;, tetangga yang buruk &#8212; akhlaqnya &#8211;, kendaraan yang buruk dan rumah yang sempit&#8221;.</em><br />
(H.R. Al-Hâkim, Abû Nu&#8217;aim dan Al-Baihaqî. Lihat Fathul-Kabîr juz I hal. 305 no. : 900)</p>
<p style="text-align: justify;">Di dalam hadits-hadits yang shahih pun disebutkan bahwa Rasûlullâh saw. sangat menyukai kuda sebagai salah-satu kendaraan Beliau. Dan kuda adalah kendaraan yang paling baik pada masa itu. Beliau pun kerap-kali melakukan perlombaan pacuan kuda dengan para sahabatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun sekarang, yang dimaksud dengan &#8220;Kendaraan Yang Menyenangkan&#8221; sudah tentu dari jenis sedan-sedan dan kendaraan bermotor yang dapat memberikan semua perasaan itu. Hal ini tidak memerlukan penjelasan yang panjang-lebar, karena sangat mudah untuk dipahami oleh setiap orang.</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Kedelapan</strong></em><strong> : Tsanâ-un Jamîl </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Tsanâ-un Jamîl artinya <em>&#8220;Pujian Yang Indah&#8221;</em> atau <em>&#8220;Nama Baik&#8221;</em>. Dalam istilah sekarang disebut &#8220;Penghargaan&#8221;.<br />
Pada-dasarnya setiap manusia senang dipuji atau dihargai dan Islâm tidak mencela hal itu selama dalam batas-batas yang wajar. Bahkan Islâm memerintahkan setiap muslim untuk menghargai jasa baik atau perbuatan baik yang dilakukan oleh manusia dengan cara berterima-kasih atau bersyukur kepada pelakunya, sebagaimana sabda Rasûlullâh saw. :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/080.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Siapa yang tidak bersyukur (berterima-kasih) pada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allâh&#8221;.</em><br />
(H.R. Al-Hâkim, Tirmidzî dan Adh-Dhiyâ&#8217;. Lihat Fathul-Kabîr juz V hal. 357 no. : 6417)</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hadits yang lain sabda Rasûlullâh saw. :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/081.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Orang yang paling bersyukur kepada Allâh ialah mereka yang paling mampu bersyukur kepada manusia&#8221;.</em><br />
(H.R. Al-Hâkim, Ath-Thabranî, Al-Baihaqî dan Adh-Dhiyâ&#8217;. Lihat Fathul-Kabîr juz II hal. 337 no. : 1019)</p>
<p style="text-align: justify;">Rasûlullâh saw. telah memberikan contoh yang baik sekali dalam masalah ini, Beliau sangat menghargai jasa para sahabatnya dengan memberikan pujian yang wajar dan tepat bagi masing-masing mereka. Dan mereka memang pantas mendapat penghargaan yang tinggi karena jasa-jasa mereka membantu perjuangan Beliau menegakkan &#8220;Kalimatullâh&#8221; di muka bumi dengan seluruh kemampuan yang ada pada mereka. Begitu besarnya jasa mereka sehingga Rasûlullâh saw. Bersabda :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/082.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Janganlah kalian menghina para sahabat-ku, demi (Allâh) yang jiwa-ku di tangan-Nya, seandainya salah seorang kalian menginfaq-kan emas sebesar gunung Uhud, tidak akan bisa menandingi satu gantang dan juga setengah gantang &#8212; makanan &#8212; salah seorang mereka&#8221;.</em><br />
(H.R. Al-Hâkim, Muttafaqun &#8216;Alaih, Abû Dâwud, Muslim dan Ibnu Mâjah. Lihat Fathul-Kabîr juz VI hal. 151 no. : 7187)</p>
<p style="text-align: justify;">Allâh SWT. pun telah memberikan penghargaan yang sangat tinggi bagi mereka (para sahabat), sebagaimana firman-Nya :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/083.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Adapun orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islâm) dari kalangan Muhâjirîn dan Anshâr, orang -orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allâh ridha pada mereka dan mereka pun ridha kepada Allâh dan Allâh menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar&#8221;.</em><br />
(Surah At-Taubah (9) : 100)</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam pandangan Islâm, &#8220;Pujian Yang Indah&#8221; atau &#8220;Nama Baik&#8221; merupakan indikasi atau tanda-tanda calon penghuni surga. Begitu-pula sebaliknya, &#8220;Nama Buruk&#8221; merupakan indikasi atau tanda-tanda calon penghuni neraka. Rasûlullâh saw. Bersabda :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/084.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Penghuni surga ialah orang yang kedua telinganya dipenuhi Allâh dengan pujian yang baik dari manusia, dan ia pun mendengar (mengetahui)nya. Sedangkan penghuni neraka ialah orang yang kedua telinganya dipenuhi Allâh dengan ucapan buruk dari manusia, dan ia pun mendengar (mengetahui)nya&#8221;.</em><br />
(H.R. Ibnu Mâjah juz II hal 1412)<br />
Seorang pernah bertanya kepada Rasûlullâh saw. bagaimana caranya ia bisa mengetahui dirinya seorang yang baik atau seorang yang buruk (akhlaqnya). Maka Rasûlullâh saw. bersabda kepadanya :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/085.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Apabila engkau mendengar para tetangga-mu berkata bahwa engkau seorang yang baik, maka sesungguhnya engkau adalah seorang yang baik. Tetapi, apabila engkau mendengar mereka berkata bahwa engkau seorang yang buruk, maka sesungguhnya engkau adalah seorang yang buruk&#8221;.</em><br />
(H.R. Ibnu Mâjah juz II hal. 1412)</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, &#8220;Pujian Yang Baik&#8221; atau &#8220;Nama Baik&#8221; seseorang merupakan hasil dari akhlaq dan prilakunya yang baik. Begitu-pula sebaliknya, dan hal itu bisa dilihat dari komentar para tetangga atau lingkungannya terhadap pribadinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Inilah yang dimaksud Tsanâ-un Jamîl atau &#8220;Pujian Yang Indah&#8221; dalam konteksnya di sini. Dengan kata-lain, Tsanâ-un Jamîl bukan sekedar pujian yang bersifat omong-kosong seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang suka menjilat orang lain dengan cara mengumbar sanjungan dan pujian kosong. Dan Islâm sangat mencela orang-orang yang suka memuji secara berlebihan, sebagaimana sabda Rasûlullâh saw. :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/086.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Apabila kalian melihat orang-orang yang suka memuji secara berlebihan, maka tuangkanlah debu di wajah-wajah mereka&#8221;.</em><br />
(H.R. Muslim. Lihat Nashîhatul-Muslimîn oleh Asy-Syaikh Muhammad bin &#8216;Abdul-Wahhâb hal. 26)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.asiisc.net/talkhis-ringkasan/hasanah-fid-dun-ya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Faedah mengutamakan kehidupan akhirat</title>
		<link>http://www.asiisc.net/talkhis-ringkasan/faedah-mengutamakan-kehidupan-akhirat.html</link>
		<comments>http://www.asiisc.net/talkhis-ringkasan/faedah-mengutamakan-kehidupan-akhirat.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Jan 2009 18:35:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Debby Nasution</dc:creator>
				<category><![CDATA[TALKHIS (RINGKASAN)]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.islam.rudytarigan.com/?p=255</guid>
		<description><![CDATA[FAEDAH MENGUTAMAKAN KEHIDUPAN AKHIRAT Sebaliknya, orang yang memiliki cita-cita dan keinginan yang kuat untuk mendapatkan kebahagian di akhirat, akan mendapatkan berbagai macam kemudahan dan ketenteraman serta kekuatan hati dalam menjalani kehidupan di dunia, sebagaimana sabda Rasûlullâh saw. : &#8220;Dan siapa-saja yang niat atau tujuan hatinya kepada akhirat, maka Allâh (pasti) akan mengumpulkan semua persoalannya, lalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family: Verdana; font-size: small;"> <strong>FAEDAH  MENGUTAMAKAN KEHIDUPAN AKHIRAT </strong></span></p>
<p style="line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-family: Verdana;">Sebaliknya, orang yang memiliki cita-cita dan keinginan yang kuat untuk mendapatkan kebahagian di akhirat, akan mendapatkan berbagai macam kemudahan dan ketenteraman serta kekuatan hati dalam menjalani kehidupan di dunia, sebagaimana sabda Rasûlullâh saw. :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/172.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Dan siapa-saja yang niat atau tujuan hatinya kepada akhirat, maka Allâh (pasti) akan mengumpulkan semua persoalannya, lalu Dia jadikan kekayaan di dalam hati orang itu, dan dunia pun akan datang dan tunduk kepadanya&#8221;.</em><br />
(H.R. Ibnu Mâjah juz II hal. 1375 no. 4105. Lihat Al-Ahâdîtsush-Shahîhah juz II no. 950)</span></p>
<p>Ada 3 (tiga) keistimewaan yang diperoleh oleh siapa-saja yang bercita-cita dan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan kebahagiaan di akhirat, yaitu :</p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td width="5%" valign="top"><span style="font-family: Webdings;">4</span></td>
<td width="95%" align="justify"><span style="font-family: Verdana;"> Semua persoalan hidupnya akan ditanggung dan diselesaikan oleh Allâh. Sudah tentu ia akan merasa ringan dan tenteram dalam menjalani kehidupannya.</span></td>
</tr>
<tr>
<td width="5%" valign="top"><span style="font-family: Webdings;">4</span></td>
<td width="95%" align="justify"><span style="font-family: Verdana;"> Allâh akan memberikan kekayaan dalam hatinya, yaitu kekayaan batin, sehingga ia merasa puas, tidak merasa kekurangan. Dan inilah kekayaan yang sesungguhnya, sebagaimana sabda Rasûlullâh saw. :</span></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/173.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Kekayaan itu bukan (terletak) pada banyaknya harta, tetapi (hakikat) kekayaan adalah kekayaan (kepuasan) jiwa (batin)&#8221;.</em><br />
(Muttafaqun &#8216;alaih. Lihat Riyâdush-Shâlihîn hal. 520)</p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td width="5%" valign="top"><span style="font-family: Webdings;">4</span></td>
<td width="95%" align="justify"><span style="font-family: Verdana;"> Dunia akan datang kepadanya dengan tunduk. Artinya, ia akan dimudahkan untuk mendapatkan semua kebutuhan, yaitu sarana dan prasarana untuk menjalankan aktifitas dan meningkatkan kualitas kehidupannya di dunia. </span></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Inilah 3 (tiga) keistimewaan yang diinformasikan oleh Rasûlullâh saw. bagi siapa-saja yang memiliki cita-cita atau motivasi dan usaha yang sungguh-sungguh untuk memperoleh kebahagiaan akhirat. Asy-Syaikh Abûl-Hasan An-Nadawî (rahimahullâh) mengatakan, bahwa kekuatan seorang mu&#8217;min dan rahasia kemenangannya terletak pada keyakinannya yang kokoh akan adanya kehidupan akhirat, dan terletak pula pada harapannya yang tiada putus-putus ingin memperoleh imbalan pahala dari Allâh.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.asiisc.net/talkhis-ringkasan/faedah-mengutamakan-kehidupan-akhirat.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>konsekwensi doa 2</title>
		<link>http://www.asiisc.net/talkhis-ringkasan/konsekwensi-doa-ii.html</link>
		<comments>http://www.asiisc.net/talkhis-ringkasan/konsekwensi-doa-ii.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Jan 2009 18:34:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Debby Nasution</dc:creator>
				<category><![CDATA[TALKHIS (RINGKASAN)]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.islam.rudytarigan.com/?p=251</guid>
		<description><![CDATA[KONSEKWENSI DO&#8217;A (II) Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, bahwa setiap do&#8217;a atau permintaan mempunyai konsekwensi berupa ikhtiyar dan usaha yang sungguh-sungguh untuk mewujudkannya. Begitu-pula halnya dengan do&#8217;a minta &#8220;Hasanah Fîl-Âkhirat&#8221; atau Kebaikan di Akhirat. Ada 5 (lima) aspek yang harus diperhatikan dan diimplementasikan untuk mewujudkan do&#8217;a ini menjadi kenyataan, yaitu : 1. Tauhîd. 2. &#8216;Amal-Shâlih. 3. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family: Verdana; font-size: small;"> <strong>KONSEKWENSI DO&#8217;A (II) </strong></span></p>
<p style="line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-family: Verdana;">Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, bahwa setiap do&#8217;a atau permintaan mempunyai konsekwensi berupa ikhtiyar dan usaha yang sungguh-sungguh untuk mewujudkannya. Begitu-pula halnya dengan do&#8217;a minta &#8220;Hasanah Fîl-Âkhirat&#8221; atau Kebaikan di Akhirat.</span></p>
<p>Ada 5 (lima) aspek yang harus diperhatikan dan diimplementasikan untuk mewujudkan do&#8217;a ini menjadi kenyataan, yaitu :</p>
<p>1.	Tauhîd.<br />
2.	&#8216;Amal-Shâlih.<br />
3.	Akhlaqul-Karîmah.<br />
4.	Menjauhi Dosa Besar.<br />
5.	Meninggalkan Perkara Haram dan Syubhat.</p>
<p><strong>1. Tauhîd</strong></p>
<p>Tauhîd adalah perintah Allâh yang paling besar, dan definisinya ialah :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/141.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Mengesakan Allâh dalam ber&#8217;ibadah&#8221;.</em></p>
<p>Dan ia (Tauhîd) mencakup 3 (tiga) aspek :</p>
<p><strong><em>Pertama</em></strong><em> : &#8220;Tauhîdur-Rubûbiyyah&#8221;</em>, artinya : &#8220;Meng-Esa-kan dan meyakini Allâh sebagai satu-satunya Pencipta, Pemelihara dan Pengatur alam semesta”. Hal ini pun diakui oleh orang-orang kafir, sebagaimana firman Allâh :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/142.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka : &#8220;Siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan menundukkan Matahari dan Bulan ?&#8221;. Tentu mereka akan menjawab: &#8220;Allâh&#8221;. Maka bagaimana mereka (dapat) dipalingkan ?</em><br />
(Surah Al-Ankabût (29) : 61)</p>
<p>Al-Imâm Ibnu Katsîr berkata tentang mereka :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/143.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Mereka di samping &#8212; pengakuannya terhadap &#8220;Tauhîdur-Rubûbiyyah&#8221; &#8212; ini, juga melakukan &#8216;ibadah (menyembah) kepada selain Allâh&#8221;.</em></p>
<p>Jadi, <em>&#8220;Tauhîdur-Rubûbiyyah&#8221;</em> saja atau sekedar meyakini Allâh sebagai Pencipta , tidak cukup bagi seseorang untuk menjadi seorang mu&#8217;min.</p>
<p><em><strong>Kedua</strong> : &#8220;Tauhîdul-Ulûhiyyah&#8221;</em>, artinya : &#8220;Mengesakan dan meyakini Allâh sebagai satu-satunya yang berhak disembah&#8221;, dan pengakuan ini harus dinyatakan dengan sikap, yaitu : Berdo&#8217;a atau ber&#8217;ibadah, bernadzar, menyembelih qurban, mengharap, merasa takut, berserah diri (tawakal), mohon bantuan (isti&#8217;ânah), minta perlindungan (isti&#8217;âdzah), istighâtsah dan bertaubat hanya kepada Allâh semata, sebagaimana firman-Nya :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/144.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Katakanlah, sesungguhnya  shalat-ku, &#8216;ibadah-ku, hidup-ku  dan mati-ku hanyalah untuk Allâh Rabbul-&#8217;Âlamîn&#8221;.</em><br />
(Surah Al-An&#8217;âm (6) : 162)</p>
<p><em>&#8220;Tauhîdul-Ulûhiyyah&#8221;</em> inilah yang menentukan seseorang menjadi mu&#8217;min yang bertauhîd, sebagaimana disebutkan dalam kitab <em>&#8220;Syarah Al-&#8217;Aqîdatuth-Thahâwiyyah&#8221;</em> hal. 81 :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/145.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Sesungguhnya Tauhîd yang dituntut &#8212; untuk menjadi mu&#8217;min &#8212; ialah &#8220;Tauhîdul-Ulûhiyyah&#8221; yang di dalamnya tercakup &#8220;Tauhîdur-Rubûbiyyah&#8221;.</em></p>
<p><em><strong>Ketiga</strong> : &#8220;Tauhîdul &#8211; Asmâ&#8217; wash &#8211; Shifât&#8221;</em>, artinya : &#8220;Menetapkan nama-nama dan shifat-shifat Allâh yang terdapat dalam Al-Qur-ân dan Hadits yang shahih&#8221;, dengan makna yang hakiki, yaitu tanpa menta&#8217;wilnya, memberikan perumpamaan (misal) padanya, mengingkarinya dan mempertanyakannya, seperti : Istiwâ atau bersemayam, turun tiap-tiap sepertiga malam yang akhir ke langit dunia, sebagaimana sabda Rasûlullâh saw. :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/146.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>Rabb kita Yang Maha Berkah dan Maha Luhur, selalu turun ke langit dunia, pada waktu sepertiga malam yang akhir. Maka Dia berfirman : &#8220;Siapakah yang mau berdo&#8217;a kepada-Ku ? Maka Aku akan mengabulkannya. Siapakah yang mau minta &#8212; sesuatu &#8212; kepada-Ku ? Maka Aku akan memberikannya. Siapakah yang mau minta ampun pada-Ku ? Maka Aku akan mengampuninya&#8221;.</em><br />
(H.R. Ahmad, Muttafaqun &#8216;alaih, Abû Dâwûd, At-Tirmidzî dan Ibnu Mâjah. Lihat Fathul-Kabîr juz VI hal. 361 no. : 8024)</p>
<p>Begitu-juga tentang tangan Allâh dll yang disebutkan dalam Al-Qur-ân dan hadits-hadits yang shahîh.<br />
Al-Imâm Asy-Syâfi&#8217;î rahimahullâh Ta&#8217;âlâ telah memberikan kesimpulan yang baik sekali dalam masalah ini, beliau berkata :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/147.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>Allâh itu mememiliki beberapa nama dan shifat yang tidak boleh bagi seorang pun menolaknya. Dan siapa-saja yang menentang (menolak) &#8212; nama-nama dan shifat Allâh &#8212; setelah adanya kepastian hujjah, maka ia telah kafir. Akan tetapi, &#8212; jika penolakan itu &#8212; sebelum tegaknya hujjah, maka ia diberi alasan karena kebodohannya. Dan kami &#8212; secara pasti &#8211;menetapkan shifat-shifat &#8212; Allâh &#8212; ini, dan menolak semua bentuk persamaan, sebagaimana Allâh menolak semua persamaan dari diri-Nya, sebagaimana firman-Nya : &#8220;Tidak ada sesuatu pun yang sama dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat&#8221;. </em><br />
(Surah Asyûrâ (42) : 11)<br />
(Lihat Fathul-Majîd Syarah Kitâbut-Tauhîd oleh Asy-Syaikh &#8216;Abdur-Rahmân bin Hasan hal. 527)</p>
<p>Nama-nama dan shifat-shifat Allâh merupakan sarana untuk memperdalam pengenalan terhadap Allâh atau Ma&#8217;rifatullâh, sebagaimana disebutkan dalam kitab <em>&#8220;Syarah Al-&#8217;Aqîdatuth-Thahâwiyyah&#8221;</em> hal. 120 :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/148.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Dan Allâh Ta&#8217;âlâ itu tidak ada yang tahu bagaimana Dia yang sesungguhnya (Maha Suci dan Maha Luhur Dia). Namun, kita dapat mengenal-Nya melalui shifat-shifat-Nya&#8221;.</em></p>
<p>Al-Imâm Ibnul-Qayyim (rahimahullâh) telah menegaskan betapa pentingnya mengenal nama-nama dan shifat-shifat Allâh, karena hal itu dapat menghilangkan prasangka buruk terhadap Allâh. Beliau berkata :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/149.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Sesungguhnya sebagian besar manusia mempunyai prasangka buruk pada Allâh dalam beberapa ketentuan (keterbatasan) yang Allâh berikan pada mereka, dan juga dalam beberapa kelebihan yang Allâh berikan kepada orang selain mereka. Tidak ada seorang pun yang selamat dari hal itu kecuali orang yang benar-benar mengenal Allâh dan nama-nama-Nya serta shifat-shifat-Nya&#8221;.</em><br />
(Lihat Fathul-Majîd Syarah Kitâbut-Tauhîd oleh Asy-Syaikh &#8216;Abdur-Rahmân bin Hasan hal. 481)</p>
<p>Padahal sikap Allâh terhadap hamba-Nya sangat bergantung dari perasangka hamba itu kepada-Nya, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits qudsî, Allâh berfirman :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/150.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Aku ada di sisi prasangka hamba-Ku terhadap-Ku. Jika ia berprasangka baik, maka &#8212; kebaikan &#8212; itu untuknya. Dan jika ia berprasangka buruk, maka &#8212; keburukan &#8212; itu baginya&#8221;.</em><br />
(H.R. Ahmad. Lihat Fathul-Kabîr juz IV hal. 115 no. :  4191)</p>
<p>Dan Rasûlullâh saw. Bersabda :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/151.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Janganlah salah seorang kalian mati melainkan ia telah memperbaiki prasangkanya pada Allâh Ta&#8217;âlâ&#8221;.</em><br />
(H.R. Ahmad, Muslim, Abû Dâwûd dan Ibnu Mâjah. Lihat Fathul-Kabîr juz  VI hal. 252 no. : 7669)</p>
<p>Tauhîd dengan berbagai aspeknya merupakan syarat utama untuk masuk surga selamat dari neraka, sebagaimana sabda Rasûlullâh saw. :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/152.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Siapa-saja  yang mati dengan tidak menyekutukan Allâh dengan sesuatu pun,maka ia masuk surga&#8221;.</em><br />
(H.R. Ahmad dan Muttafaqun &#8216;alaih. Lihat Fathul-Kabîr juz V hal. 358 no. : 6426)</p>
<p>Ber&#8217;ibadah kepada Allâh dengan Tauhîd, yaitu tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu-pun merupakan hak Allâh terhadap semua hamba-Nya, sebagaimana sabda Rasûlullâh saw. :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/153.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Hak Allâh atas para hamba-Nya ialah, mereka wajib ber&#8217;ibadah kepada-Nya,dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu-pun&#8221;.</em><br />
(H.R. Al-Bukhârî dan Muslim)</p>
<p>Lawan dari Tauhîd ialah Syirik atau menyekutukan Allâh. Menyekutukan Allâh adalah dosa yang paling besar dan tidak diampuni, sebagaimana firman Allâh :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/154.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Sesungguhnya Allâh tidak akan mengampuni jika Dia disekutukan. Dan Dia megampuni dosa selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang-siapa yang menyekutukan Allâh, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar&#8221;.</em><br />
(Surah An-Nisâ&#8217; (4) : 48)</p>
<p>Dan Rasûlullâh saw. bersabda mengenai hal ini :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/155.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Dan siapa-saja  yang mati dengan menyekutukan Allâh dengan sesuatu,  maka ia masuk neraka&#8221;.</em><br />
(H.R. Ahmad dan Muslim. Lihat Fathul-Kabîr juz V hal. 358 no. : 6427)</p>
<p><strong>2. &#8216;Amal Shâlih</strong></p>
<p>&#8216;Amal Shâlih artinya perbuatan yang baik. Dan masalah ini telah dijelaskan dengan panjang lebar dalam pembahasan-pembahasan sebelumnya. Adapun yang dimaksud di sini ialah melakukan semua yang diwajibkan Allâh dan Rasûl-Nya, sesuai dengan kemampuannya, dan meninggalkan semua yang dilarang oleh Allâh dan Rasûl-Nya.</p>
<p>&#8216;Amal Shâlih adalah bukti atau manifestasi dari imân, dan Al-Qur-ân selalu menggandeng sebutan &#8220;orang-orang yang beriman&#8221; dengan &#8220;dan ber&#8217;amal shâlih&#8221;.<br />
Al-Qur-ân banyak sekali menyatakan bahwa surga itu diberikan kepada orang-orang yang berimân dan ber&#8217;amal shalîh atau melakukan perbuatan yang baik, sebagaimana firman Allâh :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/156.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Dan siapa-saja yang mengerjakan &#8216;amal shâlih, baik laki-laki maupun perempuan, sedang ia orang yang berimân, maka mereka akan masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walaupun sedikit&#8221;.</em><br />
(Surah An-Nisâ&#8217; (4) : 124)</p>
<p><strong>3. Akhlâqul-Karîmah</strong></p>
<p>Kata Akhlâq, merupakan bentuk jama&#8217; dari kata &#8220;Al-Khulq&#8221; dan &#8220;Al- Khuluq&#8221;, yang artinya ialah :</p>
<p>	Al- Muru-ah artinya : &#8220;Adab yang baik&#8221;.<br />
	Al-&#8217;Âdah artinya : &#8220;&#8216;Adat atau kebiasaan&#8221;.<br />
	As-Sajiyyah artinya : &#8220;Perangai&#8221;.<br />
	Ath-Thab&#8217;u artinya : &#8220;Tabi&#8217;at&#8221;.</p>
<p>Jadi, Akhlâqul-Karîmah artinya : <em>&#8220;Adab, adat, perangai dan tabi&#8217;at yang mulia&#8221;</em>. Definisi Al-Khuluq atau Akhlâq dari segi bahasa ialah :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/157.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Apa saja yang dipegang atau dijadikan pegangan oleh setiap manusia bagi dirinya daripada adab disebut khuluq&#8221;.</em><br />
(Lihat Tafsîr Al-Qurthubî)</p>
<p>Maksudnya, Al-Khuluq atau Akhlâq ialah segala tata-krama atau adab yang dijadikan pegangan oleh setiap manusia.</p>
<p>Pada dasarnya manusia baik sebagai individu atau kelompok (suku) telah memiliki adab, adat, perangai dan tabi&#8217;at atau tata-kerama dengan ukuran atau kadar yang berbeda-beda, sebagaimana dinyatakan oleh Rasûlullâh saw. :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/158.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Sesungguhnya Allâh  membagi-bagikan akhlâq kalian di antara kalian sebagaimana Dia membagikan rezeki di antara kalian&#8230;.&#8221;.</em><br />
(H.R. Ahmad)</p>
<p>Hal ini sudah dimaklumi, dan salah satu misi Islâm ialah menyempurnakan akhlâq, sebagaimana sabda Rasûlullâh saw. :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/159.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kebaikan akhlâq&#8221;.</em><br />
(H.R. Ibnu Sa&#8217;ad, Al-Bukhârî dalam &#8220;Al-Adab&#8221;, Al-Hâkim dan Al-Baihaqî. Lihat Fathul-Kabîr juz II hal. 285 no. :  234)</p>
<p>‘Abdullâh bin Mubârak menyebutkan bahwa akhlâq yang baik itu ialah :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/160.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Wajah yang berseri-seri, dermawan terhadap kebaikan dan mencegah hal yang menyakitkan&#8221;.</em><br />
(Lihat Tafsîr Al-Qurthubî)</p>
<p>Di bawah naungan Islâm, masing-masing orang dapat mengembangkan akhlâq atau karakternya, sesuai dengan tabi&#8217;at asli pribadinya yang berbeda-beda itu menuju kearah kesempurnaan. Dan sempurnanya imân &#8212; dalam pandangan Islâm &#8212; terpancar oleh baiknya akhlâq, sebagaimana sabda Rasûlullâh saw. :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/161.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Orang-orang mu&#8217;min yang paling  sempurna  imânnya  ialah (mereka) yang  paling  baik akhlâqnya&#8221;.</em><br />
(H.R. Ahmad, Abû Dâwûd, Ibnu Hibbân dan Al-Hâkim. Lihat Fathul-Kabîr juz I hal. 391 no. : 1241)</p>
<p>Ahklâq yang baik merupakan investasi yang paling besar di hari qiyamat, sebagaimana sabda Rasûlullâh saw. :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/162.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Lebih beratnya sesuatu &#8212; &#8216;amal &#8212; dalam timbangan adalah akhâlq yang baik&#8221;.</em><br />
(H.R. Ibnu Hibbân. Lihat Fathul-Kabîr juz I hal. 98  no. : 133)</p>
<p><strong>4. Menjauhi Dosa Besar</strong></p>
<p>Menjauhi dosa besar merupakan persyaratan berikutnya untuk masuk surga, sebagaimana firman Allâh :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/163.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kalian mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahan kalian (dosa-dosa kalian yang kecil) dan Kami masukkan kalian ke tempat yang mulia (surga)&#8221;.</em><br />
(Surah An-Nisâ&#8217; (4) : 31)</p>
<p>Ayat ini merupakan janji Allâh bagi siapa-saja yang meninggalkan dosa-dosa besar, maka dosa-dosa kecilnya yang telah dilakukannya akan diampuni dan ia akan dimasukkan ke dalam surga.</p>
<p>Adapun yang dimaksud dosa besar menurut Ibnu &#8216;Abbâs ialah :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/164.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Setiap perbuatan dosa yang  ditetapkan oleh Allâh &#8212; dengan ancaman &#8212; neraka, laknat dan &#8216;adzab&#8221;.</em><br />
(Diriwayatkan oleh  Ibnu Jarîr. Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr juz I hal. 486)</p>
<p>Pangkal dosa besar itu ada 7 (tujuh), sebagaimana sabda Rasûlullâh saw. :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/165.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Jauhilah 7 (tujuh) perkara yang merusak&#8221;. Mereka bertanya : &#8220;Ya Rasûlullâh, apa sajakah itu?&#8221;. Beliau bersabda : &#8220;Menyekutukan Allâh (syirik), melakukan sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allâh kecuali dengan alasan yang benar, makan riba, makan harta anak yatim, lari dari pertempuran (desersi) dan menuduh perempuan baik-baik yang memelihara dirinya serta beriman kepada Allâh dengan tuduhan yang keji (berbuat zina)&#8221;.</em><br />
(H.R. Al-Bukhârî dan Muslim. Lihat Fathul-Majîd Syarah Kitabut-Tauhîd hal. 288 &#8211; 290)</p>
<p>Para &#8216;ulamâ&#8217; menambahkan, bahwa termasuk dosa besar juga yaitu : berzina, homo seks, minum khamar, mencuri, merampok, menuduh dengan tuduhan palsu, tidak berpuasa di bulan Ramadhân tanpa &#8216;udzur (alasan), sumpah durhaka, memutus hubungan famili, durhaka kepada kedua orang-tua, curang dalam menakar dan menimbang, sengaja memajukan shalat di luar waktunya atau terlambat mengerjakannya, memukul seorang muslim tanpa alasan, berdusta atas nama Rasûlullâh saw. dengan sengaja, mencaci-maki para shabat Rasûlullâh saw., menyembunyikan persaksian tanpa alasan, melakukan sogok menyogok (risywah), bergaul bebas antara laki-laki dengan perempuan, mengadu-ngadu di depan penguasa (cari muka), tidak mau membayar zakat, meninggalkan amar-ma&#8217;rûf nahî-munkar padahal mampu, melupakan ayat-ayat Al-Qur-ân yang telah dihafal, membakar binatang hidup-hidup, menghalang-halangi wanita dari suaminya tanpa alasan, putus-asa dari rahmat Allâh, merasa aman (tidak takut) dari siksa Allâh, mencela atau menghina ahli ilmu dan ahlul-Qur-ân, sumpah zhihar, makan daging babi dan bangkai bukan karena terpaksa.<br />
(Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr juz I hal. 487)</p>
<p><strong>5. Meninggalkan Perkara Syubhat Dan Haram</strong></p>
<p>Syubhat artinya sesuatu yang samar-samar, dan menimbulkan keraguan dalam hati, yaitu tidak jelas halal atau haramnya. Rasûlullâh saw. telah bersabda mengenai hal ini :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/166.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Yang halal itu jelas dan yang haram itu juga jelas, dan di antara kedua hal itu terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar). Maka barang-siapa yang meninggalkan perkara yang syubhat (samar) baginya karena takut dosa, akan mudahlah baginya untuk meninggalkan perkara yang jelas &#8212; mengandung dosa &#8211;. Dan barang-siapa yang berani menerjang perkara yang meragukan tentang dosa &#8212; dan tidaknya &#8211;, maka sangat mungkin apabila ia terjerumus dalam perkara yang jelas &#8212; mengandung dosa &#8211;. Dan perbuatan maksiat itu larangan Allâh, dan siapa-saja yang berputar di sekitar larangan, maka mungkin sekali jika ia melanggarnya&#8221;.</em><br />
(H.R. Al-Bukhârî juz III hal. 70)</p>
<p>Hadîts ini menegaskan, bahwa siapa-saja yang dapat meninggalkan perkara-perkara yang syubhat, akan lebih mudah baginya untuk memelihara diri dari perkara-perkara yang jelas-jelas haram dan mengandung dosa, begitu-pula sebaliknya, siapa-saja yang berani melakukan perkara-perkara yang syubhat, maka akan mudahlah baginya untuk terjerumus dalam perkara-perkara yang jelas-jelas haram dan mengandung dosa. Oleh karena itu Rasûlullâh saw. memerintahkan umatnya untuk meninggalkan semua perkara yang meragukan, sebagaimana sabda Beliau saw. :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/167.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Tinggalkanlah apa  saja  yang  meragukan-mu kepada apa  yang  tidak  meragukan-mu&#8221;.</em><br />
(H.R. Ahmad, An-Nasa-î, Ath-Thabrânî dan Al-Khatîb. Lihat Fathul-Kabîr juz II hal. 144 no. : 3372)</p>
<p>Maksudnya, segala perkara yang syubhat atau meragukan tinggalkan, dan pilihlah perkara yang tidak meragukan.<br />
(Wallâhu A&#8217;lam)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.asiisc.net/talkhis-ringkasan/konsekwensi-doa-ii.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dampak psikologis meremehkan kehidupan akhirat</title>
		<link>http://www.asiisc.net/talkhis-ringkasan/dampak-psikologis-meremehkan-kehidupan-akhirat.html</link>
		<comments>http://www.asiisc.net/talkhis-ringkasan/dampak-psikologis-meremehkan-kehidupan-akhirat.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Jan 2009 18:35:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Debby Nasution</dc:creator>
				<category><![CDATA[TALKHIS (RINGKASAN)]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.islam.rudytarigan.com/?p=253</guid>
		<description><![CDATA[Banyak di antara kaum Muslimîn dewasa ini yang beranggapan, bahwa berfikir tentang kehidupan akhirat serta cita-cita dan usaha yang sungguh-sungguh untuk mendapatkannya, sebagai suatu kemunduran di abad 21 ini. Bahkan banyak juga di antara mereka yang mengganggap remeh persoalan akhirat. Sikap dan pandangan semacam ini timbul akibat kebodohan dan kepicikan mereka terhadap hakikat ajaran Islâm, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana;">Banyak di antara kaum Muslimîn dewasa ini yang beranggapan, bahwa berfikir tentang kehidupan akhirat serta cita-cita dan usaha yang sungguh-sungguh untuk mendapatkannya, sebagai suatu kemunduran di abad 21 ini. Bahkan banyak juga di antara mereka yang mengganggap remeh persoalan akhirat.</span></p>
<p style="text-align: justify;">Sikap dan pandangan semacam ini timbul akibat kebodohan dan kepicikan mereka terhadap hakikat ajaran Islâm, dan juga kecintaan yang berlebihan terhadap keduniaan atau kebendaan (materi), sehingga cita-cita atau keinginan mereka hanya terpaut pada kehidupan atau kesenangan dunia semata, sebagaimana disebutkan oleh Asy-Syaikh Abûl-Hasan An-Nadawî (rahimahullâh) :</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Penyakit terparah yang sedang diderita Dunia Islâm dewasa ini ialah merasa tenang, tenteram dan puas dengan kehidupan duniawi. Tidak perduli terhadap keadaan yang serba rusak, tenang tenteram berlebihan, sehingga hatinya tidak cemas melihat kerusakan, tidak terkejut melihat penyelewengan, tidak gelisah menyaksikan kemunkaran, dan seolah-olah tidak ada lagi yang perlu diperhatikan selain sandang-pangan&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Padahal Rasûlullâh saw. telah menyebutkan kondisi orang yang keinginan hatinya hanya terpaut pada kesenangan dunia. Beliau saw. Bersabda :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/168.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Barang-siapa yang menjadikan dunia sebagai cita-citanya, maka Allâh akan membuat berantakan semua persoalan &#8212; hidupnya &#8211;, dan menjadikan kefaqiran (kekurangan) di depan kedua matanya. Dan dunia pun tidak akan datang kepadanya selain &#8212; sekedar &#8212; apa yang telah ditentukan baginya&#8230;..&#8221;.</em><br />
(H.R. Ibnu Mâjah juz II hal. 1375 no. 4105)</p>
<p style="text-align: justify;">Hadîts ini menyebutkan 3 (tiga) hal yang menjadi bagian bagi orang-orang yang cita-cita atau keinginan hatinya hanya terpaut pada kesenangan dunia :</p>
<table style="text-align: justify;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="5%" valign="top"><span style="font-family: Verdana;">a.</span></td>
<td width="95%" align="justify"><span style="font-family: Verdana;"> Persoalan hidupnya akan berantakan tidak keruan, belum lagi selesai suatu persoalan, datang lagi persoalan yang lain. Dan begitu seterusnya sampai ia berpisah dengan dunia.</span></td>
</tr>
<tr>
<td width="5%" valign="top"><span style="font-family: Verdana;">b.</span></td>
<td width="95%" align="justify"><span style="font-family: Verdana;"> Kefaqiran, yaitu perasaan kekurangan akan selalu hadir di depan kedua matanya, yaitu ketika ia melihat segala macam benda yang belum dimilikinya. Dan hal ini akan membuatnya sangat konsumtif, tidak pernah bisa merasa puas.</span></td>
</tr>
<tr>
<td width="5%" valign="top"><span style="font-family: Verdana;">c.</span></td>
<td width="95%" align="justify"><span style="font-family: Verdana;"> Kebahagiaan atau kesenangan dunia tidak bisa dinikmati melainkan hanya sedikit, yaitu sekedar apa yang telah ditentukan Allâh baginya, maksudnya hidupnya terasa sempit meskipun ia memiliki berbagai-macam harta-benda.</span></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align: justify;">Dalam hadîts yang lain Rasûlullâh saw. Bersabda :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/169.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Celakalah budak dînâr, celakalah budak dirham, celakalah budak al-khamîshah (pakaian yang terbuat dari sutera dan bulu), celakalah budak al-khamîlah (pakaian yang terbuat dari beludru), jika diberi (sesuatu) ia merasa senang, tetapi jika tidak diberi, ia marah. Celakalah ia dan tersungkur, dan jika ia tertusuk duri, maka tidak bisa dicabut&#8230;&#8230;&#8221;.</em><br />
(H.R. Al-Bukhârî. Lihat Fathul-Majîd Syarah Kitabut-Tauhîd hal. 383 &#8211; 386)</p>
<p style="text-align: justify;">Yang dimaksud budak dînâr dan budak dirham ialah orang yang hati dan perasaannya  telah dikuasai oleh uang.</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun yang dimaksud dengan budak al-khamîshah (pakaian yang terbuat dari sutera dan bulu) dan budak al-khamîlah (pakaian yang terbuat dari beludru), ialah orang yang bekerja mati-matian untuk mendapatkan pakaian-pakaian mewah itu, karena ia sangat mementingkan penampilan lahiriyahnya serta ingin menarik perhatian dengan pakaian-pakaian tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Sifat orang-orang seperti ini, bila diberi (sesuatu) ia merasa senang, dan bila tidak diberi, ia marah. Artinya senang dan marahnya terhadap orang-lain, bergantung pada suatu pemberian, atau dengan kata-lain, kondisi emosinya sangat ditentukan materi. Inilah manusia-manusia yang materialistis.</p>
<p style="text-align: justify;">Manusia-manusia semacam ini, bila tertusuk duri, ia tidak mampu mencabutnya. Artinya, ia tidak bisa melepaskan diri dari problem yang kecil sekalipun.</p>
<p style="text-align: justify;">Asy-Syaikhul-Islâm Ibnu Taymiyyah (rahimahullâh) memberikan komentar yang sangat tegas ketika beliau menjelaskan hadîts ini. Beliau berkata :</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Seperti inilah kondisi jiwa budak harta, apabila diberi (sesuatu) ia bersuka-ria, dan jika tidak diberi ia murka. Dan apabila ia ditimpa suatu keburukan, ia tidak bisa keluar dari keburukan itu dan tidak akan selamat, karena ia celaka dan tersungkur. Oleh karena itu, ia tidak dapat mencapai apa yang ia cari dan tidak dapat lolos dari apa yang tidak disukainya&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Seperti inilah kondisi kehidupan dan kejiwaan orang yang meremehkan kehidupan akhirat dan terobsesi dengan kehidupan dunia, hidup mereka terasa sesak dan sempit, sebagaimana firman Allâh :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/170.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Siapa-saja yang berpaling dari peringatan-Ku. maka baginya penghidupan yang sempit&#8221;.</em><br />
(Surah Thâhâ (20) : 124)</p>
<p style="text-align: justify;">Penghidupan yang sempit dalam ayat ini menurut Ibnu &#8216;Abbâs r.a. ialah :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/171.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Kesempitan di dunia, yaitu tidak ada ketenteraman dan tidak ada kelapangan di hatinya, bahkan hatinya terasa sempit, sesak karena kesesatannya. Meskipun lahiriyahnya ia hidup mewah, memakai pakaian yang ia inginkan, menyantap makanan yang ia inginkan dan tinggal di tempat yang ia inginkan. Akan tetapi, selama hatinya tidak memilih keimanan dan petunjuk (hidayah) &#8212; Allâh &#8211;, maka ia berada dalam kelabilan, kebingungan dan keraguan. Dan ia akan selalu berada dalam kebimbangan yang terus silih berganti. Dan inilah yang disebut penghidupan yang sempit&#8221;.</em><br />
(Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr juz III hal. 168)</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Ustadz Sayyid Quthb (rahimahullâh) telah memberikan komentar yang baik sekali mengenai masalah ini, beliau berkata :  <em>&#8220;Kehidupan yang sempit ialah &#8212; kehidupan &#8212; yang putus hubungan dengan Allâh dan dengan rahmat-Nya yang luas, meskipun nampak enak dan menyenangkan, tetapi sebenarnya kehidupan itu sempit, terbenam ke dasar, tidak tersambung kepada Allâh dan tidak mendapatkan rasa aman dari perlindungan-Nya. Sempit, membuat bingung, labil dan bimbang. Terasa sesak karena perasaan loba dan kuatir; yaitu loba terhadap harta yang dimiliki dan kuatir akan lenyapnya. Rasa sempit yang berjalan di balik ketamakan dan penyesalan terhadap segala sesuatu yang lepas atau hilang. Sesungguhnya hati tidak akan dapat merasakan ketenteraman yang mantap melainkan di bawah lindungan Allâh, dan juga tidak bisa merasakan kesenangan yang hakiki melainkan jika ia berpegang teguh pada tali &#8212; Allâh &#8212; yang kuat, yang tidak akan terputus. Sesungguhnya ketenteraman yang dihasilkan oleh iman yang kuat akan membuat hidup menjadi lebih panjang, lapang, dalam dan luas. Sedangkan lenyapnya iman merupakan kemalangan yang tidak dapat dibandingkan dengan kemiskinan sekalipun&#8221;.</em><br />
(Lihat Tafsîr Fî Zhilâlil-Qur-ân juz V hal. 503)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.asiisc.net/talkhis-ringkasan/dampak-psikologis-meremehkan-kehidupan-akhirat.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jaminan keberhasilan bagi orang yang mengimplementasikan doa</title>
		<link>http://www.asiisc.net/talkhis-ringkasan/jaminan-keberhasilan-bagi-orang-yang-mengimplementasikan-doa.html</link>
		<comments>http://www.asiisc.net/talkhis-ringkasan/jaminan-keberhasilan-bagi-orang-yang-mengimplementasikan-doa.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Jan 2009 18:36:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Debby Nasution</dc:creator>
				<category><![CDATA[TALKHIS (RINGKASAN)]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.islam.rudytarigan.com/?p=257</guid>
		<description><![CDATA[JAMINAN KEBERHASILAN BAGI ORANG YANG MENGIMPLEMENTASIKAN DO’A Sesungguhnya Allâh SWT. telah berjanji dan memberikan jaminan yang pasti bagi siapa-saja yang mengimplemtasikan do&#8217;a ini, maka segala ikhtiyar dan usaha yang dilakukannya akan memperoleh hasil yang memuaskan, sebagaimana firman-Nya : &#8220;Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan bagian (hasil) dari apa saja yang mereka usahakan; dan Allâh sangat cepat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family: Verdana; font-size: small;"><strong>JAMINAN KEBERHASILAN BAGI ORANG YANG MENGIMPLEMENTASIKAN DO’A </strong></span></p>
<p><img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/174.gif" alt="" align="center" /></p>
<p style="line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-family: Verdana;">Sesungguhnya Allâh SWT. telah berjanji dan memberikan jaminan yang pasti bagi siapa-saja yang mengimplemtasikan do&#8217;a ini, maka segala ikhtiyar dan usaha yang dilakukannya akan memperoleh hasil yang memuaskan, sebagaimana firman-Nya :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/175.gif" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan bagian (hasil) dari apa saja yang mereka usahakan; dan Allâh sangat cepat perhitungannya&#8221;.</em><br />
(Surah Al-Baqarah (2) : 202)</span></p>
<p>Dalam ayat ini disebut kata &#8220;kasabû&#8221; yang berasal dari kata &#8220;kasaba&#8221;, &#8220;yaksibu&#8221;, &#8220;kisbân&#8221; atau &#8220;kasbân&#8221;, yang ta&#8217;rifnya dari segi bahasa ialah :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/176.gif" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Melakukan usaha untuk mendapatkan rezeki dan &#8212; manfa&#8217;at &#8212; yang lain&#8221;.</em><br />
(Lihat catatan kaki Sunan Ibnu  Mâjah juz II hal. 723)</p>
<p>Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, bahwa bekerja atau berusaha merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim. Jadi, segala ikhtiyar dan usaha yang mereka lakukan untuk memperoleh rezeki atau apa saja yang termasuk dalam katagori &#8220;Hasanah fîd- Dun-ya&#8221; (Kebaikan di Dunia), dan juga &#8220;Hasanah fîl-Âkhirat&#8221; (Kebaikan di Akhirat) sebagai konsekwensi dari do&#8217;a ini, akan diberi balasan oleh Allâh, yaitu &#8220;keberhasilan&#8221;. Artinya mereka akan memperoleh hasil dari usahanya itu, baik di dunia maupun di akhirat. Dan ayat ini ditutup dengan kata-kata yang meyakinkan :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/doa1/177.gif" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Dan Allâh itu sangat cepat perhitungannya&#8221;.</em></p>
<p>Maksudnya, Allâh itu sangat cepat di dalam memberikan ganjaran atau balasan bagi orang-orang yang berdo&#8217;a kepada-Nya dan mengimplementasikan do&#8217;anya itu.<br />
<em><strong>(Wallâhu A&#8217;lam)</strong></em></p>
<p>Maha Benar Allâh dengan segala firman-Nya, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi-Nya : Muhammad bin &#8216;Abdillâh, penghulu para rasûl, dan juga kepada ahli-baitnya, serta seluruh sahabatnya yang setia; dan juga orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan sebaik-baiknya sampai hari qiyamat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.asiisc.net/talkhis-ringkasan/jaminan-keberhasilan-bagi-orang-yang-mengimplementasikan-doa.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

