<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>As-Salaf Information and Islamic Study Center (ASIISC) &#187; SIRÂH</title>
	<atom:link href="http://www.asiisc.net/category/sirah/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.asiisc.net</link>
	<description>Kegiatan da&#039;wah Islam sesuai Al-Qur&#039;an dan sunah</description>
	<lastBuildDate>Sun, 18 Sep 2011 11:08:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Menggembala Kambing</title>
		<link>http://www.asiisc.net/sirah/menggembala-kambing-2.html</link>
		<comments>http://www.asiisc.net/sirah/menggembala-kambing-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 May 2009 10:27:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Debby Nasution</dc:creator>
				<category><![CDATA[SIRÂH]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi Muhammad SAW]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah muhammad saw]]></category>
		<category><![CDATA[sirah nabi muhammad saw]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.islam.rudytarigan.com/?p=132</guid>
		<description><![CDATA[Setelah dua tahun di bawah asuhan &#8216;Abdul-Muthalib, yaitu ketika usia Beliau menginjak delapan tahun, &#8216;Abdul-Muthalib pun wafat. Maka Beliau pun diambil oleh Abû Thâlib, salah seorang pamannya yang memiliki anak yang banyak. Abû Thâlib merupakan pengganti &#8216;Abdul-Muthalib dalam kepemimpinan kota Makkah, dan ia telah menyumbangkan sebagian besar hartanya untuk memelihara Ka&#8217;bah dan menjamu orang-orang yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-family: Verdana;"> Setelah dua tahun di bawah asuhan &#8216;Abdul-Muthalib, yaitu ketika usia Beliau menginjak delapan tahun, &#8216;Abdul-Muthalib pun wafat. Maka Beliau pun diambil oleh Abû Thâlib, salah seorang pamannya yang memiliki anak yang banyak.<span id="more-132"></span></span></p>
<p style="text-align: justify;">Abû Thâlib merupakan pengganti &#8216;Abdul-Muthalib dalam kepemimpinan kota Makkah, dan ia telah menyumbangkan sebagian besar hartanya untuk memelihara Ka&#8217;bah dan menjamu orang-orang yang berhaji, dan juga untuk membantu orang-orang yang mengalami kesulitan sehingga membuatnya jatuh miskin dan hampir-hampir menjatuhkan kedudukannya yang mulia.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasûlullâh saw. yang ketika itu masih berusia delapan tahun, berusaha meringankan beban pamannya itu dengan bekerja menggembalakan kambing milik sebagian penduduk Makkah dengan upah yang minim.</p>
<p style="text-align: justify;">Pekerjaan menggembala kambing menumbuhkan sifat-sifat positif dalam diri Beliau, seperti sifat tanggung jawab, lemah lembut, penuh perhatian dan kewaspadaan. Sejumlah sifat yang harus dimiliki oleh setiap penggembala agar ia dapat menjaga ternaknya dengan baik. Ini pun merupakan kehendak Allâh SWT. dan juga sebagian dari rencana-Nya yang tersusun bagi Beliau, agar di kemudian hari Beliau mampu memikul tanggung jawab sebagai pembawa risalah. Dan pekerjaan menggembala kambing merupakan pendidikan Allâh bagi sebagian besar para nabi, sebagaimana sabda Beliau :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/sirah/01.gif" alt="" /><br />
<em>&#8220;Tidak ada seorang nabi pun melainkan ia pernah bekerja menggembala kambing&#8221;.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.asiisc.net/sirah/menggembala-kambing-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Kelahiran Muhammad saw. sampai Diutusnya</title>
		<link>http://www.asiisc.net/sirah/dari-kelahiran-muhammad-saw-sampai-diutusnya-2.html</link>
		<comments>http://www.asiisc.net/sirah/dari-kelahiran-muhammad-saw-sampai-diutusnya-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 May 2009 10:23:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Debby Nasution</dc:creator>
				<category><![CDATA[SIRÂH]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.islam.rudytarigan.com/?p=129</guid>
		<description><![CDATA[Dari Kelahiran Muhammad saw. sampai Diutusnya Muhammad Rasûlullâh saw. dilahirkan di Makkah pada tahun 571 M. bersamaan dengan masuknya Abrahah &#8212; gubernur Yaman &#8212; ke kota Makkah dengan pasukan gajahnya yang terkenal untuk menghancurkan Ka&#8217;bah. Dan pasukan itu dihancurkan Allâh SWT. dengan burung Abâbîl, sebagaimana disebutkan dalam surah Al-Fîl yang artinya &#8220;gajah&#8221;. Itulah sebabnya tahun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family: Verdana; font-size: x-small;"><strong> Dari Kelahiran Muhammad saw. sampai Diutusnya </strong></span></p>
<p style="line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-family: Verdana;">Muhammad Rasûlullâh saw. dilahirkan di Makkah pada tahun 571 M. bersamaan dengan masuknya Abrahah &#8212; gubernur Yaman &#8212; ke kota Makkah dengan pasukan gajahnya yang terkenal untuk menghancurkan Ka&#8217;bah. Dan pasukan itu dihancurkan Allâh SWT. dengan burung Abâbîl, sebagaimana disebutkan dalam surah Al-Fîl yang artinya &#8220;gajah&#8221;. Itulah sebabnya tahun kelahiran Rasûlullâh saw. disebut &#8220;Tahun Gajah&#8221;.</p>
<p>Ayah Beliau bernama &#8216;Abdullâh bin &#8216;Abdul-Muthalib bin Hâsyim, dan &#8216;Abdul-Muthalib adalah seorang kepala suku Quraisy yang paling dihormati dan juga pemimpin kota Makkah pada masa itu. Sedangkan ibunda Beliau bernama &#8216;Âminah binti Wahab bin &#8216;Abdi Manâf bin Kilâb yang juga seorang wanita Quraisy.</p>
<p>&#8216;Abdullâh &#8212; ayah Beliau &#8212; adalah seorang pedagang sebagaimana layaknya bangsa Quraisy saat itu, seperti yang disebutkan Allâh dalam surah Quraisy (106). &#8216;Abdullâh meninggal sebelum lahirnya Beliau, yaitu sekembalinya dari negeri Syâm, di tengah jalan ia jatuh sakit, dan sakitnya semakin parah ketika ia singgah di kota Madînah. Maka ia pun tinggal di keluarga Banî Najâr dari suku Khazraj, dan meninggal di tengah-tengah mereka.</p>
<p>Keluarga Banî Najâr masih ada hubungan keluarga dengan Rasûlullâh saw., yaitu melalui pernikahan Hâsyim bin &#8216;Abdi Manâf &#8212; yaitu datuk ayah Beliau &#8212; dengan seorang wanita dari Banî Najâr. Jadi, Rasûlullâh saw. lahir setelah wafatnya &#8216;Abdullâh &#8212; ayah Beliau &#8211;, Dan Beliau tumbuh sebagai anak yatim. Namun, &#8216;Abdul-Muthalib &#8212; datuk Beliau &#8212; sangat gembira menyambut kelahiran Beliau, dan dialah yang memberi nama Muhammad kepada Beliau. Dan dia juga yang menanggung kehidupan Beliau dan mencurahkan seluruh kasih sayangnya kepada Beliau.</p>
<p>Bangsa Quraisy memiliki kebiasaan mengirim bayi-bayi mereka kepada wanita-wanita di luar kota Makkah untuk disusui, agar mereka menghirup udara yang bersih dan segar di tengah-tengah penduduk &#8216;Arab yang masih murni bahasanya, dengan harapan agar bayi-bayi itu tumbuh sehat, kuat dan memiliki kemampuan berbahasa yang baik. Begitu-pula halnya dengan &#8216;Âminah, ibunda Beliau yang segera mengirim Beliau untuk disusui kepada seorang wanita bernama Halîmah dari keluarga Banî Sa&#8217;ad bin Bakar, yang bertempat tinggal di Sahara, dekat kota Makkah.</p>
<p>Beliau tinggal bersama Halîmah dan keluarganya sampai usia lima tahun, kemudian Beliau dikembalikan kepada ibundanya di Makkah, maka Beliau pun kembali berada dalam asuhan ibundanya dan juga datuknya. Pada waktu yang sama, ibunda Beliau ingin mengajak Beliau bepergian ke Madînah, untuk menziarahi maqam ayahandanya. Sebuah perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan, terutama bagi Beliau yang masih berusia lima tahun. Maka Beliau pun berangkat bersama ibundanya dan seorang pelayan wanita.</p>
<p>Setelah berziarah ke maqam ayahandanya di Madînah dan tinggal beberapa hari di sana, Beliau pun kembali pulang bersama ibundanya. Namun, di tengah perjalanan ibundanya pun jatuh sakit, dan meninggal di sebuah tempat bernama Abwâ&#8217;, yaitu sebuah tempat yang terletak di pertengahan jalan antara Makkah dan Madînah. Maka Beliau pun kembali ke Makkah sebagai anak yatim-piyatu dengan ditemani oleh pelayan wanita yang menyertai Beliau. Setibanya di Makkah Beliau pun diambil oleh &#8216;Abdul-Muthalib datuknya, dan tinggal bersama datuknya, yang mengasuhnya dengan kasih sayang yang luar-biasa.</p>
<p>Sekarang Beliau benar-benar merasakan betapa pedihnya menjadi anak yatim-piyatu, tidak memiliki ayah dan ibu. Hal itu mendidik Beliau untuk selalu mengandalkan dirinya, dan secara otomatis mengasah kecerdasan Beliau, serta membuka pandangannya terhadap hakikat kehidupan dalam usia yang masih sangat muda. Dan sudah tentu ini semua merupakan kehendak Allâh yang telah menentukan pilihan-Nya terhadap Beliau untuk menegakkan risalah Islâm di muka bumi. </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.asiisc.net/sirah/dari-kelahiran-muhammad-saw-sampai-diutusnya-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Definisi Sirâh Rasûl</title>
		<link>http://www.asiisc.net/sirah/definisi-sirah-rasul-2.html</link>
		<comments>http://www.asiisc.net/sirah/definisi-sirah-rasul-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 May 2009 10:20:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Debby Nasution</dc:creator>
				<category><![CDATA[SIRÂH]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.islam.rudytarigan.com/?p=127</guid>
		<description><![CDATA[DEFINISI SÎRAH RASÛL Kata “Sîrah” bentuk jama&#8217;nya “Siyar” yang dari segi bahasa artinya adalah : “Perilaku” atau “As-Sunnah” atau bisa juga berarti “Perjalanan dan Pijakan atau Prinsip”. Jadi, “Sîrah Rasûl” artinya : “Lembaran catatan seluruh perbuatannya, yaitu perjalanan hidupnya di tengah-tengah manusia”. Mempelajari Sîrah Rasûlullâh berarti mempelajari catatan atau tulisan yang memuat seluruh perbuatannya, perilakunya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family: Verdana; font-size: x-small;"><strong> DEFINISI SÎRAH RASÛL </strong></span></p>
<p style="line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-family: Verdana;"> Kata “Sîrah” bentuk jama&#8217;nya “Siyar” yang dari segi bahasa artinya adalah : “Perilaku” atau “As-Sunnah” atau bisa juga berarti “Perjalanan dan Pijakan atau Prinsip”.<br />
Jadi, “Sîrah Rasûl” artinya :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/sirah/00.gif" alt="" /><br />
<em>“Lembaran catatan seluruh perbuatannya, yaitu  perjalanan hidupnya  di  tengah-tengah manusia”.</em></p>
<p>Mempelajari Sîrah Rasûlullâh berarti mempelajari catatan atau tulisan yang memuat seluruh perbuatannya, perilakunya, sunnahnya, perjalanan dan sikap hidupnya. Rasûlullâh saw. adalah manusia luar-biasa, tidak ada seorang manusia selain Beliau yang riwayat hidupnya ditulis begitu banyak, baik oleh para &#8216;ulama dan cendikiawan Islâm, maupun para sejarawan non Islâm dari dahulu sampai sekarang dan pada masa yang akan datang. Hal itu tidak lain karena kehidupan pribadi Beliau yang sempurna dan penuh daya tarik bagi siapa-saja yang mempelajarinya dengan penuh perhatian, pemikiran dan ketelitian.</p>
<p>Seorang cendikiawan muslim pernah berkata : “Tidak ada yang setara dengan Rasûlullâh saw. dalam hal kesabaran menghadapi mushibah, ketegaran di atas kebenaran dan ketenangan jiwanya dalam menghadapi goncangan dunia. Demikian pula dalam hal kasih sayang, kelembutan hati dan keluhuran jiwa. Beliau memang diciptakan seperti itu untuk mengungguli berbagai peristiwa dan mengalahkan dunia materi. Dengan demikian, Rasûlullâh saw. senantiasa menjadi sumber seluruh sejarah kemanusiaan, dan dunia pun menjadikan Beliau sebagai acuan sistem pemikiran yang benar”.</p>
<p>Jenderal Besar (Purn.) A.H. Nasution sangat mengagumi Rasûlullâh saw. lebih daripada Napoleon dan Alexander Yang Agung, ia mengatakan dalam buku Perjalanan Hidupnya :</p>
<p>“Guru saya selalu menanyakan hal itu, siapa yang paling kamu kagumi ? Dia ingin tahu idola saya. Saya bilang Nabi Muhammad. Dia kaget, dikiranya saya akan menyebut Napoleon atau Alexander Yang Agung. Alasan saya karena Nabi Muhammad bukan saja ahli strategi militer tapi Beliau juga membina semangat tempur”.<br />
(Perjalanan Hidup A.H. Nasution hal. 294)</p>
<p>Seorang penulis besar kenamaan abad ini, Karen Amstrong mengatakan :</p>
<p>“Muhammad benar-benar manusia luar-biasa, sebelum kewafatannya pada tahun 632 M., telah berhasil menyatukan seluruh suku bangsa &#8216;Arab menjadi satu komunitas baru yang bersatu, ummah. Dia menyuguhkan spiritualitas baru yang diselaraskan dengan tradisi mereka dan mampu mendobrak segala macam bentuk pemberhalaan yang dengannya bangsa &#8216;Arab membangun “kerajaannya”. Di samping itu, Muhammad juga telah mampu menancapkan ajarannya membentang dari Himalaya sampai Pyrenees, dan membangun sebuah peradaban yang tiada taranya”.<br />
(A History Of God / terj. oleh: M. Sadat Ismail hal. 201-202)</p>
<p>Sejarah perjuangan Rasûlullâh saw. sangat penting bagi kehidupan kaum Muslimîn sepanjang sejarah dan dalam kehidupan dewasa ini, itulah sebabnya banyak didapati buku-buku sejarah yang sudut pandang dan sistem penulisannya beragam.</p>
<p>Risalah ini merupakan ringkasan sejarah kehidupan dan perjuangan Rasûlullâh saw. yang di susun oleh Dr. Husain Mu&#8217;nis dan Al-Ustadz &#8216;Alî Su&#8217;ûd &#8216;Athiyyah dari “Lembaga Pendidikan Negeri Kuwait” dan diterjemahkan serta diberi beberapa tambahan yang penting serta catatan kaki oleh kami. Risalah ini sangat baik sebagai langkah awal untuk siapa-saja yang ingin mempelajari sejarah perjuangan Rasûlullâh saw. sebelum melangkah lebih jauh kepada kitab-kitab yang lebih lengkap dan terperinci, karena risalah ringkas ini memberikan gambaran umum yang cukup tentang peristiwa-peristiwa penting yang terjadi, yang wajib diketahui oleh kaum Muslimîn.</p>
<p>Kami berharap semoga risalah ini dapat menambah wawasan pengetahuan dan keimanan bagi para pembaca yang budiman, karena bertambahnya ilmu dan keimanan bagi setiap muslim merupakan tujuan utama dari mempelajari sejarah Rasûlullâh saw. </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.asiisc.net/sirah/definisi-sirah-rasul-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengunjungi Waraqah bin Naufal</title>
		<link>http://www.asiisc.net/sirah/mengunjungi-waraqah-bin-naufal.html</link>
		<comments>http://www.asiisc.net/sirah/mengunjungi-waraqah-bin-naufal.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 May 2009 18:02:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Debby Nasution</dc:creator>
				<category><![CDATA[SIRÂH]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.islam.rudytarigan.com/?p=78</guid>
		<description><![CDATA[Ketika Khadîdjah melihat Beliau telah kembali seperti semula, ia pun mengajak Beliau pergi ke tempat putera pamannya yang bernama Waraqah bin Naufal, seorang yang bijak dan menguasai kitab-kitab suci dan sangat pandai berbahasa &#8216;Ibrâni. Sesampainya di sana Beliau pun menceritakan kepada Waraqah apa yang dialaminya di gua Hirâ&#8217;. Waraqah sangat terkejut mendengar cerita itu, ia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-family: Verdana;"> Ketika Khadîdjah melihat Beliau telah kembali seperti semula, ia pun mengajak Beliau pergi ke tempat putera pamannya yang bernama Waraqah bin Naufal, seorang yang bijak dan menguasai kitab-kitab suci dan sangat pandai berbahasa &#8216;Ibrâni. Sesampainya di sana Beliau pun menceritakan kepada Waraqah apa yang dialaminya di gua Hirâ&#8217;. Waraqah sangat terkejut mendengar cerita itu, ia berkata kepada Beliau :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/sirah/04.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Demi Allâh Yang jiwa-ku di tangan-Nya, sesungguhnya engkau adalah Nabinya umat ini, dan sesungguhnya yang datang kepada-mu itu adalah Namûs yang besar (Jibrîl) yang pernah datang kepada Mûsâ. Sesungguhnya kaum-mu akan mendustakan-mu, menyakiti-mu, mengusir-mu dan memerangi-mu&#8221;.</em></span></p>
<p>Beliau amat terkejut mendengar penuturan Waraqah, terutama sekali ucapan yang menyatakan bahwa Beliau akan diusir oleh kaumnya. Karena Beliau mengetahui betul bagaimana kedudukannya di hadapan kaum Quraisy yang selalu memanggil Beliau dengan sebutan Al-Amîn. Bukankah hal itu menunjukkan betapa mulianya Beliau di hadapan kaum Quraisy dan betapa percayanya mereka kepada Beliau ? Maka dengan rasa heran yang besar Beliau bertanya kepada Waraqah :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/sirah/05.gif" alt="" /><br />
<em>&#8220;Apakah mereka benar-benar akan mengusir aku ?&#8221;.</em></p>
<p>Dengan tegas Waraqah menjawab :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/sirah/06.gif" alt="" /><br />
<em>&#8220;Benar, tidak ada seorang pun yang datang dengan membawa &#8212; ajaran &#8212; seperti yang engkau bawa melainkan ia pasti dimusuhi dan diperangi oleh manusia banyak&#8221;. </em></p>
<p>Lalu Waraqah mengutarakan angan-angannya kepada Beliau, seandainya ia masih muda ia tentu akan mendampingi Beliau menyebarkan risalahnya. Namun sayang, usianya ketika itu sudah sangat tua dan tidak lama setelah itu ia pun wafat, sebagian orang ketika itu ada yang meragukan Islâmnya Waraqah, namun Rasûlullâh saw. menyanggah keraguan mereka, Beliau bersabda :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/sirah/07.gif" alt="" /><br />
<em>&#8220;Janganlah kalian mencela Waraqah, karena aku pernah melihatnya memiliki sebuah atau dua-buah Surga&#8221;.</em><br />
(H.R. Al-Hâkim. Lihat Al-Ahâdîtsush-Shahîhah oleh As-Syaikh Al-Albânî jilid I no.: 405)</p>
<p>Setelah mendapatkan penjelasan dari Waraqah, Beliau kembali dengan perasaan tenang ke rumahnya bersama Khadîjah. Sekarang telah jelas bagi Beliau, bahwa yang datang pada Beliau itu adalah wahyu dari Allâh, dan Beliau yakin bahwa wahyu itu akan datang kembali kepadanya. Dan beliau sangat mengharapkan hal itu datang secepatnya.</p>
<p>Tidak seperti yang Beliau harapkan, ternyata wahyu berikutnya tertunda dalam waktu yang cukup lama sehingga membuat Beliau kembali merasa takut. Dalam keadaan seperti itu, wahyu pun datang kembali kepada Beliau, yang membuat Beliau kembali tenteram. Dan sekarang hati Beliau benar-benar mantap, bahwa wahyu datang dari Allâh SWT, bahwasanya Allâh telah memilihnya untuk membawa agama langit kepada umat manusia dan mengembalikan agama-agama langit &#8212; yang dibawa oleh para utusan &#8212; sebelumnya yang telah dikotori oleh tangan-tangan manusia kepada keasliannya.</p>
<p>Beliau sekarang telah menjadi utusan Allâh dan Nabi yang dipilih-Nya untuk menyampaikan risalah Islâm kepada seluruh umat manusia, untuk membebaskan dan membawa mereka dari belenggu kekafiran, perbuatan syirik dan alam jahiliyyah kepada cahaya Imân, Tauhîd dan Islâm.</p>
<p>Dari sinilah dimulai sejarah Muhammad Rasûlullâh saw. dan perjuangannya menunaikan risalah yang dibebankan Allâh dengan sebaik-baiknya bentuk.</p>
<p>Wahyu, yaitu ayat-ayat Al-Qur-ân pun mulai turun secara teratur, sedikit demi sedikit kepada Rasûlullâh saw. melalui malaikat Jibrîl a.s. dengan berbagai cara. Terkadang dengan cara langsung ke telinga Beliau, dan Jibrîl tidak meninggalkan Beliau sampai Beliau berhasil menghafal dan menempatkan ayat-ayat tersebut dalam hatinya. Dan kadang-kadang langsung di tempatkan oleh Jibrîl dalam hati Beliau dan Beliau mengulang-ulang ayat-ayat itu dengan mulutnya. Dan setiap datang satu ayat kepada Beliau, Beliau pun mengulang-ulangnya berkali-kali sehingga ayat itu tertanam dengan kuat dalam hatinya lalu Beliau bacakan kepada para sahabatnya. Kepada mereka yang pandai menulis, Beliau perintahkan untuk mencatatnya. Para sahabatnya pun segera menerima ayat-ayat itu dari Beliau, membacanya dan menghafalkannya. Maka ayat-ayat itu pun tetap dalam bentuk yang tidak akan berubah selamanya.</p>
<p>Seperti inilah proses turunnya ayat-ayat sampai membentuk surah-surah yang sempurna, yaitu sedikit demi sedikit dalam masa kurang-lebih dua-puluh-tiga tahun. Berdasarkan usia Beliau pertama-kali menerima ayat-ayat yang turun, yaitu empat-puluh tahun, dan ayat yang terakhir turun ketika usia Beliau kurang-lebih enam-puluh-tiga tahun.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.asiisc.net/sirah/mengunjungi-waraqah-bin-naufal.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Turunnya Wahyu dan Diutus Menjadi Nabi</title>
		<link>http://www.asiisc.net/sirah/turunnya-wahyu-dan-diutus-menjadi-nabi.html</link>
		<comments>http://www.asiisc.net/sirah/turunnya-wahyu-dan-diutus-menjadi-nabi.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 May 2009 18:00:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Debby Nasution</dc:creator>
				<category><![CDATA[SIRÂH]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.islam.rudytarigan.com/?p=76</guid>
		<description><![CDATA[Turunnya Wahyu dan Diutus Menjadi Nabi Ketika usianya mendekati empat-puluh tahun, kecenderungannya menyendiri dan merenung semakin bertambah, kemudian Beliau pun mulai suka berkhalwat. Dan itu dilakukannya di sebuah gua yang terletak di puncak gunung di luar kota Makkah, yang terkenal dengan sebutan gua Hirâ&#8217;, sedangkan gunung itu disebut gunung Nûr atau Jabal Nûr. Dan itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family: Verdana; font-size: x-small;"><strong> Turunnya Wahyu dan Diutus Menjadi Nabi </strong></span></p>
<p style="line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-family: Verdana;"> Ketika usianya mendekati empat-puluh tahun, kecenderungannya menyendiri dan merenung semakin bertambah, kemudian Beliau pun mulai suka berkhalwat. Dan itu dilakukannya di sebuah gua yang terletak di puncak gunung di luar kota Makkah, yang terkenal dengan sebutan gua Hirâ&#8217;, sedangkan gunung itu disebut gunung Nûr atau Jabal Nûr.</span></p>
<p>Dan itu terjadi pada suatu hari di bulan Ramadhân, yaitu ketika Beliau sedang berkhalwat, melakukan perenungan yang dalam untuk membersihkan jiwanya, pada saat Matahari hampir terbenam, tiba-tiba Beliau dikejutkan oleh suara yang halus yang berbicara kepadanya di keheningan gua : &#8220;Bacalah!&#8221;. Beliau pun terkejut dan merasa takut, namun Beliau menjawab: &#8220;Aku tidak bisa membaca&#8221;. Tiba-tiba Beliau merasa ada sesuatu yang menekan dadanya sehingga membuatnya sulit bernafas, lalu tekanan itu berangsur-angsur hilang dan Beliau pun merasa ringan. Namun, suara itu pun terdengar lagi : &#8220;Bacalah!&#8221;. Dan Beliau pun kembali menjawab : &#8220;Aku tidak dapat membaca&#8221;. Beliau pun kembali merasakan tekanan pada dadanya. Dan ketika tekanan itu hilang, suara itu pun terdengar lagi :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/sirah/02.gif" alt="" /><br />
<em>&#8220;Bacalah dengan nama Rabb-mu Yang telah menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Rabb-mu yang Maha Mulia. Yang telah mengajar dengan qalam. Dia telah mengajarkan manusia apa-apa yang belum diketahuinya&#8221;.</em><br />
(Surah Al-&#8217;Alaq (96) : 1 s/d 5)</p>
<p>Lalu suara itu hilang dan suasana kembali hening dan Matahari pun terbenam. Kejadian itu membuat Beliau merasa sangat takut, maka Beliau segera keluar dari gua itu dan turun dengan tergesa-gesa, lalu cepat-cepat pulang ke rumahnya di Makkah. Beliau tiba di rumah ketika hari sudah gelap, karena jarak perjalanan dari rumah ke Jabal Nûr kira-kira 3 Km.</p>
<p>Setibanya di rumah, Beliau pun memanggil-manggil isterinya, dan Beliau berkata kepada isterinya : &#8220;Selimutilah aku, selimutilah aku&#8221;. Sementara itu keringat terus menetes dari tubuhnya, padahal tubuhnya menggigil kedinginan. Khadîjah segera menyelimuti Beliau dan menghibur Beliau dengan ucapan yang lemah lembut sehingga rasa takut Beliau hilang. Lalu Beliau ceritakan kepada Khadîjah apa yang dialaminya di gua Hirâ&#8217;, dan Beliau berkata kepada Khadîjah :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/sirah/03.gif" alt="" /><br />
<em>&#8220;Aku sangat menguatirkan diri-ku&#8221;.</em></p>
<p>Kekuatiran Beliau itu suatu hal yang wajar karena saat itu Beliau belum tahu bahwa yang datang pada Beliau itu adalah malaikat Jibrîl yang turun membawa wahyu dari Allâh SWT., dan merupakan awal atau permulaan ayat-ayat Al-Qur-ânul-Karîm.</p>
<p>Khadîjah kembali menghibur dan menenteramkan Beliau, bahkan meyakinkan Beliau bahwa apa yang dialaminya itu merupakan suatu pertanda baik, karena Beliau adalah seorang yang bersifat mulia, menepati janji, jujur, sangat baik terhadap keluarga dan suka membantu orang yang dalam kesulitan. Sikap dan tutur-kata Khadîjah membuat jiwa Beliau kembali tenteram, bahkan membangkitkan perasaan optimis.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.asiisc.net/sirah/turunnya-wahyu-dan-diutus-menjadi-nabi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesibukannya Berniaga dan Mendapat Gelar &#8220;Al-Amîn&#8221;</title>
		<link>http://www.asiisc.net/sirah/kesibukannya-berniaga-dan-mendapat-gelar-al-amin.html</link>
		<comments>http://www.asiisc.net/sirah/kesibukannya-berniaga-dan-mendapat-gelar-al-amin.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 May 2009 17:54:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Debby Nasution</dc:creator>
				<category><![CDATA[SIRÂH]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.islam.rudytarigan.com/?p=73</guid>
		<description><![CDATA[Kesibukannya Berniaga dan Mendapat Gelar &#8220;Al-Amîn&#8221; Ketika usianya menginjak sepuluh tahun, Beliau diajak oleh Abû Thâlib, pamannya untuk berangkat berniaga ke negeri Syâm bersama-sama rombongan kafilah dagang Quraisy lainnya. Ini awal dari proses Beliau menjadi saudagar sebagaimana ayahnya dulu. Dan berniaga merupakan profesi kaum Quraisy secara turun-temurun, sebagaimana disebutkan Allâh dalam surah Quraisy (106). Maka, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> Kesibukannya Berniaga dan Mendapat Gelar &#8220;Al-Amîn&#8221; </strong></p>
<p style="line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-family: Verdana;"> Ketika usianya menginjak sepuluh tahun, Beliau diajak oleh Abû Thâlib, pamannya untuk berangkat berniaga ke negeri Syâm bersama-sama rombongan kafilah dagang Quraisy lainnya. Ini awal dari proses Beliau menjadi saudagar sebagaimana ayahnya dulu. Dan berniaga merupakan profesi kaum Quraisy secara turun-temurun, sebagaimana disebutkan Allâh dalam surah Quraisy (106).</span></p>
<p>Maka, ketika usia Beliau menginjak dua-puluh tahun, Beliau pun mulai bergabung dengan rombongan kafilah dagang, melanjutkan profesi ayahnya berniaga ke Syâm, sebagaimana layaknya para pemuda Quraisy lainnya. Aktivitas ini merupakan persiapan yang besar bagi tugas kenabian Beliau di masa depan, dan ketika itu Beliau pun telah dikenal sebagai seorang yang memiliki sifat amanah, jujur, waspada dan cerdas.</p>
<p>Sumbangsihnya bagi penduduk Makkah pun mulai nampak. Adapun yang paling menonjol dari diri Beliau, yang membedakannya dengan semua orang adalah sifat amanahnya dalam semua aspek kehidupan, sehingga membuat semua orang mempercayainya dalam berbagai persoalan. Mereka percaya, bahwa Beliau senantiasa teguh memegang kebenaran dan memiliki amanah yang sempurna. Oleh karena itu Beliau dikenal dengan sebutan Al-Amîn yang artinya &#8220;seorang yang paling dipercaya&#8221;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.asiisc.net/sirah/kesibukannya-berniaga-dan-mendapat-gelar-al-amin.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menggembala Kambing</title>
		<link>http://www.asiisc.net/sirah/menggembala-kambing.html</link>
		<comments>http://www.asiisc.net/sirah/menggembala-kambing.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 May 2009 17:53:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Debby Nasution</dc:creator>
				<category><![CDATA[SIRÂH]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.islam.rudytarigan.com/?p=71</guid>
		<description><![CDATA[MENGGEMBALA KAMBING Setelah dua tahun di bawah asuhan &#8216;Abdul-Muthalib, yaitu ketika usia Beliau menginjak delapan tahun, &#8216;Abdul-Muthalib pun wafat. Maka Beliau pun diambil oleh Abû Thâlib, salah seorang pamannya yang memiliki anak yang banyak. Abû Thâlib merupakan pengganti &#8216;Abdul-Muthalib dalam kepemimpinan kota Makkah, dan ia telah menyumbangkan sebagian besar hartanya untuk memelihara Ka&#8217;bah dan menjamu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family: Verdana; font-size: x-small;"><strong> MENGGEMBALA KAMBING </strong></span></p>
<p style="line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-family: Verdana;"> Setelah dua tahun di bawah asuhan &#8216;Abdul-Muthalib, yaitu ketika usia Beliau menginjak delapan tahun, &#8216;Abdul-Muthalib pun wafat. Maka Beliau pun diambil oleh Abû Thâlib, salah seorang pamannya yang memiliki anak yang banyak.</span></p>
<p>Abû Thâlib merupakan pengganti &#8216;Abdul-Muthalib dalam kepemimpinan kota Makkah, dan ia telah menyumbangkan sebagian besar hartanya untuk memelihara Ka&#8217;bah dan menjamu orang-orang yang berhaji, dan juga untuk membantu orang-orang yang mengalami kesulitan sehingga membuatnya jatuh miskin dan hampir-hampir menjatuhkan kedudukannya yang mulia.</p>
<p>Rasûlullâh saw. yang ketika itu masih berusia delapan tahun, berusaha meringankan beban pamannya itu dengan bekerja menggembalakan kambing milik sebagian penduduk Makkah dengan upah yang minim.</p>
<p>Pekerjaan menggembala kambing menumbuhkan sifat-sifat positif dalam diri Beliau, seperti sifat tanggung jawab, lemah lembut, penuh perhatian dan kewaspadaan. Sejumlah sifat yang harus dimiliki oleh setiap penggembala agar ia dapat menjaga ternaknya dengan baik. Ini pun merupakan kehendak Allâh SWT. dan juga sebagian dari rencana-Nya yang tersusun bagi Beliau, agar di kemudian hari Beliau mampu memikul tanggung jawab sebagai pembawa risalah. Dan pekerjaan menggembala kambing merupakan pendidikan Allâh bagi sebagian besar para nabi, sebagaimana sabda Beliau :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/sirah/01.gif" alt="" /><br />
<em>&#8220;Tidak ada seorang nabi pun melainkan ia pernah bekerja menggembala kambing&#8221;.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.asiisc.net/sirah/menggembala-kambing.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Kelahiran Muhammad saw. sampai Diutusnya</title>
		<link>http://www.asiisc.net/sirah/dari-kelahiran-muhammad-saw-sampai-diutusnya.html</link>
		<comments>http://www.asiisc.net/sirah/dari-kelahiran-muhammad-saw-sampai-diutusnya.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 May 2009 17:40:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Debby Nasution</dc:creator>
				<category><![CDATA[SIRÂH]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.islam.rudytarigan.com/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[Dari Kelahiran Muhammad saw. sampai Diutusnya Muhammad Rasûlullâh saw. dilahirkan di Makkah pada tahun 571 M. bersamaan dengan masuknya Abrahah &#8212; gubernur Yaman &#8212; ke kota Makkah dengan pasukan gajahnya yang terkenal untuk menghancurkan Ka&#8217;bah. Dan pasukan itu dihancurkan Allâh SWT. dengan burung Abâbîl, sebagaimana disebutkan dalam surah Al-Fîl yang artinya &#8220;gajah&#8221;. Itulah sebabnya tahun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family: Verdana; font-size: x-small;"><strong> Dari Kelahiran Muhammad saw. sampai Diutusnya </strong></span></p>
<p style="line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-family: Verdana;">Muhammad Rasûlullâh saw. dilahirkan di Makkah pada tahun 571 M. bersamaan dengan masuknya Abrahah &#8212; gubernur Yaman &#8212; ke kota Makkah dengan pasukan gajahnya yang terkenal untuk menghancurkan Ka&#8217;bah. Dan pasukan itu dihancurkan Allâh SWT. dengan burung Abâbîl, sebagaimana disebutkan dalam surah Al-Fîl yang artinya &#8220;gajah&#8221;. Itulah sebabnya tahun kelahiran Rasûlullâh saw. disebut &#8220;Tahun Gajah&#8221;.</span></p>
<p>Ayah Beliau bernama &#8216;Abdullâh bin &#8216;Abdul-Muthalib bin Hâsyim, dan &#8216;Abdul-Muthalib adalah seorang kepala suku Quraisy yang paling dihormati dan juga pemimpin kota Makkah pada masa itu. Sedangkan ibunda Beliau bernama &#8216;Âminah binti Wahab bin &#8216;Abdi Manâf bin Kilâb yang juga seorang wanita Quraisy.</p>
<p>&#8216;Abdullâh &#8212; ayah Beliau &#8212; adalah seorang pedagang sebagaimana layaknya bangsa Quraisy saat itu, seperti yang disebutkan Allâh dalam surah Quraisy (106). &#8216;Abdullâh meninggal sebelum lahirnya Beliau, yaitu sekembalinya dari negeri Syâm, di tengah jalan ia jatuh sakit, dan sakitnya semakin parah ketika ia singgah di kota Madînah. Maka ia pun tinggal di keluarga Banî Najâr dari suku Khazraj, dan meninggal di tengah-tengah mereka.</p>
<p>Keluarga Banî Najâr masih ada hubungan keluarga dengan Rasûlullâh saw., yaitu melalui pernikahan Hâsyim bin &#8216;Abdi Manâf &#8212; yaitu datuk ayah Beliau &#8212; dengan seorang wanita dari Banî Najâr. Jadi, Rasûlullâh saw. lahir setelah wafatnya &#8216;Abdullâh &#8212; ayah Beliau &#8211;, Dan Beliau tumbuh sebagai anak yatim. Namun, &#8216;Abdul-Muthalib &#8212; datuk Beliau &#8212; sangat gembira menyambut kelahiran Beliau, dan dialah yang memberi nama Muhammad kepada Beliau. Dan dia juga yang menanggung kehidupan Beliau dan mencurahkan seluruh kasih sayangnya kepada Beliau.</p>
<p>Bangsa Quraisy memiliki kebiasaan mengirim bayi-bayi mereka kepada wanita-wanita di luar kota Makkah untuk disusui, agar mereka menghirup udara yang bersih dan segar di tengah-tengah penduduk &#8216;Arab yang masih murni bahasanya, dengan harapan agar bayi-bayi itu tumbuh sehat, kuat dan memiliki kemampuan berbahasa yang baik. Begitu-pula halnya dengan &#8216;Âminah, ibunda Beliau yang segera mengirim Beliau untuk disusui kepada seorang wanita bernama Halîmah dari keluarga Banî Sa&#8217;ad bin Bakar, yang bertempat tinggal di Sahara, dekat kota Makkah.</p>
<p>Beliau tinggal bersama Halîmah dan keluarganya sampai usia lima tahun, kemudian Beliau dikembalikan kepada ibundanya di Makkah, maka Beliau pun kembali berada dalam asuhan ibundanya dan juga datuknya. Pada waktu yang sama, ibunda Beliau ingin mengajak Beliau bepergian ke Madînah, untuk menziarahi maqam ayahandanya. Sebuah perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan, terutama bagi Beliau yang masih berusia lima tahun. Maka Beliau pun berangkat bersama ibundanya dan seorang pelayan wanita.</p>
<p>Setelah berziarah ke maqam ayahandanya di Madînah dan tinggal beberapa hari di sana, Beliau pun kembali pulang bersama ibundanya. Namun, di tengah perjalanan ibundanya pun jatuh sakit, dan meninggal di sebuah tempat bernama Abwâ&#8217;, yaitu sebuah tempat yang terletak di pertengahan jalan antara Makkah dan Madînah. Maka Beliau pun kembali ke Makkah sebagai anak yatim-piyatu dengan ditemani oleh pelayan wanita yang menyertai Beliau. Setibanya di Makkah Beliau pun diambil oleh &#8216;Abdul-Muthalib datuknya, dan tinggal bersama datuknya, yang mengasuhnya dengan kasih sayang yang luar-biasa.</p>
<p>Sekarang Beliau benar-benar merasakan betapa pedihnya menjadi anak yatim-piyatu, tidak memiliki ayah dan ibu. Hal itu mendidik Beliau untuk selalu mengandalkan dirinya, dan secara otomatis mengasah kecerdasan Beliau, serta membuka pandangannya terhadap hakikat kehidupan dalam usia yang masih sangat muda. Dan sudah tentu ini semua merupakan kehendak Allâh yang telah menentukan pilihan-Nya terhadap Beliau untuk menegakkan risalah Islâm di muka bumi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.asiisc.net/sirah/dari-kelahiran-muhammad-saw-sampai-diutusnya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Muqaddimah Sirâh Rasûl</title>
		<link>http://www.asiisc.net/sirah/muqaddimah-sirah-rasul.html</link>
		<comments>http://www.asiisc.net/sirah/muqaddimah-sirah-rasul.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Mar 2009 17:31:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Debby Nasution</dc:creator>
				<category><![CDATA[SIRÂH]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.islam.rudytarigan.com/?p=63</guid>
		<description><![CDATA[Mempelajari Sîrah Rasûlullâh berarti mempelajari catatan atau tulisan yang memuat seluruh perbuatannya, perilakunya, sunnahnya, perjalanan dan sikap hidupnya. Rasûlullâh saw. adalah manusia luar-biasa, tidak ada seorang manusia selain Beliau yang riwayat hidupnya ditulis begitu banyak, baik oleh para &#8216;ulama dan cendikiawan Islâm, maupun para sejarawan non Islâm dari dahulu sampai sekarang dan pada masa yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family: Verdana;">Mempelajari Sîrah Rasûlullâh berarti mempelajari catatan atau tulisan yang memuat seluruh perbuatannya, perilakunya, sunnahnya, perjalanan dan sikap hidupnya.</span></p>
<p>Rasûlullâh saw. adalah manusia luar-biasa, tidak ada seorang manusia selain Beliau yang riwayat hidupnya ditulis begitu banyak, baik oleh para &#8216;ulama dan cendikiawan Islâm, maupun para sejarawan non Islâm dari dahulu sampai sekarang dan pada masa yang akan datang. Hal itu tidak lain karena kehidupan pribadi Beliau yang sempurna dan penuh daya tarik bagi siapa-saja yang mempelajarinya dengan penuh perhatian, pemikiran dan ketelitian.</p>
<p>Seorang cendikiawan muslim pernah berkata : <em>&#8220;Tidak ada yang setara dengan Rasûlullâh saw. dalam hal kesabaran menghadapi mushibah, ketegaran di atas kebenaran dan ketenangan jiwanya dalam menghadapi goncangan dunia. Demikian pula dalam hal kasih sayang, kelembutan hati dan keluhuran jiwa. Beliau memang diciptakan seperti itu untuk mengungguli berbagai peristiwa dan mengalahkan dunia materi. Dengan demikian, Rasûlullâh saw. senantiasa menjadi sumber seluruh sejarah kemanusiaan, dan dunia pun menjadikan Beliau sebagai acuan sistem pemikiran yang benar&#8221;.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.asiisc.net/sirah/muqaddimah-sirah-rasul.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Definisi Sirâh Rasûl</title>
		<link>http://www.asiisc.net/sirah/definisi-sirah-rasul.html</link>
		<comments>http://www.asiisc.net/sirah/definisi-sirah-rasul.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Mar 2009 17:38:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Debby Nasution</dc:creator>
				<category><![CDATA[SIRÂH]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.islam.rudytarigan.com/?p=66</guid>
		<description><![CDATA[DEFINISI SÎRAH RASÛL Kata “Sîrah” bentuk jama&#8217;nya “Siyar” yang dari segi bahasa artinya adalah : “Perilaku” atau “As-Sunnah” atau bisa juga berarti “Perjalanan dan Pijakan atau Prinsip”. Jadi, “Sîrah Rasûl” artinya : “Lembaran catatan seluruh perbuatannya, yaitu perjalanan hidupnya di tengah-tengah manusia”. Mempelajari Sîrah Rasûlullâh berarti mempelajari catatan atau tulisan yang memuat seluruh perbuatannya, perilakunya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family: Verdana; font-size: x-small;"><strong> DEFINISI SÎRAH RASÛL </strong></span></p>
<p style="line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-family: Verdana;"> Kata “Sîrah” bentuk jama&#8217;nya “Siyar” yang dari segi bahasa artinya adalah : “Perilaku” atau “As-Sunnah” atau bisa juga berarti “Perjalanan dan Pijakan atau Prinsip”.<br />
Jadi, “Sîrah Rasûl” artinya :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/sirah/00.gif" alt="" /><br />
<em>“Lembaran catatan seluruh perbuatannya, yaitu  perjalanan hidupnya  di  tengah-tengah manusia”.</em></span></p>
<p>Mempelajari Sîrah Rasûlullâh berarti mempelajari catatan atau tulisan yang memuat seluruh perbuatannya, perilakunya, sunnahnya, perjalanan dan sikap hidupnya. Rasûlullâh saw. adalah manusia luar-biasa, tidak ada seorang manusia selain Beliau yang riwayat hidupnya ditulis begitu banyak, baik oleh para &#8216;ulama dan cendikiawan Islâm, maupun para sejarawan non Islâm dari dahulu sampai sekarang dan pada masa yang akan datang. Hal itu tidak lain karena kehidupan pribadi Beliau yang sempurna dan penuh daya tarik bagi siapa-saja yang mempelajarinya dengan penuh perhatian, pemikiran dan ketelitian.</p>
<p>Seorang cendikiawan muslim pernah berkata : “Tidak ada yang setara dengan Rasûlullâh saw. dalam hal kesabaran menghadapi mushibah, ketegaran di atas kebenaran dan ketenangan jiwanya dalam menghadapi goncangan dunia. Demikian pula dalam hal kasih sayang, kelembutan hati dan keluhuran jiwa. Beliau memang diciptakan seperti itu untuk mengungguli berbagai peristiwa dan mengalahkan dunia materi. Dengan demikian, Rasûlullâh saw. senantiasa menjadi sumber seluruh sejarah kemanusiaan, dan dunia pun menjadikan Beliau sebagai acuan sistem pemikiran yang benar”.</p>
<p>Jenderal Besar (Purn.) A.H. Nasution sangat mengagumi Rasûlullâh saw. lebih daripada Napoleon dan Alexander Yang Agung, ia mengatakan dalam buku Perjalanan Hidupnya :</p>
<p>“Guru saya selalu menanyakan hal itu, siapa yang paling kamu kagumi ? Dia ingin tahu idola saya. Saya bilang Nabi Muhammad. Dia kaget, dikiranya saya akan menyebut Napoleon atau Alexander Yang Agung. Alasan saya karena Nabi Muhammad bukan saja ahli strategi militer tapi Beliau juga membina semangat tempur”.<br />
(Perjalanan Hidup A.H. Nasution hal. 294)</p>
<p>Seorang penulis besar kenamaan abad ini, Karen Amstrong mengatakan :</p>
<p>“Muhammad benar-benar manusia luar-biasa, sebelum kewafatannya pada tahun 632 M., telah berhasil menyatukan seluruh suku bangsa &#8216;Arab menjadi satu komunitas baru yang bersatu, ummah. Dia menyuguhkan spiritualitas baru yang diselaraskan dengan tradisi mereka dan mampu mendobrak segala macam bentuk pemberhalaan yang dengannya bangsa &#8216;Arab membangun “kerajaannya”. Di samping itu, Muhammad juga telah mampu menancapkan ajarannya membentang dari Himalaya sampai Pyrenees, dan membangun sebuah peradaban yang tiada taranya”.<br />
(A History Of God / terj. oleh: M. Sadat Ismail hal. 201-202)</p>
<p>Sejarah perjuangan Rasûlullâh saw. sangat penting bagi kehidupan kaum Muslimîn sepanjang sejarah dan dalam kehidupan dewasa ini, itulah sebabnya banyak didapati buku-buku sejarah yang sudut pandang dan sistem penulisannya beragam.</p>
<p>Risalah ini merupakan ringkasan sejarah kehidupan dan perjuangan Rasûlullâh saw. yang di susun oleh Dr. Husain Mu&#8217;nis dan Al-Ustadz &#8216;Alî Su&#8217;ûd &#8216;Athiyyah dari “Lembaga Pendidikan Negeri Kuwait” dan diterjemahkan serta diberi beberapa tambahan yang penting serta catatan kaki oleh kami. Risalah ini sangat baik sebagai langkah awal untuk siapa-saja yang ingin mempelajari sejarah perjuangan Rasûlullâh saw. sebelum melangkah lebih jauh kepada kitab-kitab yang lebih lengkap dan terperinci, karena risalah ringkas ini memberikan gambaran umum yang cukup tentang peristiwa-peristiwa penting yang terjadi, yang wajib diketahui oleh kaum Muslimîn.</p>
<p>Kami berharap semoga risalah ini dapat menambah wawasan pengetahuan dan keimanan bagi para pembaca yang budiman, karena bertambahnya ilmu dan keimanan bagi setiap muslim merupakan tujuan utama dari mempelajari sejarah Rasûlullâh saw.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.asiisc.net/sirah/definisi-sirah-rasul.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

