Topik| 'AQÎDAH

Siapa yg berpegang teguh pada Al-Quran tidak akan tersesat selamanya

Nabi saw bersabda: Absyiru Fa Ina Hadzal-Qur-ana Tharfuhu Biyadillahi Wa Tharfuhu Bi Aidikum. FaTamassaku Bihi Fa Innakum Lan Tahliku Wan Tadhillu Ba’dahu Abadan; (Bergembiralah kalian, karena Al-Quran ini ujungnya di tangan Allah, dan ujung yg satu di tangan kalian. Berpegang teguhlah dgn.nya, karena kalian tdk akan binasa dan tdk akan sesat setelah berpegang teguh dgn.nya). (HR Thabrani)

Ada 3 kesimpulan penting dari hadits yg luar-biasa ini:

(1) Perintah utk bergembira dgn Al-Quran, karena ia merupakan satu2nya tali penghubung dgn Allah.

(2) Perintah utk berpegang teguh dgn.nya (Al-Quran), bagaimana caranya? Insya Allah akan kita bahas.

(3) Jaminan dari Nabi saw, bahwa siapa-pun yg berpegang teguh dgn Al-Quran tdk akan binasa dan tdk akan tersesat selamanya.

Perintah utk bergembira dgn Al-Quran menunjukkan bhw Al-Quran merupakan merupakan anugerah Allah yg luar-biasa bagi manusia,sebagaimana disebutkan dlm surah Yunus (10) ayat 57: Ya Ayyuhan-Nasu Qad Ja-at Kum Mau’izhatun Min Rabbikum Wa Syifa-un Lima Fish-Shudur Wa Hudan Wa Rahmatun Lil- Mu’minin.   Artinya: (Wahai manusia, sungguh telah datang pelajaran (Al-Quran) dari Rabb kalian, dan obat bagi apa saja (penyakit) di dlm hati, dan sebagai petunjuk serta rahmat bagi org2 mu’min).

Ayat ini menegaskan bhw Al-Quran adalah pelajaran yg sangat berharga yg datang dari Allah dan amat dibutuhkan oleh manusia, dan juga obat mujarab bagi seluruh penyakit batin,  serta pedoman hidup dan rahmat Allah bagi org2 mu’min.

Juga pada ayat ke 58 (surah Yunus) Allah berfirman:  Qul Bi Fadhlillahi Wa Bi Rahmatihi Fa Bidzalika Fal-Yafrahu,Huwa Khairun Mimma Yajma’un;  (Artinya: Katakanlah (Muhamad)  Dgn karunia Allah dan rahmat-Nya (yaitu Al-Quran), hendaklah dgn itu merrka bergembira. Itu (yaitu Al-Quran) lebih baik dari apa saja (harta) yg mereka kumpulkan.

Sehubungan dgn inilah Nabi saw bersabda: Al-Quranu Ghinan Wa La Ghinan Dunahu Wa La Faqra Ba’dahu;(Al-Quran itu adalah kekayaan, tdk ada kekayaan selain Al-Quran dan tdk ada kefaqiran setelahnya (HR Thabrani).  Hadits ini menegaskan bahwa tdk ada kekayaan yg bisa menandingi Al-Quran dan bagi org yang telah memiliki pemahaman Al-Quran tdk akan tertekan oleh kebutuhan lain.

Nabi saw memerintahkan utk berpegang teguh dgn Al-Quran dlm sabdanya: Fa Tamassaku Bihi (Maka berpegang teguhlah kalian dgn.nya (Al-Quran). Bagaimana caranya? Menurut para ulama, ada dua syarat utama yg harus dipenuhi utk berpegang teguh dgn Al-Quran.

Pertama: Tafsir.  MaknaTafsir ialah: Menyingkap (Al-Kasyfu), Keterangan yg jelas (Al-Bayanu), Penjelasan (Al-Idhahu) dan informasi yg luas (Asy-Syarhu).  Sa’id bin Jubair (seorg ulama terkemuka dari kalangan tabi’in) pernah berkata: Man Qara-al-Qurana Tsumma Lam Yufassirhu Kal-A’ma aw Kal-A’rabiy; (Siapa-saja yg membaca Al-Quran namun ia tdk menafsirkannya, maka ia seperti org buta atau org pedalaman).

Makna Tafsir ialah :

- Al-Kasyfu (Menyingkap)

- Al-Bayanu (Keterangan yg jelas)

- Al-Idhahu (Penjelasan yg mendalam)

- Asy-Syarhu (Penjelasan yg luas).

Adapun dasar ilmu tafsir ialah, penafsiran dgn bahasa (yaitu bahasa ‘Arab), penafsiran dgn sunnah (hadits yg shahih), penafsiran ayat dgn ayat dan penafsiran berdasarkan asbabun-nuzul (sejarah atau historis turunnya ayat).

Jadi hanya dgn Tafsir atau mempelajari tafsir Al-Quran kita dapat memahami kandungan Al-Quran. Dan ini merupakan langkah awal utk berpegang teguh dgn Al-Quran. Adapun langkah berikutnya adalah “Tadabbur” yg arti singkatnya “Menghayati”.

Adapun makna Tadabbur Al-Quran menurut para ‘ulama ialah:  Tafahhumu Ma’na Alfazhihi Wa Tafakkuru Fi Ma Tadullu ‘Alaihi Minal-Isyarat Wat-Tanbihat (Memahami makna kata-demi kata/lafazh2 dari ayat2nya dan merenungkan apa saja yg ditunjukkan olehnya (ayat),baik berupa isyarat maupun peringatan). Inilah tahap kedua dlm pelaksanaan berpegang teguh dgn Al-Quran.

Adapun tujuan Tadabbur Al-Quran menurut para ‘ulama ialah: Liyat-Ta’izhal-Qalbu Wa Takhsya’an-Nafsu Wa Yansyarihash-Shadru Lil-’Amalish-Shalih; (Agar hati mendapat pelajaran/pencerahan, nafsu menjadi tunduk dan hati pun menjadi lapang utk melakukan berbagai amal/perbuatan yg positif).

Jadi, jelaslah bhw Tafsir dan Tadabbur merupakan syarat mutlak bagi setiap muslim/muslimah dlm berpegang teguh dgn Al-Quran. Tafsir dan Tadabbur bagaikan dua sisi mata uang yg tak terpisahkan.  Allah swt berfirman: Kitabun Anzalnahu Ilaika Mubarakun Liyaddabbaru Ayatihi Wa Liyatadzakkara Ulul-Albab, yang artinya:

Adapun Kitab (Al-Quran) yg Kami turunkan kepadamu (Muhammad) yang diberkahi, ialah agar mrk mentadabbur (menghayati) ayat2nya, dan agar org2 yg berakal mengambil pelajaran (Surah Shad ayat 29).

Imam Ibnul-Qayyim mengatakan: Tidak ada sesuatu pun yg lebih bermanfaat bagi hati selain membaca Al-Quran dgn disertai Tadabbur.

Bagaimana cara mentadabbur yg benar? Imam Ibnul-Qayyim mengatakan: Jika seorg membaca Al-Quran dgn penuh perhatian lalu ia menjumpai satu ayat yg terasa sangat ia butuhkan utk mengobati hatinya, maka hendaklah ia ulang2 membaca satu ayat tsb sebanyak 100X, atau sepanjang malam.

Lalu Imam Ibnul-Qayyim menegaskan: Membaca satu ayat dgn penuh perhatian (tadabbur) dan pemahaman jauh lebih baik daripada membaca 30 juz (khatam) namun tanpa disertai penghayatan (tadabbur) dan pemahaman, dan satu ayat itu pun akan sangat bermanfaat bagi kesejukan hati, kokohnya iman dan merasakan manisnya Al-Quran. (Min Ajli Tadabburil-Quran hal.7)

‎Me-ngulang2 satu ayat dlm rangka tadabbur merupakan sunnah Nabi saw sebagaimana disebutkan dlm hadits dari Abu Dzar r.a.:  Qaman-Nabiyyu saw Bi Ayatin Hatta Ashbaha Yuraddiduha Wal-Ayah: In Tu’adzdzibhum Fa Innahum ‘Ibaduka Wa In Taghfirlahum Fa Innaka Antal-’Azizul-Hakim; artinya:

‎Nabi saw pernah shalat malam sampai wkt shubuh dgn me-ngulang2 satu ayat, yaitu ayat ke 118 dari surah Al-Maidah,yg artinya: Jika Engkau menyiksa mrk sesungguhnya mrk itu hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mrk, sesunguhnya Engkau Maha Gagah dan Maha Bijaksana .(HR Ahmad dan An-Nasa-i. Dishahihkan oleh Al-’Iraqi, Adz-Dzahabi dan Al-Albani)

‎Mentadabbur satu ayat juga dilakukan oleh Sa’id bin Jubair salah seorg ‘ulama terkemuka dari kalangan tabi’in rahimahullah. Disebutkan bhw beliau pernah melakukan shalat malam mulai dari awal ‘Isya sampai wkt sahur, dan dalam shalat malamnya itu beliau hanya meng-ulang2 satu ayat yaitu:  Idzas-Sama-un Fatharat. (Surah Infithar ayat 1). (Lihat Min Ajli Tadabburil-Quran hal. 51).

‎Demikian pula dgn seorg tabi’in terkemuka lainnya, yaitu Al-Hasan Al-Bishri, beliau pun pernah meng-ulang2 satu ayat sepanjang malam hingga shubuh. Yaitu ayat: Wa In Ta’uddu Ni’matallahi La Tuhshuha (Surah An-Nahl ayat 18). Ketika hal itu ditanyakan, ia pun menjawab: Berkedipnya mata kita adalah krn nikmat dari Allah, dan nikmat2 Alah yg tdk kita sadari lebih banyak lagi. (Min Ajli Tadabburil-Quran hal.51-52).

‎Wa In Ta’uddu Ni’matallahi La Tuhshuha, artinya:  Jika kalian menghitung nikmat Allah, nisvcaya kalian tdk bisa menghitungnya (Surah An-Nahl ayat 18). Ar-Razi mengatakan bhw ayat ini menunjukkan betapa limpahan nikmat Allah berada diluar batas jangkauan pikiran manusia. (Next)

‎Dan Al-Hasan Al-Bishri mentadabbur ayat ini sepanjang malam dgn meng-ulang2nya, utk membangkitkan rasa syukurnya kpd Allah. Itu terlihat dari pernyataannya:  Berkedipnya mata kita adalah krn nikmat dari Allah, dan nikmat2 Alah yg tdk kita sadari lebih banyak lagi.

Ditulis pada 21 March 2011

1 Comments For This Post

  1. Witri says:

    Alhamdulillah , ada juga pembahasan lengkapnya di sini ya bi :)

Tinggalkan Pesan

DVD TUTORIAL

VIDEO KEGIATAN ASIISC

Waktu Sholat

    Waktu Sholat hari ini di
    ....

Galery Kegiatan

Jadwal dan Kegiatan

UPDATE :
Pengajian Mingguan:
- Sabtu, Jam 10.00 - selesai (Lokasi: Sekolah Al-Ikhlash, Jl. Raya Cipete III No. 12-13 Jakarta Selatan, DKI Jakarta)

- Minggu, Jam 08.00 - selesai (Sawangan Permai Blok D14 No. 10, Rt.05 Rw.09, Kel. Pasirputih, Kec. Sawangan, Depok.)