<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>As-Salaf Information and Islamic Study Center (ASIISC) &#187; FIQIH KONTEMPORER</title>
	<atom:link href="http://www.asiisc.net/category/fiqih-kontemporer/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.asiisc.net</link>
	<description>Kegiatan da&#039;wah Islam sesuai Al-Qur&#039;an dan sunah</description>
	<lastBuildDate>Sun, 18 Sep 2011 11:08:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>bolehkah perempuan bekerja mencari nafqah di luar rumah ?</title>
		<link>http://www.asiisc.net/fiqih-kontemporer/bolehkah-perempuan-bekerja-mencari-nafqah-di-luar-rumah.html</link>
		<comments>http://www.asiisc.net/fiqih-kontemporer/bolehkah-perempuan-bekerja-mencari-nafqah-di-luar-rumah.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 May 2009 17:17:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Debby Nasution</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIQIH KONTEMPORER]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.islam.rudytarigan.com/?p=146</guid>
		<description><![CDATA[Bolehkah Perempuan Bekerja Mencari Nafqah Di Luar Rumah ? Sebelum menjawab pertanyaan ini, perlu kami jelaskan bahwa bekerja mencari nafqah atau rezeki merupakan hal yang diperintahkan dalam Islâm, sebagaimana firman Allâh : &#8220;Dia-lah yang menjadikan bumi itu mudah buat kalian, maka berjalanlah di seluruh penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya&#8221;. (Surah Al-Mulk (67) :14) Az-Zamakhsyarî [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family: Verdana; font-size: small;"><strong> Bolehkah Perempuan Bekerja Mencari Nafqah Di Luar Rumah ? </strong></span></p>
<p style="line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-family: Verdana;"> Sebelum menjawab pertanyaan ini, perlu kami jelaskan bahwa bekerja mencari nafqah atau rezeki merupakan hal yang diperintahkan dalam Islâm, sebagaimana firman Allâh :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/fiqih/20.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Dia-lah yang menjadikan bumi itu mudah buat kalian, maka berjalanlah di seluruh penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya&#8221;.</em><br />
(Surah Al-Mulk (67) :14)</span></p>
<p>Az-Zamakhsyarî menyebutkan dalam tafsîrnya yang terkenal yaitu &#8220;Al-Kasysyâf&#8221;, bahwa yang dimaksud &#8220;mudah&#8221; dalam ayat ini ialah :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/fiqih/21.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Allâh mudahkan buat kalian berjalan mengarungi pegunungannya&#8221;.</em><br />
(Lihat Al-Kasysyâf juz IV hal. 585)</p>
<p>Maksudnya; Allâh telah memberi kemudahan bagi manusia untuk mengarungi bumi termasuk daerah-daerah pegunungannya. Ayat ini lebih jelas lagi terlihat pada masa sekarang di mana alat-alat transportasi sudah begitu maju, sehingga dengan mudah dan waktu yang relatif singkat manusia dapat menempuh perjalanan dari satu negeri ke negeri yang lain. Dan Al-Imâm Ibnu Katsîr menjelaskan dalam &#8220;Tafsîrnya&#8221;, bahwa kata &#8220;maka berjalanlah kalian&#8221; dalam ayat ini maksudnya :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/fiqih/22.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Maka berjalanlah sesuai keinginan kalian ke seluruh penjuru dunia, dan mondar-mandirlah di seluruh daerah dan wilayahnya untuk melakukan berbagai macam pekerjaan dan perniagaan&#8221;.</em><br />
(Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr juz IV hal. 397)</p>
<p>Berdasarkan keterangan-keterangan ini, wajiblah bagi kita untuk berusaha atau bekerja dengan sungguh-sungguh atau &#8220;bekerja keras&#8221; istilah orang sekarang mencari nafqah untuk mencukupi kebutuhan hidup. Al-Qur-ân juga menjelaskan, bahwa para rasul atau nabi sekalipun melakukan berbagai macam pekerjaan atau kegiatan ekonomi untuk mencukupi kebutuhan mereka, sebagaimana firman Allâh :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/fiqih/23.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Dan tidaklah Kami mengutus para utusan sebelum-mu (Muhammad), kecuali mereka juga memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar&#8221;.</em><br />
(Surah Al-Furqân (25) : 20)</p>
<p>Ayat ini menegaskan bahwa seluruh nabi atau utusan adalah manusia-manusia biasa, dan seperti umumnya manusia, mereka juga makan dan butuh makanan. Oleh karena itu mereka juga melakukan kegiatan ekonomi, sebagaimana dikatakan oleh Al-Imâm Ibnu Katsîr dalam Tafsîrnya &#8212; bahwa yang dimaksud dengan &#8220;mereka berjalan di pasar-pasar&#8221; ialah :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/fiqih/24.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Mereka &#8212; para utusan itu &#8212; mondar-mandir di dalam pasar dan dari pasar ke pasar, untuk melakukan usaha (bisnis) dan berdagang&#8221;.</em><br />
(Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr juz III hal. 310)</p>
<p>Pasar adalah tempat berkumpulnya segala macam manusia dengan berbagai-macam karakter, dan melakukan bisnis atau berdagang &#8212; di pasar &#8212; berarti melakukan kontak sosial secara aktif atau berinteraksi dengan mereka. Itulah yang dilakukan oleh para nabi. Demikian pula halnya dengan nabi terakhir, penghulu para utusan, kekasih Allâh; Muhammad Rasûlullâh saw. Beliau adalah seorang yang juga melakukan kegiatan usaha di pasar-pasar. Bahkan, melakukan kegiatan usaha di pasar-pasar adalah salah satu sifat Beliau yang disebutkan dalam kitab &#8220;At-Taurât&#8221;, sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Imâm Al-Bukhârî dalam sebuah hadits dari &#8216;Abdullâh bin &#8216;Amer bin Al-Âsh (radhiyallâhu &#8216;anhuma) yang menyebutkan salah satu sifat Rasûlullâh saw. dalam kitab &#8220;At-Taurât&#8221;, yaitu :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/fiqih/25.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Tidak pernah bertengkar dengan suara keras di pasar-pasar&#8221;.</em><br />
(Lihat Fathul-Bârî juz IV hal.343)</p>
<p>Jadi, seperti para nabi dan utusan sebelumnya, Rasûlullâh saw. pun bergaul, melakukan kontak sosial dan berinteraksi dengan semua jenis manusia baik ketika melakukan kegiatan ekonomi di dalam maupun di luar pasar.</p>
<p>Adapun kaum wanita, sebagaimana dinyatakan oleh Dr. Yûsuf Al-Qardhâwî, tugas mereka yang utama yang tidak diperselisihkan lagi ialah mendidik generasi-generasi baru. Mereka memang disiapkan oleh Allâh untuk tugas itu, baik secara fisik maupun mental, dan tugas yang agung ini tidak boleh dilupakan atau diabaikan oleh faktor material dan kultural apa pun. Sebab, tidak ada seorang pun yang dapat menggantikan peran kaum wanita dalam tugas besar ini, yang padanyalah bergantung masa depan umat, dan dengannya pula terwujud kekayaan yang paling besar, yaitu kekayaan yang berupa manusia (sumber daya manusia).</p>
<p>Di antara aktivitas wanita ialah memelihara rumah-tangganya, membahagiakan suaminya, dan membentuk keluarga bahagia yang tenteram damai, penuh cinta dan kasih sayang.</p>
<p>Namun demikian, tidak berarti wanita bekerja di luar rumah itu diharamkan syara&#8217;. Karena tidak ada seorang pun yang dapat mengharamkan sesuatu tanpa adanya nash syara&#8217; yang shahîh periwayatannya dan sharîh (jelas) petunjuknya. Bahkan kadang-kadang kaum wanita dituntut dengan tuntutan sunnah atau bahkan wajib untuk bekerja mencari nafqah apabila ia membutuhkannya. (Lihai Fatwa-Fatwa Kontemporer jilid II hal. 422)</p>
<p>Terutama sekali kaum wanita yang hidup dalam keadaan serba kurang di negara-negara miskin seperti Indonesia, sedangkan keluarga, yaitu orang-tua atau para suami mereka sama-sekali tidak bisa diharapkan untuk mencukupi kebutuhan atau tuntutan hidup sehari-hari yang terus saja meningkat. Ditambah lagi dengan situasi negara yang tidak menentu. Kondisi politik dan ekonomi yang sama-sekali tidak menjanjikan atau memberi harapan bagi kesejahteraan rakyat, sehingga membuat sebagian kaum wanita Indonesia terpaksa berangkat ke luar negeri menjadi TKW dalam rangka mencari nafqah dan penghidupan yang layak di negeri orang. Namun, ada dua hal yang perlu mendapat perhatian dari saudari-saudari kita yang menjadi TKW. agar pekerjaan mereka mencari nafqah mempunyai nilai &#8216;ibadah dan mulia di sisi Allâh. :</p>
<p><strong><em>Pertama :</em></strong> Tujuan atau motivasi mereka bekerja mencari nafqah harus benar-benar sesuai dengan syara&#8217;. Hal ini ditegaskan Rasûlullâh saw. dalam sabdanya :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/fiqih/26.gif" border="0" alt="" align="center" /><br />
<em>&#8220;Barang-siapa yang bekerja &#8212; dengan niyat atau tujuan &#8212; untuk kedua orang-tuanya, maka ia berada dalam sabîlillâh, dan barang-siapa yang bekerja untuk keluarganya, maka ia berada dalam sabîlillâh, dan barang-siapa yang bekerja untuk dirinya, untuk menjaga kehormatan dirinya maka ia berada dalam sabîlillâh. Dan barang-siapa yang bekerja &#8212; dengan niyat atau tujuan &#8212; menumpuk-numpuk harta, maka ia berada di jalan yang sesat atau di jalan syaithân&#8221;.</em><br />
(Diriwayatkan oleh Al-Bazzâr, Abû Nu&#8217;aim dan Ash-Bahânî. Lihat Al-Ahâditsush-Shahîhah oleh Syaikh Muhammad Nâshirud-Dîn Al-Albânî jilid V hal. 272 no.: 2232)</p>
<p>Di dalam hadits ini disebutkan secara tegas tiga motivasi atau tujuan mencari nafqah yang benar, yang sesuai dengan syara&#8217;, yaitu :</p>
<p>(1) Untuk membantu orang-tua.<br />
(2) Untuk menghidupi keluarga.<br />
(3) Untuk menjaga kehormatan pribadi yaitu agar  tidak meminta-minta pada orang lain.</p>
<p>Dan tidak dibenarkan bagi setiap muslim atau muslimah bekerja mencari nafqah dengan tujuan menumpuk-numpuk harta, karena tujuan seperti itu membuat yang orang bersangkutan berada di dalam kesesatan atau di jalan syaithân, sebagaimana ditegaskan oleh hadits di atas.</p>
<p>Jadi, seorang muslim atau muslimah wajib memiliki ketiga motivasi atau salah satu dari tiga motivasi ini ketika ia bekerja mencari nafqah agar ia berada dalam sabîlillâh, yaitu kalau dia menemui ajalnya dalam bekerja, ia terhitung sebagai orang yang mati syahid, suatu kematian yang sangat mulia dalam Islâm.</p>
<p><strong><em>Kedua :</em></strong> Jenis pekerjaan hendaknya tidak bertentangan dengan hukum syara&#8217;. Artinya, pekerjaan itu tidak haram atau bisa mendatangkan sesuatu yang haram, seperti bekerja di bar-bar untuk menghidangkan minuman keras apalagi menjadi penari yang merangsang hawa-nafsu dll. yang dilarang oleh Agama. Begitu-pula sebaliknya, jangan sampai pekerjaan itu &#8212; walaupun halal &#8212; menghalanginya dari melakukan kewajiban Agama, seperti shalat, puasa dsb. Dan ditambah lagi dengan tetap menjaga kesopanan sebagai wanita muslimah. (Wallâhu A&#8217;lam)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.asiisc.net/fiqih-kontemporer/bolehkah-perempuan-bekerja-mencari-nafqah-di-luar-rumah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Muqaddimah</title>
		<link>http://www.asiisc.net/fiqih-kontemporer/muqaddimah-2.html</link>
		<comments>http://www.asiisc.net/fiqih-kontemporer/muqaddimah-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 May 2009 10:41:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Debby Nasution</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIQIH KONTEMPORER]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.islam.rudytarigan.com/?p=134</guid>
		<description><![CDATA[Penjelasan ini sebagian besar isinya merupakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepada kami, baik melalui sms maupun melalui ta&#8217;lim atau pengajian hadits &#8220;Shahîh Al-Bukhârî&#8221; pada malam Rabu di masjid &#8220;Al-Amru Bit-Taqwâ&#8221; di perumahan &#8220;Mampang Indah Permai&#8221; yang disampaikan oleh saya (Debby Nasution) dan dipandu oleh ustadz Muhammad Arifin Ilham. Dari begitu banyaknya pertanyaan yang disampaikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana;">Penjelasan ini sebagian besar isinya merupakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepada kami, baik melalui sms maupun melalui ta&#8217;lim atau pengajian hadits &#8220;Shahîh Al-Bukhârî&#8221; pada malam Rabu di masjid &#8220;Al-Amru Bit-Taqwâ&#8221; di perumahan &#8220;Mampang Indah Permai&#8221; yang disampaikan oleh saya (Debby Nasution) dan dipandu oleh ustadz Muhammad Arifin Ilham.</span></p>
<p style="text-align: justify;">Dari begitu banyaknya pertanyaan yang disampaikan dan beragamnya, kami menyimpulkan betapa kaum Muslimîn sebenarnya sangat butuh terhadap informasi yang benar tentang Dînul-Islâm, agama mereka yang sempurna sehingga kami merasa perlu menerbitkan buku ini sebagai suatu kebutuhan yang mendesak. Dan kami berusaha sedapat mungkin untuk memudahkan para pembaca memahami informasi yang ada di dalam buku ini, sebagaimana sabda Rasûlullâh saw. :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/fiqih/mq01.gif" alt="" /><br />
<em>&#8220;Mempermudahlah,  jangan mempersulit&#8230;&#8230;&#8230;.&#8221;.</em><br />
(H.R. Al-Bukhârî)</p>
<p style="text-align: justify;">Yaitu setiap jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, kami sertakan dalil-dalil yang bersumber dari Al-Qur-ân dan Hadits yang shahîh, yang mudah dimengerti dan dipahami dan juga merupakan sumber utama ajaran Islâm, sebagaimana pesan Rasûlullâh saw. :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/fiqih/mq02.gif" alt="" /><br />
<em>&#8220;Aku tinggalkan dua perkara buat kalian; kalian tidak akan sesat selama berpegang pada dua perkara tersebut; yaitu Kitâbullâh (Al-Qur-ân) dan Sunnah Rasûl-Nya (Al-Hadits)&#8221;.</em><br />
(H.R. Mâlik)</p>
<p style="text-align: justify;">Sabda Rasûlullâh saw. di atas memberikan jaminan bagi siapa-saja yang mau mengikuti Al-Qur-ân dan Sunnah atau Hadits, maka ia tidak akan tersesat. Sehubungan dengan itu Al-Imâm Mâlik bin Anas (rahimahullâh) berkata :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/fiqih/mq03.gif" alt="" /><br />
<em>&#8220;Sunnah &#8212; Rasûl itu &#8212; seperti perahu nabi Nûh, siapa-saja yang menaikinya pasti selamat; dan siapa-saja yang meninggalkannya pasti tenggelam&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Terlalu banyak dalil-dalil yang menunjukkan wajibnya umat Islâm mengikuti Al-Qur-ân dan Sunnah atau Hadits, dan hal itu pun sudah diakui oleh sebagian besar kaum Muslimîn. Namun, betapa pun pahitnya harus diakui, bahwa sebagian besar kaum Muslimîn dewasa ini belum begitu tahu dan mengerti terhadap kandungan atau isi Al-Qur-ân dan Hadits sehingga ketika disampaikan kepada mereka sesuatu dari Al-Qur-ân dan Hadits yang belum pernah mereka ketahui, mereka pun terkejut dan merasa asing. Apalagi jika sesuatu itu bertentangan dengan apa yang mereka ketahui atau mereka yakini sebelumnya. Dan yang lebih parah, ada sebagian dari mereka yang lebih suka bersikap taqlîd saja, yaitu mempertahankan keyakinan yang tidak didasari oleh dalil atau hujjah (bukti-bukti ilmiyah) daripada mengikuti apa yang disebutkan oleh Al-Qur-ân dan Hadits yang shahîh. Hal itu pun dilakukan tanpa berpikir-pikir lagi, seolah-olah mereka sudah kehilangan daya pikirnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sikap taqlîd atau hanya ikut-ikutan saja dalam soal agama sangatlah tercela. Al-Imâm Al-Ghazâlî telah menjelaskan ta&#8217;rîf atau definisi taqlîd, yaitu :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/fiqih/mq04.gif" alt="" /><br />
<em>&#8220;Taqlîd itu ialah menerima ucapan (pendapat) yang tidak beralasan&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">K.H. Moenawar Chalil (alm.) memberikan komentar sehubungan dengan ucapan Al-Imâm Al-Ghazâlî di atas, beliau berkata : Dan masih banyak lagi ta&#8217;rîf-ta&#8217;rîf yang serupa dengan ta&#8217;rîf tersebut, yang dari semuanya dapat diambil kesimpulan : <em>&#8220;Taqlîd itu ialah menerima, mengambil perkataan atau pendapat orang lain yang tidak ada hujjah (alasan)nya dari Al-Qur-ân atau Sunnah Rasûl&#8221;. </em>Lalu K.H. Moenawar Chalil juga menyebutkan bahwa taqlîd tidak dibenarkan dalam Islâm, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Mas&#8217;ûd salah seorang shahabat Rasûlullâh saw. :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/fiqih/mq05.gif" alt="" /><br />
<em>&#8220;Janganlah seorang pun dari kalian bertaqlîd tentang agamanya kepada seseorang&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Atau dalam ucapannya yang lain Ibnu Mas&#8217;ûd berkata :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/fiqih/mq06.gif" alt="" /><br />
<em>&#8220;Meskipun terhadap seorang yang &#8216;âlim dan mendapat hidayah, jangan sekali-kali kalian bertaqlîd kepadanya tentang agama kalian&#8221;.</em><br />
(Lihat Buku Kembali Kepada Al-Qur-ân Dan As-Sunnah oleh K.H. Moenawar Chalil hal. 341 &#8211; 347)</p>
<p style="text-align: justify;">Artinya, terhadap seorang &#8216;ulamâ&#8217; yang pandai, benar dan jujur sekalipun tidak dibenarkan bagi seorang muslim untuk bertaqlîd dalam soal agama. Karena sikap taqlîd justru sering membuat mereka merasa sulit dan berat dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban syari&#8217;at. Bahkan banyak juga di antara mereka yang berputus-asa dan memandang Islâm sebagai suatu beban yang memberatkan, dan akhirnya membuat mereka menjauhkan diri dari agama.</p>
<p style="text-align: justify;">Islâm adalah agama yang sangat memuliakan &#8216;aqal, begitu banyak ayat dalam Al-Qur-ân yang memerintahkan manusia agar memberdayakan &#8216;aqal-pikiran dalam segala bidang, terutama sekali dalam memahami agama yang merupakan masalah terpenting dalam kehidupan. Al-Qur-ân pun telah menyebutkan penyesalan orang-orang yang tidak menggunakan pendengaran dan &#8216;aqalnya untuk memahami agama atau perintah Allâh sehingga mereka terpaksa menjadi penghuni Neraka (na&#8217;udzu billâhi min dzâlik), sebagaimana firman Allâh :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/fiqih/mq07.gif" alt="" /><br />
<em>Dan mereka berkata : &#8220;Sekiranya kami mau mendengarkan dan menggunakan &#8216;aqal, tentu kami tidak termasuk penghuni-penghuni Neraka yang menyala-nyala ini&#8221;.</em><br />
(Surah Al-Mulk (67)  : 10)</p>
<p style="text-align: justify;">Ayat ini merupakan peringatan bagi setiap orang untuk memberdayakan telinga (pendengaran) dan &#8216;aqalnya untuk memahami agama, tidak dibenarkan bersikap taqlîd atau ikut-ikutan saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Prof. Dr. Buya Hamka (alm.) telah memberi peringatan yang tegas dalam masalah ini, beliau berkata : <em>&#8220;Kita dilarang Allâh &#8212; bersikap &#8212; menurut saja. Nurut menurut bahasa Jawa, dengan tidak menyelidiki sebab dan musabab&#8221;. Selanjutnya beliau berkata lagi : &#8220;Dalam hidup beragama amat diperlukan penggunaan pendengaran, penglihatan dan hati (&#8216;aqal) untuk menimbang. Sebab kadang-kadang dipercampur-adukkan orang &#8216;amalan yang sunnah dengan yang bid&#8217;ah. Bahkan kerapkali terjadi perkara yang sunnah tertimbun dan yang bid&#8217;ah muncul dan lebih masyhur. Maka wajiblah kita beragama dengan ilmu&#8221;.</em><br />
(Lihat Tafsîr Al-Azhar juz XV hal. 67)</p>
<p style="text-align: justify;">Jelaslah yang dimaksud Buya Hamka di sini, bahwa sudah seharusnya kita memberdayakan pendengaran, &#8216;aqal dan pikiran secara maksimal untuk betul-betul mempelajari dan meneliti &#8216;amalan-&#8217;amalan agama, jangan sampai kita terperosok ke dalam perbuatan bid&#8217;ah lantaran kita hanya ikut-ikutan saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam sebuah riwayat disebutkan :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/fiqih/mq08.gif" alt="" /><br />
<em>&#8220;Agama itu adalah &#8216;aqal; tidak ada &#8212; gunanya &#8212; agama bagi orang yang tidak  ada &#8216;aqal&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Maksudnya : Agama hanya bisa dimengerti, dipahami dan dilaksanakan dengan baik oleh orang yang memberdayakan &#8216;aqal dan pikirannya. Dengan kata-lain, agama tidak bermanfaat bagi orang tidak memberdayakan &#8216;aqal atau pikiran untuk memahaminya. Menolak hadits shahîh tanpa suatu alasan yang benar merupakan perbuatan yang tidak masuk &#8216;aqal dan tercela sepanjang sejarah; bahkan dapat membahayakan &#8216;aqidah orang yang bersangkutan, sebagaimana diucapkan oleh Al-Imâm Ahmad bin Hanbal (rahimahullâh) :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/fiqih/mq09.gif" alt="" /><br />
<em>&#8220;Siapa-saja yang menolak hadits Rasûlullâh saw., maka ia berada di tepi kehancuran&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Padahal dengan mempelajari, memahami dan meng&#8217;amalkan Al-Qur-ân dan Hadits kaum Muslimîn akan merasakan betapa mudahnya syari&#8217;at Islâm yang memang bersifat mudah dan memberi kemudahan, sebagaimana firman Allâh :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/fiqih/mq10.gif" alt="" /><br />
<em>&#8220;Allâh menghendaki kalian mudah, dan Dia tidak menghendaki kesulitan buat kalian&#8221;.</em><br />
(Surah Al-Baqarah (2)  : 185)</p>
<p style="text-align: justify;">Dan sabda Rasûlullâh saw. :<br />
<img src="http://www.asiisc.net/pic/fiqih/mq11.gif" alt="" /><br />
<em>&#8220;Sesungguhnya agama itu mudah&#8230;..&#8221;.</em><br />
(H.R. Al-Bukhârî. Lihat Fathul-Bârî juz I hal. 93)</p>
<p style="text-align: justify;">Melalui muqaddimah yang ringkas ini kami menghimbau seluruh kaum Muslimîn untuk benar-benar memberdayakan kemampuan &#8216;aqal dan pikiran untuk melakukan study Islâm, yaitu mengkaji, mempelajari serta memahami Al-Qur-ân dan Hadits secara serius dan sungguh-sungguh, selanjutnya meng&#8217;amal-kannya dalam kehidupan mereka sehari-hari sesuai dengan kemampuan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirul-kalâm semoga ulasan yang singkat ini memberi manfaat bagi saudara/i kaum Muslimîn.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.asiisc.net/fiqih-kontemporer/muqaddimah-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehkah seorang muslim atau muslimah masuk gereja ?</title>
		<link>http://www.asiisc.net/fiqih-kontemporer/bolehkah-seorang-muslim-atau-muslimah-masuk-gereja.html</link>
		<comments>http://www.asiisc.net/fiqih-kontemporer/bolehkah-seorang-muslim-atau-muslimah-masuk-gereja.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Feb 2009 17:24:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Debby Nasution</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIQIH KONTEMPORER]]></category>
		<category><![CDATA[masuk gereja]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.islam.rudytarigan.com/?p=155</guid>
		<description><![CDATA[Dalam Islâm tidak ada larangan memasuki gereja sekedar untuk melihat-lihat saja. Disebutkan dalam &#8220;As-Shahîhain&#8221; (dua kitab shahîh; yaitu Al-Bukhârî dan Muslim), bahwa Ummu Salamah dan Ummu Habîbah, dua orang shahabiyah (shahabat perempuan) yang ikut hijrah ke Habasyah (Ethiopia), pernah memasuki sebuah gereja yang ada di sana dan melihat patung-patung yang terdapat di dalamnya. Lalu hal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dalam Islâm tidak ada larangan memasuki gereja sekedar untuk melihat-lihat saja. Disebutkan dalam &#8220;As-Shahîhain&#8221; (dua kitab shahîh; yaitu Al-Bukhârî dan Muslim), bahwa Ummu Salamah dan Ummu Habîbah, dua orang shahabiyah (shahabat perempuan) yang ikut hijrah ke Habasyah (Ethiopia), pernah memasuki sebuah gereja yang ada di sana dan melihat patung-patung yang terdapat di dalamnya.</p>
<p style="line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana;"> Lalu hal itu mereka ceritakan kepada Rasûlullâh saw., maka Rasûlullâh saw. pun bersabda :</span></p>
<p><span style="font-size: 20pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;; color: black;" dir="rtl" lang="AR-SA">أُولئِكَ إِذَا مَاتَ فِيْهِمُ الرَّجُلُ الصَّالِحُ أَوِ الْعَبْدُ الصَّالِحُ ، بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا  وَ صَوَّرُوْا فِيْهِ تِلْكَ الصُّوَرَ ، أُولئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ </span></p>
<p><em>&#8220;Mereka &#8212; orang-orang Nasrani &#8212; itu, ketika ada di kalangan mereka seorang yang saleh yang wafat atau seorang ahli ibadah yang saleh yang wafat, mereka pun segera membangun tempat &#8216;ibadah di kuburannya dan membuat patung-patung orang-orang saleh itu. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluq di sisi Allâh&#8221;.</em><br />
(Lihat Fathul-Majîd Syarhu Kitâbut-Tauhîd)</p>
<p style="text-align: justify;">Ucapan Rasûlullâh saw. di atas menyebutkan buruknya perbuatan orang-orang Nasrani dan &#8216;aqidah (keyakinan) mereka. Dan ucapan Beliau itu sama-sekali tidak mengandung larangan untuk sekedar memasuki gereja.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Catatan :</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ummu Salamah binti Abû Umayyah adalah isteri dari Abû Salamah salah seorang shahabat besar. Ia dan suaminya ikut rombongan kaum Muslimîn yang pertama hijrah ke Habsyah di bawah pimpinan Ja&#8217;far bin Abû Thâlib (kakaknya &#8216;Alî bin Abû Thâlib). Kemudian ia dan suaminya kembali Makkah. Dan tidak lama setelah itu suaminya berangkat hijrah ke Madînah sedangkan ia ditahan oleh keluarganya di Makkah. Setahun kemudian ia berhasil melepaskan diri dan berangkat menyusul suaminya. Pada tahun ke 4 H. suaminya wafat di Madînah, dan ia pun dinikahi oleh Rasûlullâh saw.</p>
<p style="text-align: justify;">Ummu Habîbah binti Abû Sufyân adalah isteri dari &#8216;Abdullâh bin Jahsyin, yang juga ikut bersama suaminya dalam rombongan kaum Muslimîn yang hijrah ke Habasyah, lalu suaminya meninggal di sana dan ia dinikahkan oleh raja Habasyah dengan Rasûlullâh saw. (radhiyallâhu &#8216;anhumâ)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.asiisc.net/fiqih-kontemporer/bolehkah-seorang-muslim-atau-muslimah-masuk-gereja.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

